Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil
Tak Perlu Trial and Error Pilih Susu Formula Anak, Cukup Scan & Check AceKid Sumber Susunya Transparan
Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?
Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Salah Satu Ruang Kelas Di MIN 9 Jogorogo Ngawi, Jawa Timur (kemenag.go.id)
Dream - Tidak semua madrasah memiliki sarana yang memadai dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Kondisi ini berbeda dengan sekolah umum yang lengkap dengan fasilitas.
Salah satu contohnya adalah beberapa madrasah di Ngawi, Jawa Timur. Di kabupaten yang dekat dengan perbatasan dua provinsi ini masih ada madrasah yang memiliki bangunan dari kayu, seperti Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 9 Jogorogo, sekolah setara SD.
Dinding sekolah ini adalah papan kayu. Sebagian ruang berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah. " Bila hujan turun, genangan air masuk ke kelas dan menganggu aktivitas belahar siswa," ujar Kepala MIN 9 Jogorogo, Slamet Daroini, dikutip dari kemenag.go.id, Senin 7 Mei 2018.

Daroini mengatakan, sebagian besar bangunan MIN 9 Jogorogo didirikan atas swadaya masyarakat. Menurut dia, semangat ingin menyekolahkan anaknya di madrasah tersebut membuat para orangtua bahu membahu menyediakan fasilitas belajar yang memadai meski masih belum layak.
" Sekolah kami selalu diminati setiap tahunnya. Tahun ini saja kami menolak sekitar 30 siswa baru lantaran keterbatasan sarana dan prasarana belajar mengajar," kata Daroini.
Di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Paron, fasilitas yang tersedia cukup memprihatinkan. Meski dinding sudah terbuat dari bata dan semen, hampir sebagian besar plafon di ruang kelas jebol.

Kondisi itu menimbulkan kebocoran di ruang kelas. Alhasil, para siswa harus pindah ke ruang kelas lain agar bisa tetap belajar.
" Kami berharap ada perhatian Kemenag terkait sarana dan prasarana di MTsN Paron yang dari hari ke hari kian memprihatinkan," kata Kepala MTsN Paron, Mustafid.
Meski demikian, MTsN Paron adalah madrasah dengan segudang prestasi. Sejumlah muridnya berhasil menjuarai sejumlah lomba seperti kaligrafi tingkat nasional di Aceh.
Kepala Kantor Kementerian Agama Ngawi, Zaenal Arifin, mengatakan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di madrasah meningkat dari tahun ke tahun. Menurut dia, beberapa penyebabnya adalah dikembangkannya kegiatan penunjang seperti program tahfiz Alquran dan program-program lainnya.
Meski sarana yang tersedia kurang memadai, Zaenal mengatakan madrasah yang ada di Ngawi selalu bersemangat untuk menorehkan prestasi. Bahkan kini, menurut dia, terjadi penurunan tren orangtua mendaftarkan anaknya di sekolah umum dan lebih memilih madrasah.
Advertisement

Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas

Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan

Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Cinta Laura Ajak Anak Muda Mulai Sustainability dari Langkah Kecil


Golkar Putuskan Prabowo Capres 2029, Bagaimana Nasib Gibran?