Pengakuan Peneror Order Fiktif Wanita di Kendal Selama 2 Tahun

Reporter : Cynthia Amanda Male
Senin, 3 Agustus 2020 15:36
Pengakuan Peneror Order Fiktif Wanita di Kendal Selama 2 Tahun
Astaga ternyata motifnya gara-gara ini.

Dream - Polisi menangkap pelaku teror paket misterius ke Titik Puji Rahayu (20) gadis asal Kendal, Jawa Tengah. Keberadaan pelaku terlacak dari nomor ponsel ketika mengirim barang.

" Setelah diselidiki dan lacak nomor ponsel yang buat pesan barang itu, kita lakukan mapping, dan ternyata lokasinya ada di Semarang," kata Kasat Reskrim Polres Kendal AKP Aji Darmawan kepada wartawan di kantornya, Senin 3 Agustus 2020.

Penyidik bekerja sama dengan tim IT Polda Jateng untuk penyidikan kasus ini. Pelaku diketahui berinisial Novi Wahyuni warga asal Demak.

Setelah diperiksa selama empat jam, pelaku kini resmi ditetapkan sebagai tersangka. Untuk meyakinkan pesanan, Novi Wahyuni diketahui kerap mengirimkan titik pengiriman barang di tempat tinggal korban atau share location.

 

1 dari 2 halaman

Pengakuan Pelaku

Motif pelaku lantaran dendam kepada korban. Kata pelaku, korban pernah menyuruh orang lain memukulnya.

“ Saya jengkel dan dendam karena saat kerja di Semarang, Titik pernah meminta orang lain memukul saya. Saya juga pernah ada hubungan dengan Titik,” kata Novi dikutip dari Ayosemarang.com.

Kapolres Kendal AKBP Ali Wardana mengatakan, masih mendalami motif lainnya dari pengakuan tersangka. Polisi menjerat dengan pasal pencemaran nama baik melalui transaksi elektronik dengan ancaman 20 tahun penjara. 

Dari tangan pelaku, polisi mengamankan belasan sim card yang digunakan untuk memesan barang. Selain itu akun palsu media sosial yang dibuat untuk memesan orderan fiktif. Kerugian akibat orderan fiktif yang dilakukan pelaku bermacam-macam mulai dari buah-buahan, barang bangunan hingga barang elektronik.


 

2 dari 2 halaman

Ada Motif Lain?

Selain meneror dengan paket misterius, NW juga menyebarkan berita bohong atau hoaks ke media sosial dengan menggunakan akun palsu. NW juga menggunakan belasan nomor ponsel untuk meneror korban.

Diketahui, teror yang dialami Titik adalah mendapatkan kiriman paket beraneka barang yang tidak dipesannya. Barang-barang itu dikirim dengan status belum dibayar. Seperti paket parabola dan satu truk pisang.

Teror itu berlangsung sejak tahun 2018 saat Titik bekerja di Semarang. Kondisi tersebut membuat Titik trauma dan ketakutan. Pihak keluarga akhirnya melaporkan kejadian itu ke polisi.

Beri Komentar