Viral Video Tentara Israel Tembak & Seret Jasad Warga Palestina dengan Buldozer

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 24 Februari 2020 15:00
Viral Video Tentara Israel Tembak & Seret Jasad Warga Palestina dengan Buldozer
Militer Israel tampak tidak memberi belas kasihan, bahkan pada jenazah sekalipun.

Dream - Tentara Israel kembali melakukan kekejaman. Kali ini, mereka membunuh dan menyeret jenazah warga Palestina.

Aksi tersebut terjadi di Jalur Gaza, Minggu 23 Februari 2020. Tepatnya di dekat pagar pemisah di timur Khan Younis, kawasan bagian selatan pantai.

Menurut laman Al Jazeera, jenazah tersebut dikenali sebagai Mohammed Ali Al Naim, 27 tahun, anggota faksi Palestinian Islamic Jihad (PIJ). Identitas itu telah dikonfirmasi oleh pengurus organisasi tersebut.

Al Naim tewas ditembak oleh tentara Israel lantaran dicurigai akan meledakkan bom di dekat pagar pembatas. Sementara dua orang rekan Al Naim mengalami luka.

Militer Israel membenarkan adanya penembakan tersebut. Mereka mengklaim melihat dua teroris mendekati pagar pembatas di selatan Jalur Gaza dan menempatkan alat peledak.

" Tentara melepas tembakan ke arah mereka, serangan telah teridentifikasi," demikian pernyataan resmi dari militer Israel.

1 dari 5 halaman

Video Kejahatan Tentara Israel Viral

Sebuah video viral di media sosial, menunjukkan kejamnya tentara Israel dalam memperlakukan jenazah warga Palestina. Seorang tentara membuldozer jenazah tersebut untuk memindahkannya ke dekat pagar.

Dalam video tersebut terdengar suara tembakan dan seorang tewas. Beberapa orang pria lain berusaha mengambil jenazah korban tewas tersebut.

Sementara, satu unit buldozer dikemudian tentara Israel bergerak cepat ke arah titik jatuhnya korban. Pria-pria tersebut bergegas menyelamatkan jasad Al Naim namun terlambat.

 

2 dari 5 halaman

Dua Kali Ditimpa Buldozer

Jenazah Al Naim ditimpa sekop buldozer sebanyak dua kali, sebelum akhirnya dikeruk bersamaan dengan tanah. Sejenak kemudian, tentara Israel memindahkan jenazah Al Naim ke dekat pagar pembatas.

PIJ mengecam aksi tentara Israel. Mereka menyebut video itu memperlihatkan aksi kejahatan brutal yang dilakukan militer Israel.

Juru bicara Hamas yang merupakan faksi penguasa Jalur Gaza, Hazem Qassem, menyatakan insiden tersebut mencerminkan pendudukan Israel atas tanah Palestina serta perlakuan mereka kepada rakyat Palestina.

" Ada ratusan kejahatan yang sama yang tidak terdokumentasikan kamera. Pendudukan Israel melanjutkan kejahatannya tanpa ada pencegahan secara hukum maupun etika," kata Qassem.

3 dari 5 halaman

Presiden Prancis Bentak Polisi Israel Karena Memaksa Masuk Gereja

Dream - Presiden Prancis, Emmanuel Macron, kehilangan kesabaran ketika berkunjung ke Katedral St Anne yang terletak di Kota Tua Yerusalem. Pemicunya, sejumlah polisi Israel berusaha masuk ke dalam gereja tersebut.

Macron sempat membentak para polisi tersebut dan meminta mereka keluar. Peristiwa ini berlangsung pada Rabu, 22 Januari 2020 waktu setempat ketika Macron berkunjung ke Gereja St Anne sebelum menghadiri konferensi peringatan Holocaust.

Bendera Triwarna Prancis berkibar di atas Gereja St Anne sejak tempat ibadah itu diberikan oleh Sultan Ottoman kepada Kaisar Prancis, Napoleon III pada 1856. Sejak saat itu pula, Katedral tersebut merupakan bagian dari kedaulatan Prancis di Yerusalem.

Prancis menganggap masuknya polisi Israel ke komplek gereja sebagai bentuk provokasi. Mengingat Katredral St Anne berada di lokasi yang dicaplok Israel dalam Perang Timur Tengah pada 1967.

Peristiwa ini sempat terekam kamera. Dalam video yang tersebar di sejumlah media, Macron dikelilingi tim pengamanannya yang berdesakan dengan polisi Israel di bawah gerbang mengarah ke gereja. Di antara para polisi tersebut terdapat personel paramiliter berseragam.

Macron lalu berhenti lalu berteriak ke polisi Israel dalam bahasa Inggris. " Saya tidak suka dengan apa yang Anda lakukan di depan saya," kata Macron, dikutip dari Aljazeera.

4 dari 5 halaman

Minta Polisi Israel Patuhi Aturan

Sejenak kemudian, Macron menurunkan nada bicaranya. " Keluar. Maaf, Anda tahu aturannya. Tidak ada yang memprovokasi siapapun," ucap dia.

Macron lalu menyampaikan apresiasi kepada petugas keamanan. Tetapi, dia tetap meminta semua orang menghormati aturan yang sudah berlaku selama berabad-abad lamanya.

" Tolong patuhi aturan yang sudah ada berabad-abad. Mereka (aturan) tidak akan berubah pada saya, ok?" kata Macron.

Peristiwa Rabu kemarin merupakan kejadian de javu. Sebelumnya pada 1996, Presiden Jacques Chirac kehilangan kesabaran kepada polisi Israel di lokasi yang sama.

Secara terbuka dia menyebut perilaku polisi Israel sebagai provokasi dan mengancam akan kembali ke pesawatnya. Chirac menolak masuk Katedral St Anne sampai keamanan Israel meninggalkan situs tersebut.

5 dari 5 halaman

Australia Pindah Kedubes ke Yerusalem, Menlu Beri Reaksi Keras

Dream - Keputusan yang diambil Perdana Menteri Australia, Scott Morrison, memindahkan Kedutaan Besar untuk Israel dari Tel Aviv ke Yerusalem menuai beragam tanggapan. Termasuk dari Indonesia.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas keputusan tersebut. Retno juga mempertanyakan keputusan itu.

" Indonesia ingin menegaskan kembali posisinya bahwa solusi dua negara harus ditegakkan sebagai prinsip dasar untuk terjadinya perdamaian secara berkelanjutan antara Palestina dan Israel," ujar Retno, dilansir Straits Times.

Retno kembali meminta komitmen Australia dan sejumlah negara lain untuk terus mendukung proses perdamaian Palestina-Israel sesuai prinsip-prinsip yang telah disepakati.

" Dan tidak mengambil langkah-langkah yang bisa mengancam perdamaian dan stabilitas dunia," kata Retno.

Retno, begitu pula dengan Presiden Joko Widodo, telah berkomunikasi dengan sejumlah pejabat Australia terkait keputusan tersebut.

Saat berkunjung ke kantor Retno, Menlu Palestina Riyad Al Maliki menyatakan sangat menghargai upaya komunikasi yang telah dijalankan Jokowi bersama Retno. Dia menegaskan Australia perlu diingatkan bahwa keputusan tersebut telah melanggar hukum internasional.

Dia juga mengapresiasi langkah cepat Indonesia yang segera membahas keputusan tersebut dengan pejabat Australia. Bahkan tanpa diminta oleh Palestina, Indonesia bergerak lebih dulu.

" Dan mereka (Indonesia) adalah negara pertama yang segera bertindak atas hal ini. Ini adalah sesuatu yang harus kita hargai, kita harus ingat dan kita harus berterima kasih kepada Indonesia atas komitmen ini untuk perdamaian, keadilan, komitmen terhadap hukum internasional," terang Riyad.(Sah)

Beri Komentar
Potret Aktifitas Prisia Nasution Saat Jelajahi Alam