Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock.com)
Dream - Mungkin, banyak orang menganggap kewarganegaraan hanyalah sebagai identitas semata. Artinya, dari mana kita berasal tidak ada hubungannya dengan gaya hidup apalagi gaya traveling.
Nyatanya, anggapan tersebut rupanya keliru besar. Kewarganeraan rupanya memberi pengaruh pada gaya traveling seseorang.
Laman perpesanan akomodasi, Booking.com, merilis hasil survei mengenai pengaruh kewarganegaraan terhadap gaya seseorang dalam traveling. Survei ini dijalankan pada 16 Oktober-12 November 2018, melibatkan 53.492 responden dari 31 pasar di seluruh dunia. Khusus untuk Indonesia, ada 1989 responden yang terlibat.

Syarat yang ditetapkan bagi responden adalah berusia minimal 18 tahun dan telah melakukan perjalanan sedikitnya sekali dalam kurun waktu 12 bulan terakhir.
Survei ini dijalankan untuk mengetahui motivasi traveler dari seluruh dunia untuk traveling. Selain itu, untuk melihat faktor apa saja yang menjadi pertimbangan traveler sebelum menentukan pilihan destinasi liburan.

Hasilnya, 90 persen traveler Indonesia menyatakan traveling mereka didasari motivasi meluangkan waktu untuk bersantai. Motivasi ini juga berlaku untuk traveler dari beberapa negara, kecuali asal Denmark dan Perancis.
Motivasi traveler dari dua negara di Eropa ini cukup unik. Tujuan utama mereka traveling adalah bebas melalukan apapun yang diinginkan.
Demikian pula soal preferensi. Sebagian besar traveler Argentina, mencapai 74 persen suka bernostalgia dengan berkunjung ke masa lalu. Traveler dari Tiongkok sebanyak 83 persen dan Taiwan dengan 76 persen traveler lebih suka merasakan gaya hidup yang lebih sederhana.

Traveler Jepang (66 persen), Jerman (72 persen) dan Hong Kong (80 persen) pergi traveling untuk menghindari tuntutan di rumah.
Terakhir, untuk sebagian traveler, traveling adalah soal status sosial. Traveler Indonesia (75 persen), India (75 persen) dan Filipina (80 persen) mengatakan motivasi traveling mereka adalah pergi ke tempat yang belum pernah dikunjungi teman.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya