Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pesawat AirAsia
Dream - Puing-puing pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang Minggu, 28 Desember 2014 sudah mulai ditemukan. Pencarian korban dan serpihan pesawat terus dilakukan.
Sebelum pesawat menghilang, dikutip dari Dailymail, Senin, 5 Januari 2014 sang Kapten Pilot Iriyanto, diduga telah berhasil melakukan pendaratan darurat di atas permukaan laut setelah cuaca buruk.
Hal itu berdasarkan dari tidak menyalanya alat Pemancar Lokasi Darurat (ELT) pesawat QZ8501. Menurut Editor Senior Majalah Angkasa, Dudi Sudibyo, alat itu akan menyala setelah pesawat mengalami benturan.
" Alat Pemancar Lokasi Darurat (ELT) akan bekerja saat pesawat mengalami benturan, baik itu di darat, laut atau sisi gunung. Dan analisis saya itu tidak menyala karena tidak ada benturan yang cukup signifikan terjadi saat mendarat. Pilot berhasil mendaratkannya di permukaan laut itu," ujarnya.
Para ahli juga mengatakan, tidak adanya transmisi kecelakaan berarti pilot pesawat kemungkinan telah sukses mengeksekusi pendaratan darurat secara sempurna, sebelum tenggelam di laut.
Dudi mengatakan Emegency Locator Transmitter akan bekerja dari dampak yang telah terjadi baik di darat, laut maupun gunung. Analisisnya mengatakan itu tidak bekerja karena tidak ada dampak yang besar saat mendarat.
" Pilot berhasil mendaratkan pesawat di permukaan laut," ujar Dudi. Kapten Irianto sedang berlayar di ketinggian 32.000 kaki ketika meminta izin untuk mengubah arah untuk menghindari badai .
Pengamat keselamatan penerbangan lainnya berpendapat, pesawat AirAsia QZ8501 mengalami stall vertikal ke dalam air. Seolah-olah ditekan oleh tangan raksasa yang tak nampak.
Mereka berkesimpulan Airbus berjenis 320-200 itu berada di dalam cengkeraman cuaca ekstrim. Sehingga tak ada satupun cara yang bisa dilakukan pilot untuk menyelamatkannya. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya