Ilmuwan Studi Islam Dunia Kumpul di Indonesia

Reporter : Maulana Kautsar
Jumat, 27 September 2019 07:00
Ilmuwan Studi Islam Dunia Kumpul di Indonesia
Tema mengenai kajian filsafat dan kebenaran di era digital menjadi topik diskusi.

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar Annual International Conference On Islamic Stuides (AICIS) tahun 2019. AICIS ini merupakan gelaran yang ke-19 dan mengusung tema Digital Islam, Education and Youth: Changing Landscape of Indonesian Islam.

Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Kamaruddin Amin, mengatakan, tajuk utama yang akan dibahas dalam AICIS 2019 adalah " Religion and Philosophy in the Post-truth Age" .

Tema tersebut akan dibahas oleh empat orang guru besar studi Islam dunia, yaitu Hans-Christian Günther (University of Freiburg, Jerman), Giuseppina Strumiello (University of Bari, Italia), Mohammad Reza Hashemi (Ferdowsi University), dan Mohd Roslan Mohd Noor (University of Malaya, Malaysia).

" AICIS 2019 ini akan dilaksanakan pada 1 hingga 4 Oktober 2019 yang berlokasi di Hotel Mercure Batavia, Jakarta," ujar Amin di kantornya, Jakarta, Kamis 26 September 2019.

Tema lainnya yang akan dibahas dalam AICIS 2019 ini yakni Religion and Philosophy in the Post-truth Age, Response to the Era of Disruption, Making and Consuming Islam Online: The Reconfiguration of a Discursive Tradition?, dan Islam in the Digital Age Islamic Philoshopy for Millennials.

1 dari 5 halaman

1.300 Makalah

Amin menyampaikan, Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, menjadi salah satu keynote speaker dalam konferensi ini.

Amin menjelaskan, jumlah peserta yang mengikuti konferensi internasional ini sebanyak 1.700 sarjana dari 19 negara. Selain itu, kata dia, AICIS akan menjadi wadah hasil penelitian para akademisi untuk perkembangan kajian dunia.

Total, ada 1.300 makalah yang sudah diterima. Panitia kemudian menyeleksi menjadi 450 makalah yang nantinya akan dipresentasikan.

" Sebanyak 450 paper dari 1300 yang diseleksi, akan dibahas dalam diskusi tingkat tinggi yang diikuti oleh para akademisi studi islam dunia dari berbagai jurusan," kata dia.

2 dari 5 halaman

Gelar Kompetisi Sains Madrasah, Kemenag Harapkan Lahir Ilmuwan Muda

Dream - Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggelar Kompetisi Sains Madrasah (KSM) tingkat nasional. Kali ini, KSM ke-8 digelar di IAIN Manado, Sulawesi Utara pada 16-21 September 2019.

" Pesertanya dari tingkat MI, MTS dan MA baik negeri dan swasta," ujar Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag, Kamaruddin Amin di kantornya, Jakarta, Jumta 13 September 2019.

Kemenag juga mengundang peserta dari sekolah umum, SD, SMP dan SMA dari lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk mengikuti kompetisi tersebut

Kompetisi ini diikuti sebanyak 550 peserta dari 34 provinsi di Indonesia. Peserta yang merupakan siswa dari madrasah mencapai 490 anak didik dan sekolah umum sebanyak 60 siswa, 

Amin mengharapkan dari ajang KSM ini akan terjaring para ilmuwan muda yang berasal dari siswa madrasah.

" Diharapkan dari lomba ini dilahirkan scientist muda," kata dia.

Mata pelajaran yang dilombakan dalam KSM tahun ini yakni matematika terintegrasi, Sains IPA terintegrasi, IPS terintegrasi, biologi terintegrasi, fisika terintegrasi, kimia terintegrasi, ekonomi terintegrasi dan geografi terintegrasi.

Dalam kesempatan itu, Kemenag juga menggelar kegiatan Madrasah Young Reserch Camp. Di ajang tersebut, para siswa akan memamerkan hasil riset di bidang sains, sosial, dan ilmu keagamaan.

Menurut Amin, akan ada 54 judul penelitian dari 1018 proposal yang mengirimkan penelitiannya yang akan memamerkanhasil risetnya.

3 dari 5 halaman

Sengaja Undang Siswa Sekolah Umum

Direktur Sarana Prasarana Kesiswaan dan Kelembagaan (KSKK) Madrasah, Ahmad Umar mengatakan, diundangnya siswa dari sekolah umum bertujuan agar siswa madrasah bisa berkompetisi secara sportif.

Selain itu, tambah Ahmad, Kemendikbud juga seharusnya bisa bersikap demikian untuk mengundang siswa madrasah mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN). Sebab, selama ini siswa madrasah kesulitan ketika hendak mengkuti OSN yang diselenggarakan Kemendikbud.

" Memang ada anak madrasah yang ikut OSN, tapi itu susah payah minta-mintanya. Ada yang juara di Kabupaten, nggak bisa masuk ke provinsi," kata Ahmad.

 

4 dari 5 halaman

Siswi Madrasah Juara Kompetisi Robot Dunia, Idenya dari Mal

Dream - Salma Sonia Jneina Sagiri, membuat Indonesia berbangga. Siswi kelas XII IPA 2 Boarding School Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Surakarta meraih medali emas di ajang World Robot Games 2019 di Bangkok, Thailand, untuk kategori Innovative Robot Extreme.

Robot yang diberi nama Smart Bin in the Mall ini mengantarkan Salma menuju panggung juara tertinggi kompetisi itu. Salma menjelaskan, robot yang dia ciptakan terinspirasi dari kebiasaan pengunjung pusat perbelanjaan atau mal yang jarang mau membuang sampah pada tempatnya.

" Banyak alasan yang disampaikan. Mulai dari malas, takut kotor, dan sebagainya. Robot ini hadir untuk mengatasi hal tersebut," ujar Salma, dikutip dari jateng.kemenag.go.id.

Salma merancang robotnya untuk memudahkan masyarakat yang ingin buang sampah tanpa perlu bersentuhan dengan tempat sampah. Robot itu dibekali sensor sehingga bisa membuka dan menutup tutup tempat sampah.

Kemudian, robot tidak akan membuka tutup secara otomatis jika sampah yang ditampung sudah penuh. Sehingga, sampah harus dibuang lebih dulu agar robot buatan Salma bisa normal beroperasi.

 

5 dari 5 halaman

Pukau Dewan Juri

Robot ini dirancang dengan konsep ramah lingkungan. Selain itu, biaya pembuatan robot ini tidaklah mahal.

Presentasi Salma mampu memukau para juri yang berasal dari berbagai kalangan. Salmapun diganjar emas, mengalahkan ribuan peserta dari negara-negara lain.

Kepala MAN 1 Surakarta, Slamet Budiyono, mengaku bangga dengan prestasi yang diraih Salma. Dia menyatakan capaian tersebut sejalan dengan misi MAN 1 Surakarta untuk Go International.

" Alhamdulillah akhirnya kita bisa go international dan sudah dimulai dari lomba robotik di Thailand," ujar Slamet.

Slamet mengatakan pihak sekolah dan para guru selalu mendorong para siswa untuk berkarya. Terutama berani terjun ke kancah dunia.

" Saya sangat mendorong siswa siswi MAN 1 Surakarta untuk berani berpikir global dan bukan hanya lokal. Termasuk mengikuti lomba juga harus berani tampil di tingkat global," kata dia.

Pembimbing Tim Robotik MAN 1 Surakarta, Prihantoro Eko Sulistyo, mengatakan World Robot Games merupakan kompetisi robot dunia yang digelar tiap tahun. Ada 10 negara berpartisipasi dalam kompetisi ini, yaitu Thailand selaku tuan rumah, Vietnam, Indonesia, Bhutan, Myanmar, Hong Kong, Taiwan, Malaysia, Singapura, dan Filipina.

Prihantoro mengakui performa Salma selama mengikuti ajang kompetisi ini sangat membanggakan. Sebab, siswi MAN itu mampu bersaing dengan peserta dewasa pada kategori Extreme.

Beri Komentar
Indah Permatasari: Karena Mimpi Aku Hidup