Dokter Paru ke Pemerintah: Jangan Lagi Beli Rapid Test Serologi

Reporter : Mutia Nugraheni
Rabu, 25 Maret 2020 12:50
Dokter Paru ke Pemerintah: Jangan Lagi Beli Rapid Test Serologi
Alat tersebut ternyata tidak efektif dan bukan untuk diagnosis.

Dream - Kepanikan terus terjadi di Indonesia terkait penularan Covid-19 di berbagai provinsi daerah. Panic buying pun tak terelakkan, seperti yang baru saja terjadi di banyak e-commerce. Dijual test kit Covid-19 dengan harga yang sangat mahal.

Lalu efektifkah alat tes tersebut? Erlina Burhan, dokter spesialis paru-paru RS Persahabatan mengungkap faktanya. Ternyata alat yang dibeli pemerintah bukan untuk penegakan diagnosis Covid-19, tapi hanya sebatas tes serologi.

" Rapid test yang serologi itu bukan untuk diagnosis. Semua pada pesen rapid test online. Bahkan ada perumahan yang iuran untuk beli rapid test. Ini saya sampaikan rapid test itu tidak untuk diagnosis, tapi untuk melihat apakah sudah ada antibodi," ungkap dr. Erlina di Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne, Jakarta, Selasa, 24 Maret 2020.

Dikutip dari Halodoc, tes serologi merupakan tes untuk menunjukkan hasil normal dan abnormal. Hasil normal, menandakan tidak adanya infeksi penyakit sehingga tidak ditemukan antibodi dalam darah. Sedangkan hasil abnormal menunjukkan antibodi dalam darah akibat paparan antigen tertentu.

" Antibodi ini terbentuk kalau ada gejala. Kalau orang tidak bergejala diperiksa rapid test, negatif. Kalau saya boleh saran, ini kan (alat rapid test) sudah kadung dibeli, ke depan jangan deh," ungkapnya.

 

1 dari 6 halaman

Tes PCR Lebih Direkomendasikan

Keakuratan alat tes serologi tidak terlalu baik. Pasalnya, dengan hanya serologi bisa memunculkan hasil tes negatif palsu, karena pasien belum bergejala.

" Kalau seseorang dalam masa inkubasi, kemudian diperiksa rapid test serologi belum ter-detect, nanti jadi seolah-olah negatif, ini disebut negatif palsu," ungkap Erlina

Erlina menyarankan pemerintah daripada membeli rapid test serologi yang kurang akurat, lebih baik menggunakan rapid test PCR.

Tes PCR (Polymerase Chain Reaction) yaitu memeriksa spesimen dari swab tenggorokan dan mulut dapat lebih akurat mengetahui DNA virus dalam tubuh.

2 dari 6 halaman

Tes Ini yang Menentukan Seseorang Terkena Virus Corona atau Tidak

Dream - Kekhawatiran masyarakat meningkat setelah pemerintah Indonesia mengumumkan ada dua orang warganegara Indonesia (WNI) yang positif terkena corona pada 2 Maret 2020. Terutama pada warga sekitar rumah pasien dan yang pernah berinteraksi dengan mereka.

Penting untuk tidak panik dengan adanya dua kasus tersebut. Untuk menentukan seseorang positif corona atau tidak, ada sebuah prosedur standar yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO).

Seperti apa prosedurnya? Dokter Jaka Pradipta, seorang spesialis paru, menjabarkan fakta-fakta penting seputar panduan penentuan corona positif di Indonesia di akun Twitternya.

" Tidak semua pasien batuk pilek kita periksakan #COVID19indonesia, pasien yang diperiksakan harus sesuai dengan indikasi guideline WHO, yaitu pasien dengan kategori pengawasan," tulisnya.

Jaka juga melampirkan tabel pengawasan. Siapa saja mereka yang harus diawasi ketat dan berisiko tinggi terkena corona (Covid-19).

 Tabel Pengawasan Corona© Twitter

 

3 dari 6 halaman

Risiko Perjalanan

Mereka yang masuk kategori dalam label tersebut akan dipantau selama 14 hari. Diminta beristirahat di rumah, minum obat dan melaporkan ke puskesmas. Bila tak ada gejala yang muncul maka pasien dinyatakan sehat.

" Inilah jawaban kenapa 200 WNI yang dipulangkan dari wuhan tidak ada yang diperiksakan spesimennya, karena mereka tidak bergejala dan masuk kedalam kategori pemantauan saja.. jadi alasannya bukan karena harga reagen yang mahal ya (headline media) #COVID19indonesia,"  ungkap dr. Jaka.

 

4 dari 6 halaman

Penampakan Tes Spesimen Pasien Corona

Pemeriksaan bakal berlanjut apabila gejala tak mereda, berupa tes spesimen. Caranya dengan apusan tenggorokan atau dengan dahak. Dahak diambil menggunakan alat khusus untuk diteliti di laboratorium.

 Pemeriksaan spesimen pasien suspect corona© Twitter

" Bila negatif, diulang kembali 24 jam berikutnya, bila hasilnya kembali negatif maka pasien bisa dikeluarkan dari pengawasan," tulis dr. Jaka.

Untuk pemeriksaan spesimen tersebut hanya dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Balitbangkes Kemenkes). Bagi pasien yang positif langsung dirawat dan diisolasi di RS Sulianto Saroso.

5 dari 6 halaman

Perokok Termasuk yang Paling Rentan Terpapar Corona

Dream - Wabah virus corona sudah sampai Indonesia. Menerapkan pola hidup sehat harus dilakukan sekarang juga. Menjaga sistem kekebalan tubuh adalah kunci utama agar terhindar dari virus bernama resmi Covid-19 ini.

Penting diketahui ada empat kelompok yang sangat rentan terkena virus yang berasal dari China ini. Siapa saja mereka? Pertama adalah mereka yang berusia lanjut, tepatnya di atas 40 tahun.

 © Dream

" Tampaknya ada ambang batas ini, di bawah 35 kita melihat nol kasus. Seiring bertambahnya usia dari 40-an ke 80-an, kami melihat peningkatan kematian," kata Michael Mina, MD, PhD, asisten profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health, dikutip dari WebMD.

Sebuah studi yang diterbitkan di The Journal of American Medical Association (JAMA) yang memeriksa 45.000 kasus pertama di Cina menemukan bahwa 80% kasus corona termasuk ringan. Sebanyak 20% lainnya yang didiagnosis memiliki gejala sedang, berat, atau kritis, termasuk sulit bernapas, radang paru-paru, dan kegagalan organ.

 

6 dari 6 halaman

Berisiko Kematian Tinggi Pada Manula

Sejauh ini paparan virus yang terjadi pada anak usia 1-9 hanya 1% dan tidak ada kematian, menurut penelitian JAMA. Sementara 1% lainnya berusia 10-19.

Penelitian menemukan orang-orang di usia 70-an yang terkena virus, 8% meninggal dunia. Hampir 15% dari mereka yang berusia 80 tahun ke atas juga meninggal dunia.

" Seseorang berusia 80-an memiliki risiko yang cukup tinggi untuk tidak meninggalkan rumah sakit jika dirawat karena COVID-19," kata Mina.

Kelompok kedua yang paling berisiko terkena Corona adalah kaum pria. Data awal menunjukkan bahwa pria menyumbang lebih dari setengah kasus corona di China. Hal itu menurut Chinese Center for Disease Control and Prevention.

Pria yang terinfeksi meninggal dua kali lebih sering daripada wanita yang terinfeksi. Kelompok ketiga adalah perokok. Beberapa ahli mengatakan kepada The New York Times, bahwa hal itu bisa jadi karena pria Cina lebih mungkin menjadi perokok daripada wanita.

Kelompok keempat adalah mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung, diabetes, atau masalah paru-paru. " Virus Covid-19 dibandingkan dengan pneumonia virus, cenderung memiliki efek yang lebih buruk pada orang yang sudah memiliki sistem kekebalan yang lemah dan bisa memicu kematian," kata Jeanne Marrazzo, MD, direktur Division of Infectious Diseases di University of Alabama di Birmingham School of Medicine.

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam