Siapa Saja yang Paling Rentan Sakit Parah Akibat Covid-19?

Reporter : Sugiono
Rabu, 17 Juni 2020 17:54
Siapa Saja yang Paling Rentan Sakit Parah Akibat Covid-19?
Ini daftarnya...

Dream - Hanya dalam enam bulan, hampir 8 juta orang di seluruh dunia dinyatakan positif Covid-19, dan setidaknya 434.000 telah meninggal dunia.

Menurut penelitian baru yang menggunakan model komputer, pasien Covid-19 yang rentan meninggal umumnya adalah orang-orang dengan penyakit bawaan.

Pasien Covid-19 yang menderita penyakit bawaan seperti diabetes dan penyakit yang memengaruhi jantung dan paru-paru, rentan mengalami sakit parah.

Menurut penelitian itu, kira-kira 1,7 miliar orang di seluruh dunia - 22 persen dari populasi global - memiliki setidaknya satu penyakit bawaan yang meningkatkan risiko mereka menderita Covid-19 yang parah jika terinfeksi.

" Data ini bisa membantu pengambil kebijakan bidang kesehatan untuk fokus pada kelompok ini, termasuk memprioritaskan mereka untuk mendapatkan vaksinasi," kata Andrew Clark dari London School of Hygiene dan Tropical Medicine, penulis pertama penelitian ini.

Menurut Clark, sejak awal pandemi, para peneliti telah mengetahui bahwa penyakit bawaan kronis pasien dapat memperburuk penyakit Covid-19 ini.

" Dan penelitian ini memberikan 'pemahaman' yang lebih baik tentang fenomena ini," tambah Clark.

1 dari 4 halaman

11 Kondisi yang Memperparah Covid-19

Sebelumnya, Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika mengungkap 11 daftar kondisi kesehatan yang berisiko meningkatkan keparahan Covid-19.

Kondisi kesehatan berupa penyakit bawaan itu di antaranya asma, ginjal, paru-paru, diabetes, dan gangguan hemoglobin. Selain itu ada gangguan sistem imun tubuh, liver, obesitas parah, dan jantung.

Mereka juga memperingatkan orang lanjut usia di atas 65 tahun dan para perawat di rumah jompo atau rumah perawatan lainnya juga berisiko menderita Covid-19 jika terinfeksi virus corona.

Menurut CDC, orang-orang dengan gangguan imun seperti penderita penyakit autoimun dan mereka yang menjalani pengobatan yang bisa melemahkan sistem imun seperti kemoterapi, bisa mengalami sakit Covid-19 parah dan bahkan meninggal dunia.

2 dari 4 halaman

Seperlima Populasi Berisiko Menderita Sakit Parah

Dalam melakukan penelitian, tim yang dipimpin Clark mengambil data dari Global Burden of Disease Study, sebuah survei global tentang epidemiologi yang terakhir kali diperbarui pada 2017 lalu.

Survei ini bertujuan untuk mengidentifikasi setidaknya satu dari kondisi berisiko tinggi yang disebutkan oleh CDC.

Menurut penelitian Clark, hampir 200 negara dimasukkan dalam penghitungan akhir, dengan beberapa wilayah, seperti di Eropa yang mengalami pukulan lebih parah daripada yang lainnya.

Dalam penelitiannya, Clark menemukan bahwa lebih dari seperlima populasi dunia mungkin berisiko lebih tinggi menderita penyakit Covid-19 yang lebih parah akibat penyakit bawaan ini.

Clark juga memperkirakan bahwa sekitar 4 persen dari populasi dunia, sekitar 349 juta orang, akan memerlukan rawat inap jika mereka terinfeksi virus corona.

3 dari 4 halaman

Respons Ilmuwan

Namun penelitian yang dipimpin Clark dan diterbitkan di The Lancet Global Health itu mengecualikan individu lanjut usia yang sehat tanpa penyakit bawaan.

Padahal, para manula ini adalah kelompok yang diketahui berisiko menderita Covid-19 parah akibat dari faktor usia mereka.

" Tidak semua penyakit bawaan telah dipelajari dengan baik dalam konteks Covid-19 ini," kata Lona Mody, seorang ahli epidemiologi di Universitas Michigan yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Salah satu contohnya adalah masih sedikit informasi bagaimana risiko orang-orang dengan HIV yang dalam penelitian ini dianggap sebagai penyakit bawaan yang berisiko memperparah kondisi Covid-19 seorang pasien.

4 dari 4 halaman

Memperhitungkan Faktor Risiko

Penelitian itu juga tidak memperhitungkan faktor risiko seperti obesitas dan kemiskinan. Keduanya memengaruhi kerentanan seseorang terhadap penyakit dan akses terhadap fasilitas kesehatan.

" Selain itu, penyakit bawaan yang meningkatkan keparahan Covid-19 di satu negara belum tentu sama dengan negara lainnya," kata Aditya Khanna, seorang ahli epidemiologi di Universitas Chicago yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

" Lingkungan dan kebiasaan sosial masyarakat lokal juga ikut menjadi faktor yang menentukan tingkat kesehatan seseorang," tambah Khanna.

Sumber: New York Times

Beri Komentar