Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemimpin Umat Katolik Dunia, Paus Fransiskus (Shutterstock.com)
Dream - Paus Fransiskus menyerukan penganut semua agama di dunia untuk berpuasa sehari dan berdoa meminta pertolongan Tuhan untuk mengakhiri pandemi virus corona.
Komite Tertinggi Persaudaraan Manusia (HCHH) mengorganisasikan jadwal berdoa bersama di seluruh dunia pada 14 Mei 2020, yang juga bertepatan dengan bulan suci Ramadhan.
Imam Besar Al Azhar Mesir, Syeikh Ahmad Al Tayeb menyambut baik inisiatif Paus Fransiskus. Dia menyerukan seluruh dunia agar berdoa dan melakukan kegiatan amal demi bersama-sama melawan pandemi Covid-19.
" Demi Allah Yang Maha Besar, agar mengangkat pandemi ini dari kita dan seluruh dunia," tulisnya dalam sebuah unggahan Facebook dilansir dari Alarabiya.
Ajudan Paus Fransiskus yang juga pendeta dari Mesir, Monsignor Yoannis Lahzi Gaid, mengatakan hari berpuasa bersama tersebut akan menjadi momen bersejarah bagi umat beragama.
" Ini akan menjadi pertama kalinya semua manusia bersatu demi satu tujuan, berdoa bersama menurut keyakinan masing-masing, membuktikan agama itu menyatukan, bukan memecah belah," jelas Yoannis.
Seperti diketahui, virus corona dapat menyerang siapa saja dengan agama dan latar belakang apapun.
" Virus ini membuat kita paham kerentanan kita dan perlunya bersatu sebagai saudara. Kita tiba bisa mengatasi ini sendiri-sendiri," jelas Gaid, yang merupakan anggota HCHH.
" Covid-19 membuat kita semua lemah. Tapi kelemahan tersebut adalah posisi terbaik untuk kita berdoa," tambahnya.
HCHH yang dibentuk tahun lalu atas dukungan Uni Emirat Arab juga menyatakan orang-orang berdoa untuk para ilmuwan agar dapat menemukan vaksin Covid-19 secepatnya.
Walaupun sains ilmiah dan keyakinan tradisional dianggap tidak setara, Gaid mengatakan tak ada kontradiksi antara keduanya, seperti yang ditunjukan oleh pendemi ini.
" Ada sebuah sifat yang saling mengisi. Sains tanpa agama hanya cakrawala dan agama tanpa sains hanya sebuah wacana. Ini pelajaran hebat dari Covid-19," jelas Gaid.
Ini bukan pertama kalinya para pemimpin dan cendikiawan agama dunia mendukung ilmu pengetahuan.
Merefleksikan kemajuan ilmiah dan teknis merupakan fokus dari pertemuan antaragama HCHH yang mengarah pada penandatanganan " Dokumen Persaudaraan Manusia" oleh Paus Fransiskus dan Ahmad Al Tayeb tahun lalu.
Para pemimpin dunia lainnya juga telah berdoa bersama pada 14 Mei, termasuk Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Lebanon Michel Aoun, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Gutteres dan Patriark Ekumenis Konstantinopel Bartholomew.
Sumber: Alarabiya
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya