Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Shutterstock.com
Dream - Kamu suka mengisap shisha bareng? Mulai sekarang berhati-hatilah. Sebab, bisa jadi shiha yang kalian pakai beramai-ramai menjadi sarana penularan Covid-19.
Dengarlah kisah di desa Shadipur, distrik The Jind, di Haryana, India. Sebanyak 24 warganya positif Covid-19 setelah bareng-bareng mengisap shihsa.
Penularan itu terjadi setelah salah satu warga menghadiri acara kawinan di wilayah Gurugram pada 8 Juli 2020. Setelah pulang, pria itu mengisap shisha bersama 23 orang lain di kampungnya.
Namun nahas, warga yang menghadiri pernikahan itu ternyata positif Covid-19 saat dites. Sehingga 23 orang lain yang melakukan kontak erat selama mengisap shisha juga diperiksa. Hasilnya, semua positif Covid-19.
Karena kasus itu, kampung Shadipur dikarantina. Desa tersebut juga melarang aktivitas mengisap shisha. Pengurus desa membuat tim untuk mengontrol shisha.
" Ketika kasus Covid-19 tiba-tiba meningkat di desa, kami menemukan shisha sebagai sumber utama penularan virus," kata Gopal Goyal, pejabat senior rumah sakit sekitar, dikutip dari indiatimes.com, Kamis 6 Agustus 2020.
" Mengisap shisha adalah praktik umum di desa-desa dan harus dihindari untuk mengendalikan wabah Covid-19," tambah dia.
Dream - Menurut Airfinity, perusahaan analisis statistik yang berbasis di London, hanya negara-negara kaya saja yang kemungkinan bisa memakai vaksin Covid-19, jika tersedia dalam waktu dekat ini.
Hal itu disebabkan karena negara-negara kaya ini sudah memesan vaksin Covid-19 terlebih dahulu sebanyak lebih dari satu miliar dosis.
Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan negara-negara miskin yang terpaksa masuk dalam daftar panjang untuk mendapatkan vaksin dalam upaya mengatasi Covid-19.
Langkah negara-negara maju dan kaya ini dipelopori oleh Amerika Serikat dan Inggris. Mereka telah memesan vaksin Covid-19 dari Sanofi dan mitranya GlaxoSmithKline.
Negara Jepang juga melakukan hal yang sama. Negeri Sakura ini telah memastikan ketersediaan vaksin Covid-19 setelah melakukan kesepakatan dengan Pfizer.
Selain itu, negara-negara Uni Eropa juga sangat agresif dalam mendapatkannya, bahkan sebelum mereka mengetahui apakah vaksin Covid-19 tersebut bisa bekerja atau tidak.
Jika digabungkan, maka negara-negara seperti AS, Inggris, Uni Eropa, dan Jepang sejauh ini telah mengamankan sekitar 1,3 miliar dosis vaksin Covid-19.
Meskipun sejumlah negara lainnya dan organisasi internasional berjanji untuk membuat vaksin lebih terjangkau dan bisa diakses oleh semua orang, namun mereka akan kewalahan untuk memenuhi permintaan dunia dengan penduduk sekitar 7,8 miliar orang.
Justru kemungkinannya adalah negara-negara maju dan kaya akan memonopoli pasokan vaksin Covid-19.
Skenario yang dikhawatirkan sejumlah pakar kesehatan dan negara-negara miskin ini pernah terjadi ketika dunia menghadapi pandemi flu babi pada 2009 lalu.
" Meski optimis tentang kemajuan ilmu pengetahuan (mengenai vaksin Covid-19), (dosisnya) masih belum cukup untuk seluruh dunia," kata Rasmus Bech Hansen, kepala eksekutif Airfinity.
" Apalagi ada satu hal penting yang perlu diperhatikan, yaitu sebagian besar vaksin memerlukan dua dosis (agar bekerja dengan baik)," tambah Hansen.
Seperti diketahui, penelitian vaksin Covid-19 telah sampai pada fase terakhir sebelum akhirnya bisa diproduksi dan digunakan untuk melawan pandemi mematikan ini.
Namun para pengembang vaksin Covid-19 seperti University of Oxford dan mitranya AstraZeneca, serta Pfizer dan BioNTech, akan menghadapi masalah baru.
Menurut prediksi Airfinity, para pengembang ini kemungkinan tidak akan bisa memenuhi kebutuhan vaksin sebesar 1 miliar dosis sebelum kuartal pertama tahun 2022.
Karena itu, memperbesar kapasitas produksi vaksin di seluruh dunia merupakan kunci utama untuk mengatasi dilema ini. Beberapa perusahaan farmasi sudah membuat rancangan mengenai hal itu.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Coalition for Epidemic Preparedness Innovations, Gavi, dan Vaccine Alliance telah bekerja sama untuk mempermudah akses terhadap vaksin Covid-19 bagi semua negara di dunia.
Pada bulan Juni lalu, mereka mengungkapkan rencana untuk mengucurkan dana sebesar US$18 miliar sebagai langkah untuk mengamankan pasokan vaksin Covid-19 sebanyak 2 miliar dosis hingga akhir 2021.
Inisiatif yang dikenal sebagai Covax itu akan memberi kesempatan kepada negara-negara miskin untuk mendapatkan akses keuangan terbatas untuk mendapatkan vaksin Covid-19 yang mungkin tidak terjangkau.
" Sebanyak 78 negara telah mengungkapkan keinginan mereka untuk bergabung dalam program ini. Selain itu, ada sekitar 90 negara dengan pendapatan rendah dan menengah akan mendapatkan akses vaksin Covid-19 melalui program yang diketuai oleh Gavi ini," bunyi pernyataan Covax.
Sumber: Iris Hexaminer
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya