Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Pembuatan Video Teroris Palsu (sumber: Twitter/@TBIJ)
Dream - Fakta terbaru mengenai perang di Timur Tengah terkuak. Hasil investigasi Biro Jurnalisme Investigatif menyebut Pentagon membayar US$540 juta atau setara Rp7,01 triliun sebuah perusahaan komunikasi publik asal Inggris, Bell Pottinger.
Perusahaan ini diminta untuk membuat video teroris palsu di Irak pada 2007 dan 2011.
Dalam kontrak itu, Bell Pottinger mendapat perintah dari Central Intelligence Agency (CIA), National Security Council (NSC), dan Pentagon untuk menunjukan sisi negatif Al-Qaeda.
Mereka menciptakan konten televisi seolah-olah itu datang dari televisi di jazirah Arab Saudi. Rencana operasi itu dimulai sejak invasi Amerika Serikat ke Irak.
Menurut East Middle Monitor, selain menggambarkan sisi kelam Al-Qaeda, Bell Pottinger juga mendapatkan arahan untuk mempromosikan 'pemilu demokratis'. Setelah itu, mereka mendapat tugas untuk menjalankan misi 'operasi psikologis'.
© Dream
Mantan karyawan Bill Pottinger, Martin Wells mengatakan, dia dikontrak perusahaan itu sebagai editor video. Dia diminta untuk mengedit konten 'operasi psikologis' di Camp Victory.
Dalam pembuatan tayangan, para kru film diminta untuk membuat video pemboman dengan gambar kualitas rendah. Perusahaan kemudian mengedit untuk membuatnya seolah-olah terlihat cuplikan berita.
Tak jarang, perusahaan itu membuat rekaman Al-Qaeda palsu yang disertakan pada setiap operasi penyergapan yang dilakukan militer Amerika Serikat.
" Kami perlu membuat gaya pada video yang dibuat dan kami harus menyertakan sumbernya dari Al-Qaeda," kata Wells.
© Dream
Selain bekerja sama dengan militer Amerika Serikat, perusahaan itu dikenal kerap bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi dan yayasan milik diktator Chili, Augusto Pinochet untuk membuat propaganda rahasia.
Pentagon tak hanya sekali bekerja dengan perusahaan komunikasi publik semacam Bill Pottinger. Pada 2009, Pentagon telah menyewa perusahaan komunikasi publik yang namanya cukup kontroversial, The Rendon Group. Perusahaan itu disewa untuk memonitor laporan wartawan yang telah ditanam militer Amerika Serikat di perusahaan tempat dia bekerja.
Selain dua nama perusahaan itu, militer Amerika Serikat turut mengampanyekan misi perang di Iraq pada 2005. Peristiwa itu muncul setelah perusahaan komunikasi publik Lincoln Group mengirimkan artikel ke sejumlah media massa. Artikel itu ditulis secara rahasia oleh militer Amerika Serikat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya