Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Keturunan ibarat malaikat kecil yang bisa memberikan semangat dalam kehidupan pasangan suami istri. Kehadiran si kecil menambah kebahagiaan keluarga.
Sayangnya, tidak semua orang ditakdirkan bisa memiliki keturunan. Tidak sedikit pula seorang ibu merasakan kesedihan mendalam karena calon bayinya keguguran.
Seorang dokter kandungan di Malaysia menceritakan pengalamannya berhadapan dengan pasien keguguran. Dia ceritakan pengalaman sedih itu di akun Twitternya, @HausofHilton.
" Saya ingat lagi waktu saya menaruh probr di atas perut pasien saya dan memberitahu dia, 'Maaf, Bu" . Dia sudah tahu apa yang saya maksud," tulis dia, dikutip dari Siakapkeli.my.
Kondisi pasien itu terus mengalami pendarahan sejak di rumah hingga ke klinik. Bersamaan dengan keluarnya darah, tampak gumpalan keluar.
" Dia menangis di depan saya. Sudah beberapa tahun dia berusaha hamil," kata dokter tersebut.
Dokter itu mengaku tidak bisa berbuat banyak. Dia pun merujuk pasiennya ke dokter spesialis penyakit wanita.
" Keesokan harinya, saya dapat 'tangisan' lain di klinik saya. Ada pasangan datang setelah 11 tahun mereka berusaha mendapatkan keturunan. Dan saat mereka menangis, tangis mereka penuh kegembiraan mendengar detak jantung calon bayi untuk pertama kalinya," kata dia.
Dokter itu menjelaskan kehamilan adalah masa yang indah dalam kehidupan rumah tangga. Kaum pria harus menjadi penyokong para istri tidak hanya selama masa kehamilan, melainkan sebelum dan sesudahnya.
" Tidak mudah bagi pasangan yang tidak memiliki anak. Mereka akan direndahkan oleh masyarakat, dijuluki 'tidak subur'," kata dia.
Dia pun menceritakan pengalaman menjumpai fakta pasangan tidak punya anak di suatu negara. Ketika seorang wanita tidak bisa mengandung, suaminya dilarang datang ke pernikahan saudaranya karena dianggap membawa nasib buruk kepada pengantin baru.
" Jika persoalan ini terjadi pada kita, kita akan bertanya, 'Kenapa saya?' Ada yang mulai menyalahkan Tuhan. Ingat, rezeki ini bukan berarti kamu dapat apa yang kamu mau. Tapi bila kamu menerima apa yang diberikan Tuhan," tulis dia.
Lebih lanjut, dokter itu mengingatkan rezeki dari Tuhan sangat luas. Jika tidak ada rezeki berupa anak, mungkin ada rezeki lain seperti mertua yang baik.
" Jika tidak ada rezeki uang, mungkin diberikan rezeki kesehatan. Jika tidak ada rezeki hari ini, mungkin ada rezeki yang lebih baik di esok hari. Bersabar. Bersyukur. Berusaha. Berdoa. Bertawakal." tulis dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya