Peran Tenaga Medis dan Media Sosial Putuskan Rantai Penyebaran Covid-19

Reporter : Amrikh Palupi
Sabtu, 21 November 2020 15:10
Peran Tenaga Medis dan Media Sosial Putuskan Rantai Penyebaran Covid-19
Seperti apa?

Dream - Pandemi saat ini sangat membutuhkan peran tenaga medis, serta media sosial untuk membantu memutuskan rantai penyebaran covid 19. dua peran tenaga medis dan media sosial sangat memberi pengaruh dan peran yang besar dalam memutus rantai penyebaran virus corona.

Selain menjadi garda terdepan dalam menangani pandemi corona, tenaga medis juga bisa membantu masyarakat dengan cara memberi informasi akurat dan penyuluhan terkait COVID-19 melalui media sosial.

" Tenaga kesehatan itu jadi ujung tombak dari penanganan COVID-19, ada beberapa peran dari tenaga kesehatan yang selama ini akan terus dilakukan oleh para tenaga kesehatan," ujar Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Bidang Informasi dan Komunikasi Publik, Transformasi Digital dan Hubungan Antar Lembaga, Ibu R. Niken Widiastuti, Sabtu 21 ovember 2020.

Media sosial© Media sosial

Menurut Niken, saat ini pola hidup, sikap, dan perilaku masyarakat sudah berbeda dibanding sebelumnya. Hal itu pun berimbas kepada segala bidang yang menerapkan protokol kesehatan serta physical distancing.

" Mengapa kita perlu physical distancing? Saat ini organisasi kesehatan dunia (WHO) telah mengubah istilah pembatasan sosial (social distancing) menjadi menjaga jarak fisik (physical distancing). Alasan penggunaan istilah ini adalah untuk mengklarifikasi bahwa ada instruksi untuk berdiam di rumah demi memutus rantai penyebaran virus corona. Namun, bukan berarti kita memutus kontak dengan partner atau keluarga secara sosial," ucapnya.

Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhillah membeberkan sejumlah peran vital perawat di masa pandemi. " Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan, WHO juga menyoroti bagaimana perawat seluruh dunia saat ini berada di garis depan dalam penanganan pasien, keberanian yang dibarengi dengan belas kasih kepada pasien untuk melawan corona." ujarnya.

Tak hanya memberikan pelayanan di bidang kesehatan saja, saat ini perawat juga bisa memberikan informasi terkini dan terpercaya terkait COVID-19 melalui media sosial. Selain itu, media sosial yang digunakan juga bisa memberi edukasi kepada masyarakat bagaimana bisa tetap sehat di tengah pandemi.

" Perawat harus memahami terkait penggunaan medsos untuk meningkatkan dan informasi dalam praktik dan penyuluhan kesehatan termasuk juga memahami resiko dalam penggunaan medsos," kata Harif.

Namun demikian, masih kata Harif, perawat juga harus berhati-hati dalam memposting gambar atau konten ketika tidak terkait dan tidak membantu penguatan citra keperawatan secara global.

 

Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.

1 dari 7 halaman

Canggih! Teknologi Ini Bisa Deteksi Covid-19 Lewat Suara Batuk

Dream - Salah satu hal yang paling berbahaya dari adanya pandemi Covid-19 ini adalah terjangkitnya seseorang dengan Covid-19 kerap tidak memberi gejala.

Jadi para penderita tidak melakukan isolasi mandiri, dan berpotensi besar menjadi carrier untuk orang lain.

Nah, baru-baru ini peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) menemukan, suara batuk dipercaya bisa mendeteksi kemungkinan seseorang terinfeksi Covid-19.

Hal ini tentu bisa menjadi sistem peringatan dini untuk mengetahui persebaran virus. Selama bertahun-tahun, dokter telah mengetahui bahwa suara batuk seseorang bisa menguak penyakit yang diderita.

2 dari 7 halaman

Teknologi Kecerdasan Buatan

Mengutip laman Techcrunch via Tekno Liputan6.com, para peneliti di MIT menggunakan permodelan kecerdasan buatan atau AI (artificial intelligence) untuk mendeteksi kondisi seperti pneumonia, asma, bahkan penyakit neuromuskuler menggunakan suara batuk.

Peneliti Brian Subirana berpikir, AI mampu memberikan informasi mengenai Covid-19. Bersama timnya, Subirana membuat database berisi ribuan sampel suara batuk untuk melatih model AI yang kemudian didokumentasikan pada jurnal terbuka.

Model itu mendeteksi pola halus batuk dalam hal kekuatan suara, sentimen, kinerja paru-paru dan pernapasan, hingga degradasi otot.

Hasilnya, model AI tersebut bisa mengidentifikasi 100 persen batuk oleh penderita Covid-19 tanpa gejala, 98,5 persen.

 

3 dari 7 halaman

Bukan Alat Diagnosis

Ilustrasi© Shutterstock

" Kami pikir ini menunjukkan cara seseorang menghasilkan suara berubah ketika mereka terkena Covid-19. Bahkan ketika mereka tidak bergejala," kata Subirana tentang temuan tersebut.

Ia mengatakan, meskipun model AI ini cukup baik dalam mendeteksi Covid-19 berdasarkan suara batuk, sistem ini tidak bisa dipakai sebagai alat diagnosis untuk orang dengan gejala tetapi tidak yakin penyebab yang mendasarinya.

" Alat tersebut mendeteksi fitur yang memungkinkannya membedakan subjek dengan Covid-19 dan yang tidak terkena Covid-19," katanya kepada Techcrunch.

Ia juga menyebut, penelitian sebelumnya menunjukkan, deteksi bisa dilakukan dengan metode lainnya.

4 dari 7 halaman

Dibentuk Hasil Kerjasama

Dengan kata lain, bagi mereka yang melihat keberhasilan berdasarkan angka statistik, tingkat keberhasilan yang sangat tinggi bisa menimbulkan bahaya.

Pasalnya, model AI memang hebat dalam banyak hal, namun angka 100 persen bukanlah angka yang sering terjadi, sehingga penelitinya harus menggunakan cara lain, jika model tersebut membuat kesalahan.

Selain itu, temuan ini juga perlu dibuktikan dengan kumpulan data lain dan diverifikasi oleh para penelitian. Namun, bukan tidak mungkin model AI ini nantinya bisa diandalkan untuk mendeteksi Covid-19.

Sejauh ini tim peneliti telah bekerja sama dengan beberapa rumah sakit untuk membangun kumpulan data yang lebih beragam.

Mereka juga bekerja sama dengan perusahaan swasta untuk menyusun aplikasi, guna mendistribusikan penggunaan yang lebih luas, jika nantinya mendapat persetujuan dari FDA.

5 dari 7 halaman

Sri Mulyani Ungkap Covid-19 Lebih Merugikan Pekerja Perempuan

Dream – Ketimpangan gender antara perempuan dan laki-laki dalam partisipasi angkatan kerja semakin meningkat akibat pandemi Covid-19. Dampak dari krisis kesehatan ini lebih terasa bagi perempuan, mengingat sektor seperti restoran, akomodasi, hotel, dan pekerja rumahan yang paling tertekan.

“ Dengan kondisi seperti ini, akibatnya ketimpangan gender semakin meningkata dan terjadi penurunan partisipasi angkatan kerja perempuan,” kata Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam UN Women Asia Pacific WEPs Awards Ceremony in Indonesia, dikutip dari Merdeka.com, Kamis 19 November 2020.

Menurut laporan awal dari ADB-UN Women’s High-Level Roundtable pada 2020, sebanyak 54 persen dari 75 juta pekerja di restoran dan industri akomodasi adalah perempuan.

“ Mereka adalah pihak yang menderita dari kondisi ini karena kegiatan merekalah, pekerjaan mereka lah yang paling terdampak Covid-19,” kata dia.

6 dari 7 halaman

Perempuan Kehilangan 50 Persen Jam Kerja

Sri Mulyani menjelaskan, perempuan kehilangan 50 persen jam kerjanya sedangkan laki-laki hanya kehilangan 35 persen. Terjadi implikasi yang asimetris dari Covid-19 khususnya di sektor-sektor formal di Asia.

Tak hanya itu, dia menuturkan di tingkat global pendapatan dari 740 juta pekerja perempuan di sektor informal juga berkurang sebesar 60 persen dalam bulan pertama setelah terjadinya Covid-19.

Dia melanjutkan sekitar 40 persen dari pekerja perempuan di seluruh dunia bekerja di sektor-sektor yang paling terdampak dan bahkan, 70 persen pekerja di sektor sosial dan layanan kesehatan merupakan perempuan sehingga mereka menjadi lebih rentan.

“ Dunia juga mengalami kehilangan jam kerja yang cukup signifikan sebesar 18,9 persen pada 2020 atau 340 juta lapangan kerja full time atau purna waktu pada paruh kedua 2020,” kata Sri Mulyani.

7 dari 7 halaman

Angkatan Kerja Perempuan Indonesia

Sri Mulyani mengatakan angkatan kerja perempuan di Indonesia lebih rendah dari negara lain sejak sebelum pandemi sehingga sekarang jumlahnya semakin turun akibat Covid-19.

“ Indonesia pada 2020 partisipasi kerja perempuan juga telah sedikit menurun dari 55,5 persen tahun lalu menjadi 54,56 persen sementara tingkat partisipasi angkatan kerja laki-laki justru meningkat,” kata dia.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2020, partisipasi gender Indonesia dan ketimpangan upah atau pay gap masih 23 persen yang artinya perempuan mendapatkan upah 23 persen lebih rendah dibanding laki-laki.

“ Ini untuk konteks Indonesia, di tingkat global ketimpangan upah gender ini 16 persen artinya perempuan dibayar jauh lebih rendah dibandingkan pekerja laki-laki,” kata dia.

Di Indonesia, perempuan yang bekerja sebagai yang pekerja profesional jumlahnya masih kurang dari 15 persen dan bahkan, untuk di tingkat manajer hanya sekitar 40 persen, sementara secara umum 50 persen.

“ Artinya, lingkungan kerja di Indonesia menempatkan perempuan sebagai minoritas dan mereka menghadapi tantangan yang jauh lebih besar untuk bekerja di sektor-sektor yang sama dengan laki-laki,” kata Sri Mulyani.

Beri Komentar