Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi. (Foto: Unsplash.com)
Dream - Semua warga dunia berharap pandemi Covid-19 akan segera berakhir. Banyak yang memperkirakan wabah dari virus corona baru ini kemungkinan mulai bisa dikendalikan pada akhir April 2020. Namun perkiraan itu masih bisa berubah karena harus dilihat apakah virus corona yang menyebabkan wabah Covid-19 akan kembali pada musim semi berikutnya.
Hal itu diungkapkan ahli penyakit pernapasan China, Zhong Nanshan, dalam sebuah wawancara dengan siaran Televisi Shenzhen pada Rabu malam, 1 April 2020.
" Dengan setiap negara mengambil langkah-langkah agresif dan efektif (melakukan pencegahan), saya percaya pandemi ini dapat dikendalikan. Perkiraan saya sekitar akhir April," kata pria yang juga jadi kepala penasihat penanganan wabah di China.
" Setelah akhir April, tidak bisa dipastikan apakah akan ada lagi wabah virus di musim semi mendatang atau itu akan menghilang bersama cuaca yang lebih hangat ... karena aktivitas virus pasti akan berkurang pada suhu yang lebih tinggi," tambahnya.
Zhong tidak mengatakan bagaimana dia bisa yakin dengan ramalannya. Tetapi para ahli lainnya juga memiliki dugaan waktu yang sama.
Mereka membuat prediksi berdasarkan pada perkembangan terkini di Amerika Serikat dan Eropa, yang merupakan pusat krisis Covid-19 baru saat ini.
Mike Ryan, direktur program kedaruratan kesehatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan minggu ini bahwa ada tanda-tanda wabah Covid-19 menjadi stabil di Eropa ketika lockdown yang diberlakukan bulan lalu mulai membuahkan hasil.
Di AS, Institute of Health Metrics and Evaluation di Washington University mengatakan bahwa rumah sakit cenderung menghadapi puncak pasien Covid-19 sekitar 20 April.
Dari hampir 1 juta infeksi yang dikonfirmasi di seluruh dunia, lebih dari 215.000 berada di Amerika Serikat, menurut angka terbaru dari Johns Hopkins University.
Sementara itu, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa mengatakan ada lebih dari 421.000 kasus terkonfirmasi di seluruh Uni Eropa dan Inggris, dengan Italia dan Spanyol menyumbang hampir setengahnya.
Zhong mengatakan bahwa pemerintah di seluruh dunia harus bekerja sama untuk memerangi pandemi Covid-19.
" Negara-negara, termasuk AS, telah mengadopsi langkah-langkah agresif dan efektif ... [dan] langkah paling primitif dan efektif adalah menyuruh orang tinggal di rumah," katanya.
Sebuah studi oleh Imperial College London yang dirilis minggu ini memperkirakan bahwa 11 negara Eropa yang telah memberlakukan social distancing berhasil mengurangi penyebaran virus corona dan mencegah sebanyak 59.000 kematian.
(Sumber: SCMP)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya