Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Ilustrasi (Foto: Pixabay)
Dream – ISIS terus memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan propaganda. Mereka telah membuat kampanye di media sosial untuk menyebarkan ideologi.
Terbaru, ISIS menyerukan jaringannya untuk membuat serangan lokal di kota-kota yang melakukan pembatasan wilayah ataupun lockdown karena pandemi Covid-19.
Asisten profesor Dr Michael Krona dari Malmo University, Swedia, mengatakan, media sosial menjadi tempat perburuan kelompok teror tersebut. Mereka mengajak para pengikutnya dalam sebuah komunitas.
Banyaknya negara yang melakukan pembatasan wilayah, membuat orang-orang lebih banyak menghabiskan waktu secara online. Hal itu membuat kelompok ISIS semakin gencar melakukan kampanye.
" Secara historis kita tahu bahwa ISIS menggunakan waktu dan sumber dayanya dalam bayang-bayang media untuk merekrut dan membangun dukungan," ungkap Dr Krona.
ISIS memproduksi majalah, buletin, bahkan menjalankan kantor berita, stasiun radio, dan membuat aplikasi seluler sendiri.
Mereka juga membuat sebuah pesan clickbait di Whatsapp, Instagram, Telegram, dan yang terbaru melalui aplikasi pesan Hoop.
Kelompok ISIS menggambarkan Covid-19 sebagai ‘siksaan Tuhan terhadap negara-negara barat’ dan bahkan beberapa kalangan ISIS menyebut virus corona sebagai ‘tentara Allah’
Dr Krona mengatakan: " Artikel ISIS berfokus pada seruan untuk melakukan serangan terhadap negara-negara barat. ISIS tidak lagi mendorong pengikutnya untuk berpergian ke negara yang dituju, namun justru mendorong para pengikutnya yang sudah tinggal di sana untuk melakukan serangan."
Para pendukung online ISIS juga melakukan kampanye untuk membantu peremupuan dan anak-anak di kamp-kamp Suriah yang situasinya semakin memburuk.
" Pesannya adalah bahwa pemerintah dan negara bagian tidak dapat dipercaya. Hal ini sebagai bentuk propaganda ISIS yang berupaya merusak kepercayaan terhadap pemerintah dengan menyatukan para pendukungnya untuk melawan politik yang dianggap korup dan gagal," tambah Dr Krona.
Para peneliti menemukan bahwa Covid-19 tengah dijelaskan sebagai terjemahan teologis dari teks-teks agama. “ Ini adalah kisah apokaliptik tentang kiamat yang bermanfaat untuk mencapai tujuan mereka,” imbuh Dr Krona.
Sementara ISIS secara resmi dikalahkan pada tahun 2017 lalu. Namun, sekitar 18 ribu pendukungnya masih bebas. Dan melakukan serangan dibeberapa bagian Suriah dan Irak.
(Sumber: dailystar.co.uk)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam