Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemilik Suatu Restoran Di Giuyang, Tiongkok, Liu Xiaojun, Salah Menerapkan Promosi. (Foto: Shanghaiist)
Dream – Untuk menarik pelanggan, pemilik restoran, terutama yang baru berdiri, biasanya suka memberikan promo. Misalnya, promo makan gratis di tempat atau beli satu gratis satu.
Tapi, ada promo unik yang diberlakukan restoran baru di Guiyang, Tiongkok. Restoran baru—tak disebutkan namanya—ini menawarkan promosi “ bayarlah makanan yang kamu mau”. Konsumen pun tinggal membayar makanan yang diinginkan.
Terbukti, promo yang dilakukan pemilik restoran ini ampuh. Banyak pengunjung berdatangan membeli makanannya.
Namun saat menghitung modalnya, wajah si pemilik berubah masam. Tak disangka, konsep ini merupakan ide yang sangat buruk.
Dalam seminggu, restoran bertema karst ini justru rugi 100 ribu yuan atau Rp193,29 juta. Mengapa bisa begitu?
© Dream
Dilansir dari Shanghaiist, Rabu 19 Oktober 2016, promo ini diberlakukan saat restoran ini beroperasi pertama kali pada 2 Oktober 2016. Karena tak ada manajemen yang bagus, pihak restoran tidak mengantisipasi massa yang memanfaatkan situasi itu.
Beberapa konsumen hanya membayar 10 persen dari biaya makan mereka sementara mereka berani membayar 1 yuan atau Rp1.932 di atas meja. Seminggu kemudian, restoran ini merugi lebih dari Rp100 juta.
“ Kalau layanan makanan kami bermasalah, itu akan menjadi cerita lain. Tapi, menurut konsumen, makanan kami lezat dan enak. Hanya pembayaran yang tidak sebanding dengan biaya makan mereka,” kata pemilik restoran, Liu Xiaojun.
© Dream
Seminggu kemudian, promo ditutup. Liu bersama dua orang temannya berdebat tentang kelanjutan bisnis ini setelah merugi Rp139 juta. Satu orang sudah mengumumkan akan pergi dan tidak akan kembali.
Awalnya, mereka percaya akan kebaikan manusia dan kepercayaan mereka berbalik menjadi “ rasional dan adil” ketika menerima tagihan pembayaran.
Ironisnya, ketika promo berakhir, tak ada satu pun pelanggan yang datang ke restoran.
“ Ini menimbulkan kesan, orang-orang suka makan, tapi bayar sedikit. Saya tidak mengerti mengapa mereka tidak kembali sejak promosi berakhir,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya