Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Juru Bicara Pemerintah Untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto
Dream - Juru bicara pemerintah mengenai Covid-19, Achmad Yurianto menyebut Wisma Atlet, yang dijadikan sebagai rumah sakit isolasi, difungsikan untuk mengurangi beban rumah sakit rujukan.
" Keberadaan wisma atlet sebagai barier awal untuk mengurangi beban RS rujukan, ada Sulianti Saroso, ada Persahabatan," kata Yuri, Selasa, 24 Maret 2020.
Hingga saat ini, di Wisma Atlet sudah ada 102 kunjungan dari pasien Covid-19. Sebanyak 71 diantaranya mendapatkan perawatan di Wisma Atlet.
" 31 (orang) yang kemudian tidak perlu dirawat secara umum dalam kondisi sakit ringan sedang," kata dia.
Sementara itu, ada dua orang pasien Covid-19, yang dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) karena memiliki gejala comorbid, penyakit lain yang menyertai.
Yuri mengatakan, merujuk ke Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Kesehatan, ada tiga tahapan karantina.
Diantaranya yaitu, yaitu karantina perorangan. Karantina mandiri ini bisa dilakukan oleh orang yang mengalami tanpa keluhan atau gejala ringan sampai sedang.
" Hampir 80 persen kasus yang ada dalam keluhan gejala ringan sampai sedang, isolasi di rumah sudah," kata dia.
Pasien yang berada di rumah sakit merupakan pasien yang tidak bisa mengisolasi diri. Pasien ini butuh, layanan monitoring intensif dari tim kesehatan.
" Misalnya pada keluhan yang sedang atau dengan comorbid yang menyertai," ucap dia.
Dream - Jokowi menjelaskan alasan tak memberlakukan lockdown atau karantina wilayah untuk mencegah penyebaran virus corona baru, Covid-19. Dia menyebut setiap negara punya karakter dan kedisiplinan yang berbeda-beda.
" Perlu saya sampaikan setiap negara memiliki karakter berbeda-beda, budaya berbeda-beda, kedisiplinan yang berbeda-beda. Oleh itu kita tidak memilih jalan itu (lockdown)" kata Jokowi, Selasa 24 Maret 2020.
Presiden bernama lengkap Joko Widodo itu mengaku telah mengalkulasi dan menganalisa setiap negara yang mengambil kebijakan lockdown. Menurut dia, penerapan sistem menjaga jarak antarmanusia adalah langkah paling tepat yang bisa diterapkan di Indonesia.
" Jadi yang paling pas di negara kita physical distancing, menjaga jarak aman," kata dia. Dia yakin, dengan menjaga jarak antar manusia, sebaran Covid-19 bisa dihindari.
Jokowi meminta semua pihak betul-betul disiplin terhadap kebijakan social distancing. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan belajar, bekerja, dan beribadah dari rumah untuk menekan penyebaran corona.
" Saya baca sebuah berita, sudah diisolasi membantu tetangganya yang mau hajatan, ada yang sudah diisiolasi masih belanja di pasar. Kedisplinan untuk mengisolasi yang penting," kata Jokowi.
Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham
Dream - Tim Pakar Gugus Tugas Penanganan Covid-19, Prof Wiku Adisasmito menjelaskan alasan mengenai keputusan pemerintah belum mengambil karantina wilayah. Wiku menyebut, karantina wilayah berimplikasi pada tiga sektor penting.
" Lockdown belum diambil pemerintah karena membatasi betulan suatu wilayah atau daerah, berimplikasi ekonomi, sosial, dan keamanan," kata Wiku, Rabu, 18 Maret 2020.
Wiku menyebut, kebijakan lockdown akan berdampak pada warga yang mengandalkan upah harian. Dengan lockdown aktivitas ekonomi akan berjalan sulit.
Untuk itu, saat ini, kata dia, solusi yang paling efisien yaitu menjaga jarak atau social distancing.
" Social distancing paling efektif," ucap dia.
Wiku menyebut, sebelum mengarah ke lockdown, masyarakat bisa menjaga kesehatan dengan karantina mandiri. Setelah itu, karantina rumah, dan yang terakhir karantina di rumah sakit.
Selain itu, dia menyebut, ada lima langkah pencegahan yang bisa dilakukan untuk menghindari wabah virus corona ini.
" Pertama, jaga jarak. Kedua, dilarang jabat tangan. Tiga, cuci tangan. Empat, hindari kerumunan. Lima, pakai masker di tempat ramai," ucap dia.
Wiku juga menyarankan agar masyarakat menjaga pola hidup sehat dan berolahraga untuk meningkatkan daya tahan tubuhnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya