Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Indonesia dalam dua tahun ke depan menghadapi pertaruhan besar untuk membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul. Kegagalan memanfaatkan masa ini akan membuat Indonesia kesulitan memanfaatkan bonus demografi yang berlangsung pada 2030-2035 mendatang.
Pernyataan tersebut disampaikan Presiden Joko Widodo saat menyampaikan sambutan Sidang Senat Terbuka Dies Natalies ke-46 Universitas Sebelas Maret di Surakarta, Jumat, 11 Maret 2022.
" Kita berani berubah ndak dalam dua tahun ini? Kalau ndak, nanti di dalam bonus demografi 2030-2035, habis kita kalau kita enggak cepat berubah," ujar Jokowi.
Menurut Presiden perubahan dunia yang sangat cepat membuat pemerintah habis-habisan membangun dan mengubah SDM Indonesia akan bisa menjadi lebih unggul.
Mengibaratkan sebuah kapal besar yang sulit berbelok karena ukurannya, Presiden mengatakan perubahan akan semakin sulit dilakukan jika SDM tidak cepat berubah.
" Nah, kapal besar ini kalau mau mengubah itu juga pelan-pelan, padahal yang dibutuhkan adalah kecepatan. Kalau kapalnya masih kecil, belok langsung gampang banget," ujarnya
Tak hanya negara, Presiden mengingatkan perubahan cepat juga harus dilakukan lembaga pendidikan tinggi, termasuk universitas, agar bisa lebih lincah dan cepat belajar dengan perubahan-perubahan yang ada.
Jokowi mengaku sudah membuat kalkulasi dengan para menteri terkait waktu yang dibutuhkan oleh Indonesia untuk segera berbenah. Hasilnya diketahui Indonesia hanya memiliki kesempatan berubah dalam dua tahun ke depan untuk menyambut munculnya bonus demografinya di tahun 2030-2035.
Mengantisipasi hal tersebut, Indonesia membutuhkan SDM digital (digital talent) yang mumpuni seperti sudah banyak dilakukan sejumlah negara di dunia. pengembangan digital talent ini menjadi penting karena berkembangnya AI (artificial intelligence), cloud computing, digital design, digital marketing, hingga blockchain.
" Barang ini harus kita miliki SDM-SDM itu, sehingga saya sangat setuju yang sering disampaikan oleh Mendikbud, Kampus Merdeka. Mahasiswa bisa belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja, kampus yang mengarahkan," ujar Presiden yang mengaku senang dengan perubahan sistem pendidikan yang mengizinkan mahasiswa belajar di sebuah industri.
(Sah, Setkab.go.id)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya