Jokowi Turut Berduka untuk 2 Mahasiswa Meninggal di Aksi Demo Kendari

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 27 September 2019 13:43
Jokowi Turut Berduka untuk 2 Mahasiswa Meninggal di Aksi Demo Kendari
Jokowi meminta keluarga dua mahasiwa tersebut bersabar.

Dream - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan ucapan duka atas meninggalnya dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, Randi dan M Yusuf Kardawi.

Keduanya meninggal saat terjadi aksi demonstrasi menolak Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKHUP) di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kendiri, Kamis, 26 September 2019.

" Innalillahi wainnailaihi rojiun, saya atas nama pemerintah, menyampaikan duka cita yang mendalam dan belasungkawa mendalam atas meninggalnya ananda Randy dan ananda Yusuf Kardawi," kata Jokowi dilaporkan Liputan6.com, Jumat, 27 September 2019.

Jokowi mengatakan telah mendapat laporan meninggalnya dua mahasiswa tersebut dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Jokowi berharap keluarga dua mahasiswa tersebut dapat diberi ketabahan.

" Semoga apa yang diperjuangkan menjadi kebaikan bagi bangsa ini dan mendapatkan tempat yang paling mulia di sisi-Nya," ucap dia.

(Sah, Sumber: Liputan6.com/Lizsa Egeham)

 

1 dari 5 halaman

Hasil Autopsi Mahasiswa Kendari: Peluru Masuk Dada Kiri Samping, Keluar Dada Kan

 

Dream - Hasil autopsi kematian mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Randi saat unjuk rasa pada Kamis, 26 September 2019 telah keluar. Dokter Raja Alfath Atfath Widya Iswara membenarkan kalau korban meninggal dunia akibat luka tembak.

Dari hasil autopsi, dokter menemukan kalau peluru masuk melalui dada samping kiri dan keluar di dada kanan depan.

" (Peluru) tembus, jalurnya panjang, kedalamannya tak bisa kami ukur," ujar Alfath dikutip dari Liputan6.com.

Akibat peluru yang menembus di area dada itu, beberapa organ vital korban mengalami kerusakan seperti, bagian paru-paru kanan dan kiri terjadi pendarahan.

" Mengenai sedikit pembuluh darah, ada namanya media stinum, terletak di tengah paru-paru kanan dan paru-paru kiri," ucap dia.

Saat melakukan operasi, polisi tidak menemukan peluru bersarang di tubuh korban. Diduga, peluru tersebut sudah keluar saat menembus dada kanan.

" Lebar luka pada dada kiri yakni 0,9 sentimeter, sementara lebar lubang dada kanan sekitar 2,1 sentimeter," kata dia.

Tim dokter menduga, korban ditembak dari jarak jauh. Sebelum meninggal, korban mengalami pendarahan di paru-paru.

(Sumber: Liputan6.com/Ahmad Akbar Fua)

2 dari 5 halaman

Korban Demo Kendari Bertambah, 2 Mahasiswa Tewas

Dream - M Yusuf Kardawi, mahasiswa jurusan Teknik D-3 Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara, dinyatakan meninggal dunia. Yusuf yang sempat kritis menjalani perawatan intensif di RSU Bahteramas, Kendari.

" Iya pasien Muh Yusuf Kardawi (19) menjalani perawatan intensif pascaoperasi di RSU Bahteramas Kendari, Sulawesi Tenggara meninggal dunia Jumat, 27 September 2019 sekitar pukul 04.00 WITA," kata Plt Direktur RSU Bahteramas, dr Sjarif Subijakto, dilaporkan Liputan6.com.

Antara melansir, Yusuf merupakan pasien rujukan dari RS Ismoyo Korem 143/Haluoleo yang menerima operasi karena cedera serius saat aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis, 26 September 2019.

Yusuf menjadi korban kedua yang tewas setelah aksi ini. Sebelumnya, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan UHO, Randi meninggal saat bentrokan, Kamis, 26 September 2019.

Kapolres Kendari AKBP Jemi Junaidi yang dikorfirmasi tidak bersedia memberikan penjelasan.

" Silahkan konfirmasi ke Polda Sultra," kata Kapolres Jemi melalui saluran telepon.

3 dari 5 halaman

1 Mahasiwa Kendari Tewas Saat Demonstrasi, 1 Kritis

Dream - Satu orang mahasiswa Universitas Halu Oleo tewas saat berunjuk rasa. Randi, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan angkatan 2016, meninggal.

Randi diduga tewas akibat luka tembak di bagian dada sebelah kanan. Satu mahasiswa lainnya dilaporkan kritis. 

Muhammad Yusuf Kardwi, mahasiswa Fakultas Teknik angkatan 2018. Dilaporkan Inikata Sultra, Yusuf kritis akibat luka di bagian kepala.

Kepala Penerangan Korem 143/HO, Mayor Arm Sumarsono. Dia meninggal pukul 18.15 Wita.

" Benar. Satu korban kritis yang sempat ditangani RS TNI dan dirujuk ke RSUD Bahteramas sudah meninggal dunia," ujar Sumarsono.

Sesaat sebelum insiden, terjadi kericuhan antara mahasiswa dan polisi di depan Kantor DPRD Povinsi Sulawesi Tenggara sekitar pukul 16.40 Wita.

Saat itu, massa demo mahasiswa berusaha masuk ke depan gedung sekretariat DPRD sejak aksi mulai digelar pukul 13.00 Wita.

Polisi kemudian melepaskan ratusan tembakan gas air mata dan peringatan.

4 dari 5 halaman

Wiranto: Demo Mahasiswa Dibajak Kelompok yang Ingin Gagalkan Pelantikan Presiden

Dream - Menteri koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Wiranto, mengatakan, aksi demonstrasi mahasiswa pada Selasa 24 September 2019 telah diambil alih kelompok tak bertanggung jawab.

" Saya kira yang dihadapi atau dengan lain kelompok yang mengambil alih demonstrasi mahasiswa itu, bukan murni lagi untuk mengoreksi kebijakan pemerintah tapi telah cukup bukti bahwa mereka ingin menduduki DPR dan MPR agar DPR tidak dapat melaksanakan tugasnya, dalam arti DPR tidak dapat dilantik," kata Wiranto, dikutip dari Liputan6.com, Kamis 26 September 2019.

Wiranto mengatakan, para perusuh melawan aparat polisi menggunakan batu, kembang api, dan panah. Para perusuh itu bergerak pada malam hari dan berusaha menimbulkan korban.

Dia menyebut, kelompok perusuh itu ingin menggagalkan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden pada 20 Oktober 2019.

5 dari 5 halaman

Ada Seorang Korban

Sementara itu, Kapolri, Jenderal Tito Karnavian mengatakan, tidak ada pendemo yang tewas akibat luka tembak. Dia membantah kabar yang beredar di media sosial bahwa ada mahasiswa tewas dan dirawat di RS Bhayangkara.

" Ada infonya (pendemo) pingsan dan kemudian dibawa ke RS Polri. Dan info sementara yang bersangkutan meninggal dunia bukan pelajar, bukan mahasiwa, tapi kelompok perusuh," ujar Tito.

Tito menyebut, kemungkinan massa yang tewas karena kekurangan oksigen. Sebab, dia memastikan, tidak ada anggota yang tidak dibekali dengan senjata.

" Sehingga diduga kemungkinan besar yang bersangkutan meninggal karena kekurangan oksigen. Karena di sana saat demo kan panas itu atau mungkin kondisi fisiknya sedang drop karena kita kan enggak tahu bagaimana kondisi fisik seseorang," kata dia.

Sumber: Liputan6.com/Putu Merta Surya

Beri Komentar
Perjuangan Ria Irawan, Pantang Menyerah Lawan Kanker