Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Todayonline.com
Dream - Berita duka dikeluarkan oleh sebuah rumah produksi di Hubei, China pada 16 Februari lalu. Hubei merupakan provinsi tempat kota Wuhan berada. Kota yang menjadi pusat penyebaran virus mematikan corona.
Berita itu berisi pengumuman tentang kematian seorang sutradara film Tionghoa bernama Chang Kai.
Pria 55 tahun itu meninggal di sebuah rumah sakit komunitas di Distrik Huangpi, Wuhan sekitar pukul 4:50 sore pada 14 Februari 2020 karena infeksi Covid-19 atau corona virus.
Kisah pilu keluarga sutradara ini menyita perhatian khalayak.
Pasalnya sebelum kepergian Chang, satu per satu orang tersayangnya juga menjadi korban keganasan wabah mematikan itu.
Chang dan tiga anggota keluarganya meninggal dunia karena Covid-19.
Dilansir todayonline.com, bermula pada malam tahun baru Imlek saat seluruh keluarga menyempatkan diri untuk bertemu.
Pada hari pertaman Tahun Baru China atau tepatnya 25 Januari, ayah Chang tiba-tiba sakit.
Ia mengalami batuk dan demam disertai kesulitan bernafas. Chang pun sontak membawa ayahnya ke rumah sakit untuk perawatan.
Namun sayangnya mereka ditolak karena sudah tidak ada lagi tempat tidur. Rumah sakit menyarankan untuk mengarantina ayahnya di rumah dan mengirimkan dokter.
Mereka kembali ke rumah dan berusaha merawat ayahnya yang sakit parah.
Seorang dokter pun akhirnya datang pada tanggal 2 Februari untuk memeriksa ayah Chang. Tetapi kondisinya memburuk terlalu cepat dan ia meninggal beberapa jam kemudian di rumah.
Dalam sebuah surat wasiat, Chang menuliskan bahwa meninggalnya ayahnya adalah pukulan besar bagi ibunya yang sudah kelelahan akibat penyakit itu.
Ya, sang ibu juga terinfeksi Covid-19. Chang pun membawanya ke rumah sakit Wuchang pada 4 Februari dan meninggal empat hari kemudian.
Sementara itu, Chang juga memperlihatkan gejala pada 4 Februari Setelah merawat orang tuanya yang terinfeksi selama berhari-hari di rumah.
Ia kemudian dikirim ke rumah sakit di Distrik Huangpi. Chang akhirnya meninggal pada 14 Februari di hari yang sama dengan saudara perempuannya meskipun tinggal beda rumah.
Chang meninggalkan istri dan putranya yang belajar di luar negeri. Istri Chang juga didiagnosis positif beberapa hari setelah Chang masih di rumah sakit.
Di akhir tulisan pada surat wasiatnya, Chang berkata kepada orang-orang yang dicintainya, termasuk putranya yang belajar di Inggris.
Bahwa dirinya melakukan yang terbaik sebagai seorang anak yang berbakti. " Perpisahan, untuk mereka yang kucintai dan mereka yang mencintaiku," ujar dia.
Dream - Merebaknya wabah virus corona atau Covid-19 yang kini telah menewaskan lebih dari 1800 orang menimbulkan berbagai spekulasi.
Tidak sedikit yang curiga kemunculan wabah ini sudah dirancang sebelumnya.
Mengutip The Vocket, baru-baru ini media sosial diramaikan dengan cuitan pengguna Twitter yang membahas sebuah buku fiksi berjudul " The Eyes of Darkness" .
Menariknya, buku yang diterbitkan pada 1981 atau 39 tahun yang lalu itu menceritakan tentang virus yang juga berasal dari Wuhan, dinamai Wuhan-400.
Dalam buku dikatakan virus itu memang sangaja dibuat sebagai senjata biologis.
Menurut ilmuan yang memimpin penelitian Wuhan-400 bernama Li Chen, senjata kimia paling berbahaya ada di pusat-pusat penelitian di China.
Selain itu, tertulis juga virus bakal mewabah melalui hewan sebelum akhirnya menginfeksi manusia.
Pusat studi virus dalam buku itu pun memiliki ciri yang sama dengan Wuhan Institute of Virology, yang terletak hanya 32km dari lokasi pertama Covid-19 ditemukan.
2/9 #coronavirus
Dean Koontz, in his 1981 novel “ The Eyes of Darkness” mentioned China created a super virus “ Wuhan-400”by a scientist called Li Chen in a research lab outside Wuhan to destroy a city or a nation.
In reality, the scientist is Zhengli Shi, the lab is P4!OMG???? pic.twitter.com/XsI0wvppH1— ???? (@htommy998)February 10, 2020
Prediksi tentang virus yang menyerang sistem pernapasan itu juga tertulis dalam buku berjudul End of Days: Predictions and Prophecies About the End of the World.
Buku itu menyebutkan penyakit seperti pneumonia akan tersebar ke seluruh dunia pada 2020.
Pengarang buku Amerika, Sylvia Browne, mungkin telah meramalkan tentang Covid-19 dalam buku yang ditulis bersama Lindsay Harrison (End of Days: Predictions and Prophecies About The End Of The World) yang diterbitkan 12 tahun yang lalu.#coronavirus #covid #prophecy #prediction pic.twitter.com/V4hFvCgzpk
— KamekOrangSarawak (@OrangSarawakk)February 17, 2020
Buku itu sendiri ditulis oleh Lindsay Harrison pada 2008. Kedua buku ini sontak menarik perhatikan khalayak. Bagaimana pendapatmu? Apakah ini sebuah kebetulan, atau sebaliknya?
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya