Kesal Ditilang, Petugas Listrik Putus Aliran ke Kantor Polisi Karena Nunggak

Reporter : Arie Dwi Budiawati
Jumat, 2 Agustus 2019 09:01
Kesal Ditilang, Petugas Listrik Putus Aliran ke Kantor Polisi Karena Nunggak
Wow, bagaimana ceritanya?

Dream – Seorang pengendara motor di Uttar Pradesh, India, kesal setelah ditilang polisi. Dia ditindak karena kedapatan tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motornya.

Sebagai bentuk penindakan, polisi menilai pria itu dengan denda senilai 500 rupee atau sekitar Rp102 ribu.

Rupanya tindakan polisi membuatnya diselimuti dendam. Pria yang berprofesi sebagai tukang listrik itu melakukan aksi pembalasan dengan memutus aliran listrik kantor polisi.

Dikutip dari Rushlane, Jumat 2 Agustus 2019, pria bernama Srinivas ini dihentikan oleh polisi bernama Ramesh Chandra. Dia ditilang saat hendak pergi ke daerah Badi Chapeti untuk memperbaiki gangguan listrik.

Srinivash ditilang karena tidak pakai helm. Sang petugas mengeluarkan surat tilang dan denda 500 rupee.

Awalnya, dia meminta keringanan untuk tidak didenda, tapi tak diindahkan oleh polisi.

Dia juga berusaha berdamai dengan petugas, tapi upaya itu tak mempan. Srinivas mengatakan tak bisa membayar tilang karena penghasilannya hanya 6 ribu rupee (Rp1,23 juta) per bulan.

1 dari 5 halaman

Tak Patah Semangat, Gunakan Cara Ini

Kesal ditiliang, Srinivas meminta rekannya untuk mengecek tagihan kantor polisi Linepar. Upaya pembalasannya berhasil.

Kantor polisi tempat petugas penilangnya itu ternyata menunggak tagihan 6,62 juta rupee atau sekiyat Rp135,8 juta sejak Januari 2016.

Tanpa banyak berkata-kata, pria ini segera berjalan menuju kantor polisi incarannya. Dia langsung memutus pasokan listrik ke kantor polisi itu.

Perbuatannya membuat aliran listrik ke kantor polisi terhenti selama empat jam. Listrik kembali mengalir setelah seorang polisi senior menyelesaikan masalah dengan departemen listrik setempat.

Ketika dimintai penjelasan, Srinivas mengatakan pemutusan dilakukan karena tunggakan listrik.

Polisi mengatakan pihaknya menilangnya karena Srinivas tak pakai helm. Pria ini membalasnya dengan pemutusan listrik dilakukan sebagai hukuman tagihan listrik tak dibayar.

2 dari 5 halaman

Polisi `Nyerah`?

Polisi pun membayar tagihan listrik kantor polisi Linepar. Mereka mengeluh karena beban puncak mencapai 10 kW, padahal konsumsi listrik rendah.

Namun, departemen listrik menyebut tagihannya membengkak karena kelebihan pemakaian peralatan polisi.

Masalah belum berakhir. Polisi tetap akan menindaklanjuti keluhan departemen listrik terhadap tindakan Srinivas yang memutus listrik tanpa pemberitahuan. 

3 dari 5 halaman

Main HP saat Nyetir di Jalur Thamrin-Sudirman, Siap-Siap Ditilang!

Dream – Penerapan sistem tilang elektronik atau electronic traffic law enforcement (ETLE) dengan sistem kamera pengawas/CCTV mulai berlaku sejak kemarin, Senin, 1 Juli 2019. Aturan tersebut baru diberlakukan untuk pengendara roda empat ke atas.

Dikutip dari Liputan6.com, aparat penegak hukum telah memasang kamera CCTV yang tersebar di sepanjang Jalan Sudirman-Thamrin, Jakarta. Ada 12 CCTV yang siap mengidentifikasi pengendara yang melanggar.

“ Hari ini mulai berlaku. Secara umum Ditlantas Polda Metro Jaya sudah mengembangkan kemampuan utility dari kamera yang ada dan menambah perluasan penempatan kamera analitik menjadi 12 kamera yang tersebar di 10 titik di Jalan Sudirman Thamrin," kata Kasie STNK Ditlantas Polda Metro Jaya, Kompol Arif Fazlurrahman, di Jakarta.

Arif mengatakan pengendara wajib waspada saat ini. Apalagi, kalau pengendara kedapatan tak menggunakan sabuk pengaman dan bermain ponsel ketika sedang menyetir.

“ Kalau beberapa waktu lalu, kamera hanya bisa mendeteksi pelanggaran traffic lane dan melanggar markah, sekarang bisa lebih jauh di atas itu, seperti tidak menggunakan sabuk pengaman dan bermain ponsel ketika sedang berkendara,” kata dia.

4 dari 5 halaman

Surat Konfirmasi

Sistem ini bekerja secara otomatis, kata Arif. Pelanggar nantinya akan diberikan surat konfirmasi ke alamat Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Dalam waktu 14 hari sejak diberikan surat, pemilik wajib memberikan konfirmasi.

“ Kamera ini bekerja full automatic jadi bekerja secara otomatis dan mengidentifikasi kendaraan secara otomatis,” kata dia.

Arif mengatakan kamera ini membantu petugas untuk mengumpulkan data. Petugas tinggal memverifikasi apakah benar foto yang ditangkap kamera CCTV, lalu menerbitkan surat konfirmasi kepada alamat kendaraan.

Apabila memang melakukan pelanggaran, pengendara wajib membayar denda sesuai kesalahan yang dilakukan.

(Sumber: Liputan6.com/Dian Tami Kosasih)

5 dari 5 halaman

Kena Tilang Elektronik? Begini Cara Mengurusnya

Dream – Tilang elektronik dengan CCTV atau Electronic Traffic Law Enforcement (E-TLE) telah berlaku per 1 November 2018. Pelanggar lalu lintas akan terekam CCTV dan polisi akan memverifikasi kendaraannya untuk menetapkan sanksi.

Nah, kalau kamu sudah terkena tilang elektronik ini, bagaimana cara mengurusnya?

Dikutip dari Liputan6.com, Selasa 6 November 2018, Dirlantas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusuf, mengatakan tahap pertama mekanisme tilang elektronik ini adalah polisi memverifikasi kendaraan yang tertangkap kamera CCTV.

Setelah verifikasi, polisi mengirimkan surat konfirmasi bersama foto bukti pelanggaran, apakah pelanggaran dilakukan oleh pemilik kendaraan itu atau bukan.

Setelah menerima surat konfirmasi dari petugas, pelanggar harus melakukan konfirmasi melalui www.etle-pmj.info apakah dia melanggar lalu lintas atau tidak. Pelanggar diberi waktu lima hari untuk melakukan konfirmasi.

“ Kalau memang tidak benar, ada respons dari pemilik kendaraan itu bahwa ‘Oh, ya, memang benar saya’ (atau) ‘Bukan saya’, sehingga kami mengirim tilangnya nanti sesuai siapa yang melanggar,” kata dia di Jakarta.

Yusuf mengatakan ada kode pembayaran virtual melalui PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (Persero). Denda tilangnya dibayar melalui bank dan tidak akan mengikuti sidang. Dengan begitu, masalah selesai.

“ Kalau belum (bayar), berarti nanti ada pemblokiran,” kata dia.

Kalau pelanggar mau sidang karena merasa tidak bersalah, ada waktu tujuh hari, kata Yusuf.

(Sumber: Liputan6.com/Arief Aszhari)

Beri Komentar