Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Shutterstock.com)
Dream - Pemerintah Kota Bogor memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Mikro dan Komunitas (PSBMK) selama dua pekan. Pembatasan yang awalnya selesai pada 28 Oktober, berlaku kembali hingga 10 November 2020.
Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto, mengatakan pembatasan yang berlaku masih sama dengan sebelumnya. Seperti jam operasional sektor kuliner untuk kafe, restoran, rumah makan, dan sejenisnya yang menerapkan makan ditempat dibatasi hingga pukul 21.00 WIB.
" Setelah pukul 21.00 WIB, restoran, rumah makan, dan sejenisnya masih dapat melayani dengan cara pesan antar ke tempat konsumen," ujar Bima.
Untuk jam operasional pertokoan, pusat perbelanjaan, swalayan, dan retail modern dilonggarkan hingga pukul 21.00 WIB kecuali apotek dan toko obat. Sebelumnya, jam operasional untuk pertokoan dibatasi hingga pukul 20.00 WIB.
Selain itu, Pemkot Bogor juga mengizinkan penggunaan taman untuk kegiatan rapat.
Selama dua pekan ke depan, Pemkot Bogor tetap memperketat penerapan protokol kesehatan. Masyarakat diharuskan memakai masker, rajin cuci tangan dengan sabun di air mengalir dan menjaga jarak aman satu meter.
Bima mengatakan dari hasil pemantauan, potensi penularan Covid-19 di Kota Bogor paling tinggi adalah klaster perkantoran dan keluarga. Sementara potensi penularan pada klaster restoran tergolong rendah.
" Karena itu, Pemerintah Kota Bogor akan tetap menggencarkan pengawasan di sektor perkantoran," ucap dia.
Sumber: Merdeka.com
Dream - Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok, Dadang Wihana, melaporkan 1.080 pasien positif tanpa gejala terpaksa menjalani isolasi mandiri. Mereka tidak bisa tertampung di fasilitas isolasi di sejumlah rumah sakit.
" Mereka adalah orang yang menjalani isolasi mandiri. Mereka identik dengan kasus positif tanpa gejala," kata Dadang.
Sejumlah pasien positif tersebut tersebar di semua kecamatan di Kota Depok. Wilayah dengan OTG tertinggi yaitu Kecamatan Pancoran Mas dengan 145 pasien menjalankan isolasi mandiri di rumah.
Kemudian, Kecamatan Sukmajaya dengan 141 OTG, Kecamatan Cipayung 114 OTG, Kecamatan Cimanggis 112 OTG. Lalu ada Kecamatan Tapos dengan 110 OTG dan Kecamatan Beji 107 OTG.
Sementara, wilayah dengan OTG kurang dari 100 antara lain Kecamatan Cilodong 92 OTG, Kecamatan Limo 85 OTG. Kecamatan Bojongsari 73 OTG, dan Kecamatan Sawangan 71 OTG.
" Untuk kecamatan Cinere ada 25 orang yang isoman (isolasi mandiri)," kata Dadang.
Sedangkan OTG yang saat ini dirawat di rumah sakit ada 253 kasus. Mereka berasal dari Kecamatan Pancoran Mas 42 kasus, Kecamatan Cimanggis 33 kasus, Kecamatan Beji 30 kasus, Kecamatan Tapos 25 kasus.
Lalu Kecamatan Sawangan 23 kasus, Kecamatan Limo 22 kasus, Kecamatan Sukmajaya dan Cipayung masing-masing 20 kasus. Kemudian Kecamatan Bojongsari 18 kasus, Kecamatan Cilodong 17 kasus, dan Kecamatan Cinere 3 kasus.
" Tersebar di seluruh kecamatan dengan jumlah bervariasi. Mereka adalah positif aktif," ucap Dadang.
Sumber: Merdeka.com/Nur Fauziah
Dream - Berhasil sembuh dari Covid-19, rupanya bukan akhir perjuangan. Sejumlah pasien ternyata mengeluhkan kondisi tubuh yang berubah dari sebelum terserang Covid-19.
Beberapa keluhan yang muncul seperti sakit kepala, kelelahan, dan sesak napas. Para dokter kini tengah mempelajari mengapa gejala tersebut bisa muncul dari menjadi sindrom usai terserang Covid-19.
Salah satu pasien yang mengalami hal ini adalah Valerie Giesen. Gadis 29 tahun ini mengaku sering kelelahan setelah berjalan beberapa meter saja.
Dia merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Napasnya sampai bisa terdengar.
Padahal, delapan bulan lalu, jalan beberapa meter bukanlah masalah bagi Giesen. Bahkan dalam sepekan, dia bisa dua sampai tiga kali menari. Juga sering naik gunung dan berenang.
Dokter menyatakan secara resmi Giesen sudah sembuh dari Covid-19 tapi tidak sepenuhnya sehat. Sejak sembuh pada April lalu, Giesen tetap merasa belum pulih benar.
" Jantung saya berdetak sangat cepat, dan ada tekanan berat di dalam dada saya. Saya tak pernah merasa begitu sakit," ujar Giesen, dilaporkan Deutsche Welle.
Wanita muda ini pernah menghabiskan dua pekan dengan berbaring karena merasa sangat lelah. Dia juga merasa sakit pada paru-paru.
Kondisi itu dia alami ketika masa-masa awal Covid-19 masuk Denmark. " Saat itu merupakan gelombang pertama di Denmark," kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam