Menag Minta Kepala Daerah Tak Lagi Larang Warganya Beribadah

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 27 Desember 2019 08:00
Menag Minta Kepala Daerah Tak Lagi Larang Warganya Beribadah
Kanwil Agama dan semua pejabat daerah harus sepakat dengan sebaik-baiknya.

Dream - Menteri Agama, Fachrul Razi, meminta agar kepala daerah tak lagi melarang warganya melaksanakan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing. Masyarakat mempunyai hak kebebasan beribadah sesuai konstitusi.

" Enggak bolehlah. Meski alasannya apa, alasannya kesepakatan, kesepakatan itu kan seolah lex specialis. Ndak boleh, amanat konstitusi enggak boleh ada lagi lex specialis-nya," kata Fachrul, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 26 Desember 2019.

Dia mengatakan, UUD 1945 menjamin semua warga negara untuk memeluk agama dan melaksanakan ibadah. Fachrul menyebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sependapat dengan kebebasan tersebut.

Dia menegaskan, pemerintah daerah tidak boleh membuat keputusan yang bertentangan dengan konstitusi. " Terkait semua pihak, khususnya kanwil agama dan semua pejabat daerah harus sepakat sama-sama tegas namanya amanat konstitusi itu enggak ada lain dilaksakan dengan sebaik-baiknya," ucap dia.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud Md mengatakan, dugaan adanya larangan ibadah Natal bersama di Dharmasraya dan Sijunjung, Sumatera Barat.

" Alhamdulillah, sekarang ya sampai saat ini ya, secara umum situasinya baik, apa yang disebut diskriminasi di berbagai daerah itu hanya ramai di media sosial," kata Mahfud.

1 dari 5 halaman

Hangatnya Toleransi, Seorang Muslim Jadi Sopir Pendeta Selama 32 Tahun

Dream - Kerukunan antar umat beragama dahulu merupakan hal yang sangat terjaga. Masyarakat beda agama bisa hidup rukun dan berdampingan, bahkan bekerja sampai berpuluh tahun tanpa harus khawatir kehilangan prinsip beragamanya.

Cerita hangat soal soal toleransi ini bisa kita lihat dari keseharian Sapari atau akrab disapa Pakde. Pria bersahaja berusia 58 tahun itu sangat dikenal para jemaat GPIB Immanuel Palembang.

" Apa kabar Pakde, sehat kan?" begitu tanya setiap jemaat gereja ketika bertemu dan bersalaman dengannya menjelang misa Natal, Selasa, 24 Desember 2019.

Panggilan Pakde dinobatkan karena dia merupakan perantauan asal Bantul, DI Yogyakarta. Dia tinggal di Palembang sejak 1983 dan mencari nafkah menjadi buruh bangunan.

Empat tahun kemudian, atau tepatnya 1987, Pakde resmi bekerja sebagai sopir mobil gereja GBIP Immanuel Palembang. Pekerjaan itu didapatnya ketika memborong rekonstruksi di rumah salah satu jemaat gereja itu.

" Saya jadi sopir pertama di gereja itu. Gaji waktu itu sama dengan jadi buruh, kira-kira Rp 60 ribu sebulan, tapi jadi sopir lebih santai, pakaian rapi, pakai sepatu, beda saat masih jadi tukang bangunan," ungkap Pakde.

2 dari 5 halaman

Akidahnya Tak Terganggu

Sebagai penganut Islam, Pakde tidak merasa terganggu dengan pekerjaannya. Setiap hari, ia berkutat dengan aktivitas di gereja.

Tugas utamanya adalah antar jemput pendeta dari kediaman ke gereja, dari gereja ke gereja, dari gereja ke rumah sakit, atau menemui jemaat.

Lokasinya tak hanya di Palembang, tetapi sampai keluar kota dan provinsi, seperti Prabumulih, Lempuing, Pendopo, Karang Endah, hingga Jambi.

" Ya, tugas saya hanya melayani pendeta, ke mana pun dia pergi saya yang antar. Sesekali melayani pengurus gereja kalau ada keperluan," ujarnya.

3 dari 5 halaman

Saling Menghormati Keimanan

Selama berhubungan dengan gereja dan pendeta, Pakde mengaku tak pernah sama sekali bersinggungan dengan keyakinan yang dianutnya. Justru menurut dia, pendeta sangat toleran terhadap keimanan Pakde.

" Misal lagi di jalan dan terdengar azan, saya diminta mampir ke masjid, pendeta bilang salatlah dulu kalo sudah masuk waktunya. Ya, saya pikir keimanan pendeta itu sudah tinggi, makanya tidak mau bicara soal keimanan saya, saling menghargai," kata dia.

 Ilustrasi toleransi© Pixabay

Ketika tiba di gereja, Pakde juga tak pernah diajak pendeta masuk mendengarkan khutbahnya. Pakde diminta istirahat di mobil atau mengobrol saja dengan warga sekitar gereja.

" Saya tidak pernah meminta dan pendeta juga tidak pernah mengajak masuk ke gereja. Saya kerja profesional, sesuai tugas saya saja, melayani, itu saja," terangnya.

Meski usianya tak muda lagi, Pakde masih menjadi andalan pendeta dan pengurus gereja. Predikatnya kini menjadi sopir senior dan driver satu.

" Sudah 32 tahun menjadi sopir gereja dan melayani pendeta, sampai sekarang masih aktif. Total sudah ada delapan pendeta yang saya layani, rata-rata berasal dari Indonesia bagian timur," ungkapnya.

4 dari 5 halaman

Bisa Menyekolahkan Anaknya

Pegawai beragama Islam yang bekerja di gereja itu tak hanya Pakde sendiri. Masih ada seorang sopir, dua sekuriti, dan seorang tukang kebun yang turut mencari nafkah di sana.

" Bagi kami bekerja di mana pun terserah, yang penting tidak menipu, tidak mencuri, pokoknya yang penting halal. Kami berlima muslim, tapi rukun dengan jemaat-jemaat gereja," kata dia.

Dari pekerjaannya itu, pria beristrikan Cholilah (43) itu telah berhasil menyekolahkan ketiga putrinya. Bahkan, anak pertamanya akan meraih gelar sarjana pada 28 Desember nanti.

" Alhamdulillah, keluarga saya harmonis saja, tidak ada cemoohan tetangga walaupun kerja di gereja, ketiga anak saya sekolah semua, ada masih SMP, SMA, dan satu lagi akan diwisuda," tuturnya.

5 dari 5 halaman

Miris Intoleransi

Pakde juga mengamati pergolakan politik di Indonesia. Dia mengaku miris dengan isu-isu intoleransi dan ketidakharmonisan antar umat beragama.

Bagi dia, hal itu tak perlu terjadi jika setiap warga negara memiliki keimanan dan kebangsaan yang tinggi. Intoleransi justru memecah belah persatuan bangsa dan menghancurkan NKRI.

" Semua cinta Indonesia, kita adalah Indonesia, mari jaga NKRI. Terlalu bodoh bangsa hancur karena perbedaan keyakinan. Inilah Indonesia, Bhinneka Tunggal Ika, harus dipahami betul," kata dia.

 Ilustrasi toleransi© Pixabay

Menurut dia, intoleransi tak lain muncul karena muatan politik. Oknum-oknum tertentu menggunakan isu agama untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

" Jika Indonesia tak kondusif, tak aman, ekonomi pasti kacau. Nah, siapa lagi yang dirugikan kalau bukan kita sendiri, apalagi orang-orang menengah ke bawah, pasti sangat terasa dampaknya," kata dia.

" Saya orang biasa, pendidikan rendah, tapi paham dengan toleransi karena saya terlibat langsung, saya menjalani. Mari, mari kita semua menjadi toleransi antar umat beragama, mari kita jaga NKRI tetap utuh, demi anak cucu kita kelak," tutupnya. 

Laporan Irwanto/ Sumber: Merdeka.com

Beri Komentar