Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Temuan Oarfish Di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan (Foto: Instagram)
Dream - Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, memberikan penjelasan mengenai kemunculan oarfish di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan.
" Hasil kajian statistik terbaru mengungkap jenis ikan laut seperti oarfish yang muncul di perairan dangkal tidak berarti bahwa gempa akan segera terjadi," kata Daryono, dilaporkan Liputan6.com, Selasa 10 Desember 2019.
Daryono mengatakan oarfish menjadi legenda yang dikaitkan dengan kemunculan gempa di Jepang. Di sana, oarfish dianggap sebagai ikan yang membawa pesan dari dasar laut.
" Tampaknya tanpa ada penelitian ilmiah, maka tidak akan pernah diketahui apakah cerita rakyat tersebut fakta atau hanya legenda saja," kata dia.
Majalah ilmiah bergengsi Bulletin of the Seismological Society of America (BSSA) pernah mempublikasikan fenomena kemunculan ikan laut dalam dan kaitannya dengan peristiwa gempa besar. Hasil kajian ini ternyata bertentangan dengan cerita rakyat yang berkembang di Jepang.
Daryono menyebut para peneliti dalam mengkaji hubungan antara kemunculan ikan laut dalam dan gempa besar di Jepang menggunakan data yang cukup lama. Dalam kajian tersebut hanya ditemukan satu peristiwa yang dapat dikorelasikan secara masuk akal, dari 336 kemunculan ikan dan 221 peristiwa gempa bumi.
" Berdasarkan penelitian tersebut sudah pasti bukan pertanda tsunami," kata dia.
Menurut teori oseanografi, kemunculan biota laut dalam ke permukaan hingga terbawa ke pesisir berkaitan dengan fenomena upwelling.
Upwelling adalah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan. Dalam fenomena upwelling biasanya ikan yang muncul dalam jumlah banyak.
Jika hanya satu atau dua ekor ikan, beberapa paper menyebutkan Oarfish juga memiliki kebiasaan mengambang di dekat permukaan air. Kebiasaan itu muncul ketika mereka sedang sakit atau sekarat.
" Faktor lainnya terbawa arus," kata Daryono menambahkan.
Sumber: Liputan6.com/Ahmad Apriyono
Dream - Kabar penangkapan oarfish (Regalecus glesne) menjadi topik di sejumlah akun Instagram. Beberapa akun dengan pengikut lebih dari 200 ribu membagikan foto ikan berbentuk pipih dan memanjang ini.
Dua akun Instagram @makassar_iinfo dan @_infocegatansolo mengunggah foto beberapa orang yang menangkap ikan tersebut. Tidak ada informasi rinci mengenai kapan ikan itu dipancing.
Akun @makassar_iinfo membagikan informasi bahwa unggahan tersebut dibuat dari akun Facebook irma Yanti irma. Saat Dream.co.id telusuri akun tersebut sudah tidak ada.
Tetapi, akun tersebut menyebut ikan tersebut dipancing di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar.
Dilaporkan Selayar Pos, Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rahmania, mengimbau warga tak membesar-besarkan kabar penangkapan ikan ini. Sebab, kata dia, kabar tersebut dapat memicu keresahan warga.
Rahmania juga menyebut, lokasi penangkapan ikan tersebut tidak jelas.
Oarfish memang kerap dihubungkan dengan tragedi gempa. Mitos mengenai ikan ini muncul di Jepang.
Di Negeri Matahari Terbit, oarfish punya julukan sebagai `utusan dari istana raja naga`. Meski demikian mitos mengenai ikan ini dibantah sejumlah ilmuwan.
Kemunculan ikan perairan dalam ini diduga karena murni terbawa arus.

Oarfish (Foto: Independent.co.uk)
Dream - Penemuan seekor ikan yang terlilit jaring nelayan di lepas pantai Imizu, di prefektur Toyama, Jepang, membuat masyarakat dan media sosial Negeri Matahari Terbit itu gelisah.
Ikan berukuran hampir 4 meter yang dikenal dengan nama oarfish itu dipercaya sebagai pertanda buruk.
Masyarakat Jepang meyakini kemunculan ikan oarfish menjadi pertanda akan datangnya gempa bumi dan tsunami.
Melansir independent.co.uk, oarfish ditemukan dalam keadaan mati pada senin 28 Januari lalu.
Masyarakat sekitar memutuskan untuk tetap membawa ikan sepanjang 4 meter itu ke akuarium Uozu terdekat untuk dipelajari.
Spesies ini dicirikan oleh tubuhnya yang keperakan, panjang, dan bersirip merah.
Oarfish sendiri biasanya menghuni perairan laut dalam sehingga jarang terlihat di permukaan. Tak heran jika kemunculannya di permukaan membuat masyarakat Jepang terkejut.
Warga meyakini jika sampai ikan oarfish terlihat di permukaan pertanda akan datang bencana alam.
Reputasi ikan dengan nama lokal ryugu no tukai (utusan dari istana raja naga) sebagai indikator malapetaka kian menjadi dikala 10 ekor ikan ini terdampar di sepanjang garis pantai pada 2010 lalu.
Pada Maret 2011, gempa berkekuatan 9 skala richter menerjang timur laut Jepang dan memicu tsunami besar yang menewaskan hampir 19 ribu orang. Terjangan tsunami dan goncangan gempa juga menghancurkan pembangkit nuklir Fukushima.
Dengan bayang-bayang memori tersebut, wajar saja jika masyarakat Jepang tiba-tiba khawatir.
Sementara jika menggunakan pendekatan ilmiah, ikan laut dalam yang naik ke permukaan mungkin bereaksi atas pergerakan garis patahan seismik yang tidak biasa sebelum gempa bumi.
Hiroyuki Motomura, seorang professor ichthyololgy di Kagoshima University, punya penjelasan yang lebih inlimah terkait penemuan ikan oarfish baru-baru ini.
“ Saya punya sekitar 20 spesimen ikan ini dalam koleksi saya sehingga ia bukan spesies yang sangat langka,” katanya, seperti dilaporkan SCMP.
Tapi, tambahnya, dia percaya bahwa ikan ini cenderung naik ke permukaan ketika kondisi fisik mereka sedang buruk.
“ Terbawa arus air, itulah sebabnya mereka begitu sering mati ketika ditemukan,” sambungnya.
Dia juga menambahkan bahwa tautan ikan ini dengan aktivitas seismik telah terjadi selama bertahun-tahun.
“ Tapi tidak ada bukti ilmiah tentang hubungan itu, jadi orang-orang tidak perlu khawatir,” ujarnya, mantap.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya