7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ketum PP Muhammadiyah Haedar Nashir Saat Di Queensland, Australia (Foto: Muhammadiyah.or.id)
Dream - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, meminta umat memahami aktualitas ajaran Islam. Salah satunya, Haedar meminta masyarakat tak memekikan takbir sembarangan.
“ Allahu Akbar adalah kalimat toyyibah, kalimat yang tinggi dan agung, bukan untuk dikorupsi menjadi alat politik atau alat untuk meraih kepentingan sendiri dan kelompok,” kata Haedar dikutip Dream dari laman resmi Muhammadiyah, Jumat, 23 Februari 2018.
Haedar menyampaikan pendapat itu saat menghadiri Forum Diskusi Persatuan Mahasiswa Indonesia di The University of Queensland (UQISA), Australia, Rabu 21 Februari 2018.
Haedar ingin menunjukkan bahwa Muslim baik adalah yang berilmu dan berkontribusi positif bagi masyarakat, bukan mereka selalu meneriakkan takbir untuk kepentingan politis.
Selain berbicara mengenai kajian Islam, Haedar juga mengingatkan penyebaran paham radikal di lingkungan umat beragama.
" Radikalisme itu universal. Radikalisme juga sering tumbuh berkaitan dengan pandangan serta situasi politik dan ekonomi tertentu yang memicu orang untuk bertindak radikal," ujar Haedar.
Haedar juga menyinggung, definisi pandangan radikal atau ekstrem juga sering bias pemahaman. Sebab, pandangan itu tidak hanya pada tumbuh karena agama, namun juga bisa disebabkan faktor sosial, ekonomi, dan lainnya.
Muhammadiyah saat ini menawarkan pendekatan moderasi dalam berhadapan dengan kelompok radikal, bukan deradikalisasi.
Deradikalisasi, kata Haedar, adalah berusaha mengubah pihak radikal dengan cara yang juga radikal. Dia juga berharap organisasi Islam di Indonesia membangun moderasi umat Islam.
“ Umat Islam yang moderat ini takkan bisa menjalankan perannya dengan baik dalam menjaga stabilitas di masyarakat bila dirinya sendiri terbelakang,” kata Haedar.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?