Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Slamet Hariadi Dan Ayahnya, Sobirin (Facebook/Wajah Pribumi Solidarity)
Dream - Perawakan anak itu sudah tidak seperti bocah kecil lagi. Tinggi tubuhnya tanggung, lebih tepat jika masuk kategori remaja. Dengan tubuh seperti itu, seharusnya dia sudah duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Tapi, apa yang dialami Slamet Hariadi, 13 tahun, bocah berpostur tubuh remaja itu jauh dari ideal. Dia yang tinggal di Dusun Sadeng RT 12 RW 2 Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Blitar, Jawa Timur ini masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar (SD).
Bukan lantaran Slamet kurang rajin, melainkan kondisi keluarganya yang mengharuskan remaja ini berhenti sekolah. Ayahnya, Sobirin, 47 tahun, merupakan penyandang tunanetra dan ibunya, Kalimah, 57 hanya ibu rumah tangga biasa, seperti ditulis oleh pengelola akun Fanpage Facebook Wajah Pribumi Solidarity.
Sobirin mengalami gangguan pada bagian mata sejak duduk di bangku kelas 2 SD. Tidak jelas apa yang membuat kondisinya seperti itu. Dia hanya mampu menangkap bayang-bayang dari setiap objek yang dilihatnya.
Meski begitu, Sobirin bukan seorang pria lemah. Dalam kondisi seperti itu, dia masih sanggup bekerja sebagai pengumpul pasir sungai untuk bahan bangunan. Lantaran pandangannya yang terbatas, Sobirin harus diantar ke tempat kerjanya oleh Slamet, terkadang istrinya.
Kondisi itu membuat Slamet terpaksa meninggalkan sekolah. Dia tidak ingin orangtuanya kesulitan. Alhasil, selain memapah ayahnya pergi bekerja, Slamet harus mencari rumput sebagai pakan kambing untuk membantu perekonomian keluarga.
Sobirin bersama Kalimah dan Slamet tinggal di sebuah rumah setengah jadi. Rumah itu berdinding batako kasar. Tidak tampak sentuhan finishing di bangunan tersebut, minimal plester semen. Lantainya pun masih berupa tanah.
Slamet sebenarnya memiliki dua orang kakak. Keduanya sudah menikah dan kini, rumah itu hanya dihuni oleh ketiganya.
Tidak ada barang berharga satupun terdapat dalam rumah tersebut, termasuk televisi ataupun radio. Hanya ada sepeda tua teronggok di salah satu sudut rumah. Entah, tak ada yang tahu apakah sepeda tersebut masih dapat digunakan atau tidak.
Selengkapnya, baca pada tautan ini.
(Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya