Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Mahendra Siregar Didapuk Jadi Wakil Menteri Luar Negeri Kabinet Indonesia Maju. (Foto: Embassyofindonesia.org)
Dream – Mahendra Siregar menjadi salah satu kandidat wakil menteri di Kabinet Indonesia Maju. Mahendra akan menjabat sebagai wakil menteri luar negeri.
Pada Jumat pagi 25 Oktober 2019, dia menyambangi Istana Negara, Jakarta, dengan kemeja putih dan celana hitam. Setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Mahendra membeberkan isi pertemuannya.
Kepada media, eks wakil menteri perdagangan itu mengatakan Presiden Jokowi memintanya untuk meningkatkan kualitas promosi investasi perdagangan.
“ Kedua, secara khusus Bapak Presiden memberikan mandat kepada kami untuk berkoordinasi hal-hal tadi yang ada di dalam kerja sama dengan Kementerian Perdagangan, dengan BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) untuk bisa lebih cepat bergerak, sehingga tidak terjerat proses birokrasi,” kata Mahendra dari Live Streaming Kompas TV.
Ada tiga hal, lanjut Mahendra, yang diamanatkan Jokowi untuk dia. Pertama, perang dagang global. Dikatakan, saat ini terjadi perang dagang antara Amerika Serikat dengan Tiongkok. Jokowi meminta kondisi ini tidak dipandang sebagai tantangan, tetapi peluang.
“ Bahkan, beliau setuju untuk kami segera merampungkan apa yang sekarang dalam proses penyelesaian, yang namanya GST (good and service tax) review dengan Amerika Serikat. Harus selesai dalam satu bulan,” kata dia.
Karena, lanjut Mahendra, hal ini bisa meningkatkan nilai perdagangan Amerika Serikat dua kali lipat, termasuk peningkatan ekspor senilai US$10 miliar-US$20 miliar dalam lima tahun ke depan,” kata mantan Dubes RI untuk Amerika Serikat ini.
Hal kedua yang dibahas Jokowi dengan Mahendra adalah menjaga dan mengamankan keberlanjutkan industri sawit Indonesia. Sawit merupakan komoditas yang penting bagi Indonesia.
“ Taruhannya besar. Ekspor kita harus bisa mencapai US$25 miliar maupun penghematan yang bisa dilakukan US$10 miliar apabila kita melakukan proses turunan dan konsumsi yang baik,” kata dia.
Ketiga, Mahendra juga diminta untuk memposisikan Indonesia yang memiliki pasar besar untuk menarik keuntungan yang baik dan tidak begitu saja berhubungan dengan pihak lain.
Dikatakan bahwa pasar yang besar harus menjadi bagian dari politik luar negeri Indonesia.
“ Untuk melakukan hal-hal tadi, secara spesifik, Bapak Presiden mengatakan beliaulah yang akan mengkoordinasikan langsung, jadi di bawah koordinasi Bapak Presiden. Dalam konteks menteri dan kementerian yang terlibat, ada di bawah Kemenko Perekonomian dan Kemenko Kemaritiman dan Investasi,” kata dia.
Mahendra menegaskan Jokowi memberikannya waktu setahun untuk mencapai semua yang diminta Presiden Jokowi.
Dikutip dari Wikipedia, Mahendra Siregar lahir di Jakarta pada 1962. Dia adalah ekonom Indonesia yang pernah menduduki beberapa posisi strategis di pemerintahan.
Lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pernah menjabat sebagai wakil menteri perdagangan Indonesia dan wakil menteri keuangan Indonesia. Mahendra juga menjadi kepala BKPM pada 2013—2014.
Selanjutnya, Mahendra juga pernah berkarier di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2001 menjadi asisten khusus Menteri Koordinator Perekonomian, Dorodjatun Kuntjoro Jakti.
Lulusan magister ekonomi dari Monash University, Amerika Serikat ini juga pernah menjadi deputi menko perekonomian bidang kerja sama ekonomi dan pembiayaan internasional dari 2005—2009.
Tercatat, Mahendra pernah menjadi anak buah Aburizal Bakrie, Boediono, dan Sri Mulyani Indrawati di Kemenko Perekonomian.
Di perbankan, Mahendra pernah menempati posisi sebagai direktur utama pada Indonesia Eximbank.
Ia juga pernah menjabat komisaris beberapa perusahaan yaitu PT Dirgantara Indonesia (2003–2008) dan PT Aneka Tambang (2008–2009). (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya