Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Michael Peter Fomenko (Sumber: Www.dailymail.co.uk)
Dream - Percaya atau tidak, kisah traveler asal Australia yang satu ini bak cerita dalam film Tarzan. Michael Peter Fomenko, menjauhkan diri dari kehidupan perkotaan dan tinggal di hutan selama 60 tahun hingga dijuluki sebagai Tarzan.
Fomenko yang kini berusia 84 tahun lama bermukim di hutan Queensland, Australia dan sempat traveling menyusuri lautan dengan kano. Kisah petualangan hidup Fomenko yang unik tak ayal membuat berbagai media tertarik untuk memberitakannya.
Dilansir dari Dailymail, Selasa 15 September 2015, kabarnya Fomenko adalah putra dari seorang Putri Rusia Elizabeth Machabelli. Karena situasi di Georgia pada waktu itu sedang tidak aman, Fomenko dan keluarganya mengungsi ke Jepang pada akhir 1930-an.
Namun karena Jepang juga terlibat peperangan dengan China beberapa tahun kemudian, keluarga mereka kembali hijrah ke Sydney, Australia.
Merasa terasingkan karena masalah bahasa dan statusnya sebagai pengungsi, Fomenko mulai menyingkir dari kehidupan modern. Ia menyukai puisi terkenal The Odyssey dan terinspirasi untuk menyendiri di hutan seperti pertapa.
Saat usianya 24 tahun, Fomenko pun akhirnya kabur dari rumah keluarganya di Sydney untuk tinggal di hutan Queensland. Meski awalnya sulit, lama-kelamaan Fomenko bisa beradaptasi dengan kehidupan keras di alam liar.
Ada yang mengatakan, pria itu sangat tangguh hingga mampu membunuh buaya serta binatang lainnya dengan tangan kosong. Fomenko bahkan dikabarkan pernah mengarungi lautan seorang diri menggunakan kano hingga ke perairan Merauke di Indonesia.
Walau tampak bebas dan menyenangkan, kehidupan Fomenko di alam liar tentu tak semudah yang dibayangkan. Pria ini pernah kelaparan di hutan hingga ditolong oleh Suku Aborigin. Pada tahun 1964, Fomenko juga pernah ditangkap polisi lantaran dianggap gelandangan dan tidak normal. Ia pun dibawa ke rumah sakit jiwa.
Setelah dibebaskan, Fomenko kembali tinggal di alam liar bersama Suku Aborigin hingga tahun 2012. Kala itu, ia ingin bertemu keluarganya di Sydney. Fomenko yang dalam kondisi sakit, memaksa diri untuk berjalan kaki dari hutan Queensland ke Sydney.
Beruntung, akhirnya Fomenko ditemukan oleh seorang dokter yang merawat dan mengantarkannya ke panti jompo. Kini Fomenko menemukan lingkungan baru yang nyaman di sana. Ia bahkan dilaporkan tak pernah lagi kembali ke hutan. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya