Ridwan Kamil Tidak Diberi Jatah Vaksin Sinovac

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Selasa, 29 Desember 2020 10:00
Ridwan Kamil Tidak Diberi Jatah Vaksin Sinovac
Ridwan Kamil pernah menjadi relawan vaksin yang masih berproses uji klinis oleh tenaga kesehatan dan Biofarma.

Dream - Ridwan Kamil, tidak akan disuntik vaksin Covid-19 yang dibeli oleh pemerintah pusat. Alasannya, gubernur Jawa Barat itu pernah menjadi relawan uji vaksin yang masih berproses.

" Saya tidak diizinkan untuk divaksin lagi karena nanti akan tercampur dengan vaksin yang sedang diuji. Jadi tokoh-tokoh Jabar yang mengikuti teladan pak presiden kemungkinan dimulai oleh pak wakil gubernur (Uu Ruzhanul Ulum) dan yang lain-lain mengikuti," kata Ridwan Kamil di Makodam III Siliwangi, Bandung, Senin 28 Desember 2020.

Menurut pria yang karib disapa Kang Emil itu, kebutuhan vaksin untuk Jawa Barat minimal 67 juta dosis. Kesiapan vaksinasi terus dilakukan, termasuk menyiagakan lebih dari seribu puskesmas dan 90 rumah sakit yang tenaga kesehatannya sudah dilatih.

" Persiapan vaksin (yang dibeli oleh pemerintah pusat) yang kemungkinan akan dilaksanakan di minggu ketiga Januari 2021," kata dia.

1 dari 5 halaman

Kucurkan Anggaran Hingga Rp637,3 Miliar Untuk Vaksin

Diberitakan sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa Kementerian Kesehatan telah menggelontorkan anggaran sebesar Rp 637,3 miliar untuk membeli vaksin anti Covid-19 pada tahun 2020. Terdiri dari 3 juta dosis vaksin dari Sinovac dan 100 ribu dosis vaksin dari Cansino.

Vaksin tersebut akan didatangkan secara bertahap sesuai yang dijadwalkan pemerintah. Untuk tahap awal, ada 1,2 juta vaksin Sinovac yang telah tiba di tanah air yang akan digunakan pada awal tahun 2021.

" Sementara sebanyak 1,8 juta vaksin Sinovac direncanakan datang pada Januari 2021. Adapun sasaran vaksinasi juga mengikuti ketentuan oleh Kementerian Kesehatan," ujar dia.

 

2 dari 5 halaman

Selain itu, Kementerian Kesehatan juga telah membelanjakan anggaran senilai Rp277,45 miliar untuk pembelian jarum atau alat suntuk, alcohol swab, dan safety box untuk program vaksinasi.

Terakhir, Kemenkes juga kembali merogoh kocek sebesar Rp 190 miliar untuk fasilitas penyimpanan vaksin di suhu dingin.

Rinciannnya, 249 unit lemari pendingin untuk vaksin, 249 unit kotak dingin, 249 unit alat pemantau suhu vaksin, 498 vaccine carrier, dan alat pelindung diri.

Sumber: merdeka.com

3 dari 5 halaman

Ridwan Kamil Konsultasi Langsung ke WHO Soal Penyuntikan Vaksin Covid-19

Dream - Sebanyak 9,1 juta orang di Indonesia rencananya akan divaksinasi Covid-19 pada November hingga Desember 2020. Vaksin itu dibeli pemerintah pusat dari tiga produsen luar negeri.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, mengajukan alokasi 3 juta vaksin untuk warga di wilayahnya pada tahun ini. Daerah yang diprioritaskan khususnya untuk daerah epidemiologi tinggi yakni Bodebek (Bogor-Depok-Bekasi).

Pemerintah Provinsi Jabar pun pekan ini akan menggelar simulasi vaksinasi Covid-19 di Kota Depok untuk mengecek kesiapan sekaligus sebagai respons cepat terhadap pembelian vaksin oleh pemerintah pusat.

4 dari 5 halaman

Dalam pengambilan kebijakan terkait penanggulangan pandemi Covid-19, Ridwan Kamil juga meminta masukan dari para ahli, termasuk dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk rencana penyuntikan vaksin Covid-19 di Indonesia, khususnya Jabar.

" Kalau boleh, saya ingin mendapatkan ilmu dengan akurat dan cepat dari WHO tentang penyuntikan vaksin di wilayah Bodebek," kata pria yang karib disapa Emil, saat mengikuti expert briefings bersama Diah Satyani Saminarsih (Senior Advisor WHO) dan Prof Dr dr Akmal Taher, SpU (K) selaku Guru Besar Universitas Indonesia, melalui konferensi video dari Gedung Pakuan, Kota Bandung, Selasa 20 Oktober 2020.

Dengan masukan dari WHO, lanjut Emil, sebagai pejabat publik ia bisa menjelaskan kepada masyarakat terkait tata cara penyuntikan vaksin yang tepat.

" Jadi ketika saya memberikan informasi kepada masyarakat, saya bisa menjelaskan secara rasional," ucapnya.

5 dari 5 halaman

Dalam agenda tersebut, Emil juga membahas peran penting puskesmas dalam menanggulangi pandemi Covid-19 di Jabar. Ia mengatakan, reformasi puskesmas perlu dilakukan agar kesehatan masyarakat dapat dilayani lebih baik.

Selain itu, dalam penanggulangan Covid-19 di Jabar, Emil berujar, pihaknya fokus pada wilayah Bodebek dan Bandung raya sebagai daerah penyumbang kasus Covid-19 terbanyak di Jabar.

" Energi dan anggaran Jabar dalam jangka pendek (untuk penanggulangan Covid-19 akan fokus di Bodebek," ujar Emil.

Sumber: Liputan6.com

Beri Komentar