Perjalanan Karir Muhammad Kadafi, Dari Kursi Rektor Hingga DPR RI

Reporter : Iwan Tantomi
Jumat, 27 September 2019 14:48
Perjalanan Karir Muhammad Kadafi, Dari Kursi Rektor Hingga DPR RI
Dari total 575 kursi DPR periode depan, PKB mendapatkan 58 kursi, dan salah satunya ditempati Kadafi.

Bukan perkara gampang membangun karir cemerlang dari awal. Namun, hal ini mampu ditepis oleh seorang pemuda bernama Muhammad Kadafi. Tampilannya yang rapi, ditambah gaya bertuturnya yang ramah, santun dan teratur, membuat beberapa orang mungkin tak mengira jika, ia adalah seorang doktor sekaligus rektor Universitas Malahayati, Bandar Lampung.

Dr H Muhammad Kadafi, begitu nama lengkapnya, malah kini bersiap melanjutkan karirnya di Senayan. Ia menjadi salah wakil rakyat dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) asal Lampung, yang bakal dilantik menjadi anggota DPR-RI untuk periode 2019-2024. Dari total 575 kursi DPR periode depan, PKB mendapatkan 58 kursi, dan salah satunya ditempati Kadafi.

Latar Belakang dan Pendidikan

Kadafi yang merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara, lahir di Aceh Besar pada 8 Oktober 1983 dari pasangan Rusli Bintang dan Rosniati Syeh. Berkat arahan orangtuanya, sejak kecil Kadafi aktif menimba ilmu agama di pesantren milik ayahnya, Abulyatama dan Babun Najah di Aceh Besar. Selepas dari MIN 1 Banda Aceh pada 1995, Kadafi melanjutkan pendidikannya di SMPN 1 Banda Aceh. Kadafi kemudian merantau untuk melanjutkan pendidikan di SMAN 9 Bandar Lampung.

Memasuki jenjang perguruan tinggi, Kadafi kuliah di Universitas Lampung, dan meraih gelar Sarjana Hukum pada 2006 sebagai lulusan terbaik. Ia lantas meniti karir sebagai dosen di Universitas Malahayati sejak 2007, sembari melanjutkan Program Pascasarjana, dan berhasil meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Lampung pada 2009. Pada 2015, Kadafi akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Diponegoro pada 27 Februari 2015.

Karir Cemerlang Sebagai Rektor

Dr H Muhammad Kadafi© Dr H Muhammad Kadafi

Dr H Muhammad Kadafi menjadi rektor di Universitas Malahayati, Bandar Lambung sejak 2010. Sepanjang menjabat, ia berhasil meningkatkan kualitas kampus, hingga sejak 2017 12 dari 15 prodi di Universitas Malahayati terakreditasi B, termasuk Fakultas Kedokteran. Bahkan, di bawah pimpinannnya, Universitas Malahayati terakreditasi B, peringkat terbaik untuk PTS di wilayah Kopertis II, yang mencakup Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu serta Kepulauan Bangka Belitung. Pencapaian itu pun membuat Kadafi kembali dipercaya menjadi rektor untuk periode 2018-2022.

Jabatan Prestisius Sebagai Pebisnis

Selain dunia akademis, Kadafi juga melebarkan sayap di bidang bisnis. Tercatat, ia pernah menjadi Direktur PT Pertamina Bintang Amin, serta Wakil Direktur Keuangan Rumah Sakit Bintang Amin Husada, Bandar Lampung, Lampung. Bukan itu saja, Kadafi juga aktif sebagai Ketum HIPMI Lampung, juga Ketua Kadin Lampung. Bahkan, ia menjadi Ketua Kadin termuda di Indonesia.

Punya Jiwa Sosial Tinggi

Kadafi memiliki jiwa sosial tinggi. Hal itu pun kerap diterapkan dalam setiap kepemimpinannya. Hasilnya, Universitas Malahayati aktif memberikan santunan kepada anak yatim secara berkelanjutan. Tak heran jika, Koran Lampung Post menobatkan Kadafi sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh di Lampung. Selain itu media Kupas Tuntas menganugerahinya Award 2018 sebagai tokoh dengan kepedulian sosial.

Kadafi juga aktif mengunjungi pesantren, terlebih keluarga besarnya dekat dengan kalangan ulama, tak heran jika  kini Kadafi pun menjadi anggoto Dewan Pakar MUI Lampung, serta Ketua Departemen Kelembagaan Pendidikan Tinggi NU Pusat. Kedekatannya dengan kalangan NU itu juga pada akhirnya yang membuat Kadafi sebagai politisi PKB, yang kemudian dipercaya sebagai anggota DPR-RI dari Provinsi Lampung.

Itulah perjalanan karir Dr Muhammad Kadafi yang memang sedari kecil sudah mendapatkan bimbingan yang tepat, hingga menjadi pimpinan yang amanah. Berkat kepedulian sosialnya yang tinggi, ayah dua anak sekaligus penggemar berat burung kicau ini pada akhirnya dipercaya oleh masyarakat sebagai wakil rakyat dari Lampung.

Kontributor: Nurlis E Meuko

Beri Komentar