Sentil Dispensasi Karantina Sampai Berbayar, Jokowi: Jangan Ada Lagi!

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 3 Januari 2022 15:00
Sentil Dispensasi Karantina Sampai Berbayar, Jokowi: Jangan Ada Lagi!
Saat ini, sebagian besar kasus Covid-19 Omicron di Indonesia adalah impor.

Dream - Presiden Joko Widodo mengingatkan kasus Covid-19 varian Omicron sudah masuk Indonesia dan harus ditekan. Dia pun menyentil adanya kasus dispensasi karantina, apalagi sampai berbayar.

" Jangan ada lagi dispensasi-dispensasi, apalagi yang bayar-bayar itu kejadian lagi," ujar Jokowi, disiarkan Sekretariat Presiden.

Jokowi menekankan karantina untuk pelaku perjalanan luar negeri sangat penting guna menekan terjadinya lonjakan Covid-19, khususnya Omicron. Dia juga menegaskan karantina harus dilakukan semua orang yang datang dari luar negeri,

" Saya minta betul-betul utamanya yang terkait dengan Omicron ini adalah karantina bagi yang datang dari luar negeri," kata Jokowi.

 

1 dari 4 halaman

Kasus Omicron di Indonesia saat ini mencapai 136 dan didominasi pelaku perjalanan luar negeri. Atas hal ini, Jokowi menginstruksikan Badan Intelijen Negara serta Polri memperketat pengawasan pelaksanaan karantina bagi mereka yang baru datang dari mancanegara.

" Kalau kita lihat kenaikan varian Omicron menjadi 136 kasus ini hampir seluruhnya berasal dari kasus impor," kata dia.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan varian Omicron di Indonesia kebanyakan datang dari luar negeri. Kasus tersebut didominasi pelaku perjalanan dari empat negara.

" Semua kasus merupakan Pelaku Perjalanan Luar Negeri, dengan asal negara kedatangan paling banyak dari Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab, dan Amerika Serikat," ujar Nadia.

2 dari 4 halaman

Covid-19 Varian Omicron Sudah Terdeteksi di Surabaya, Kasus Baru Liburan dari Bali

Dream - Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Erwin Astha Triyonno, menyatakan Covid-19 varian Omicron telah terdeteksi di Surabaya. Kasus ini melanda seorang warga berjenis kelamin wanita.

" Dinkes Jatim telah mendeteksi seorang pasien terkonfirmasi Omicron berdasarkan hasil pemeriksaan Whole Genome Sequencing (WGS) yang keluar pada tanggal 2 Januasi 2022," ujar Erwin.

Erwin mengatakan pasien yang bersangkutan baru dari Bali untuk liburan selama lima hari bersama suaminya. Pasangan ini bepergian menggunakan kendaraan pribadi.

Selama berada di tempat wisata di Bali mulai 20 Desember 2021, pasien tersebut patuh menggunakan aplikasi PeduliLindungi. Tetapi ketika pulang dari liburan pada 25 Desember 2021, pasien itu memiliki keluhan merasa ada lendir di tenggorokan.

 

3 dari 4 halaman

Tes PCR

Pada 28 Desember 2021, kasus tersebut memeriksakan diri ke rumah sakit dan disarankan untuk melakukan swab test PCR. Di hari yang sama, pasien tersebut melakukan swab test PCR dengan hasil positif Covid-10 dan CT Value 26.

Setelah hasil keluar, suami dari pasien tersebut langsung melakukan swab test PCR. Tetapi, hasil tes pria tersebut negatif.

Pada 30 Desember, hasil pemeriksaan S-Gene Target Failure dari pasien wanita tersebut menyatakan positif varian K417N atau Delta Plus sekaligus probable Omicron. Kasus tersebut diarahkan menjalani isolasi di rumah sakit sembari menunggu hasil uji WGS.

 

4 dari 4 halaman

Kemudian pada 2 Januari 2021, hasil uji WGS keluar. Yang bersangkutan dinyatakan terkonfirmasi varian Omicron.

" Dengan ditemukannya kasus Omicron tersebut, Dinkes Jatim melakukan koordinasi dengan Dinkes Surabaya untuk pelaksanaan surveilans ketat pada kasus sesuai protokol penanganan varian Omicron, lalu memastikan pelaksanaan pemantauan karantina pada KE dilakukan sampai tuntas serta memastikan pelaksanaan swab ulang kepada seluruh KE yang teridentifikasi dengan metode RT-PCR," kata Erwin.

Lebih lanjut, Erwin mengimbau masyarakat tidak panik. Vaksinasi Covid-19 terud dijalankan terutama untuk kelompok lanjut usia.

Dia juga meminta masyarakat tidak bepergian ke luar daerah jika tidak ada keperluan mendesak. Juga menekankan agar masyarakat patuh protokol kesehatan 5M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan mengurangi mobilitas) serta upaya 3T (testing, tracing, dan treatment) diperkuat, dikutip dari Beritajatim.

Beri Komentar