Tak Hanya Baduy, Ternyata Desa Ini Juga Nol Kasus Covid-19 Sejak Awal Pandemi

Reporter : Razdkanya Ramadhanty
Senin, 12 Juli 2021 16:46
Tak Hanya Baduy, Ternyata Desa Ini Juga Nol Kasus Covid-19 Sejak Awal Pandemi
Namun siapa sangka, selain Desa Baduy, ada desa di wilayah Jawa Barat yang juga nol angka kasus Covid-19.

Dream - Seperti yang diketahui, pandemi Covid-19 ditetapkan masuk ke Indonesia pada 2 Maret 2021 lalu. Namun siapa sangka, selain Desa Baduy, ada desa di wilayah Kabupaten Sumedang yang juga nol angka kasus Covid-19.

Desa tersebut adalah Desa Ungkal di Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

" Dari awal, alhamdulillah tidak ada satu pun warga kami yang terpapar Covid-19. Apalagi yang sampai meninggal dunia," ujar Deden Sudinta, Kepala Desa Ungkkal, seperti yang dikutip dari pikiran-rakyat.com, Senin, 12 Juli 2021.

Laporan tersebut ia paparkan dihadapan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir saat melakukan monitoring PPKM darurat di Posko Satgas Covid-19 Desa Ungkal, Kecamatan Conggeang, Sabtu 10 Juli 2021 lalu.

1 dari 4 halaman

Perketat Protokol Kesehatan di Desa

Desa dengan jumlah penduduk 700 jiwa ini, meski memiliki nol kasus Covid-19 namun tetap menyiapkan tempat untuk isolasi mandiri (isoman).

" Mudah-mudahan, tidak ada warga yang diisolasi. Semuanya sehat-sehat dengan tetap disiplin menjaga prokes," tuturnya.

Lebih jauh Deden menerangkan, keberhasilannya tersebut merupakan hasil kerjasama dirnya bersama jajaran Satgas Covid-19 Desa Ungkal. Ia pun berupaya untuk terus mempertahannya.

" Upaya itu, di antaranya mengawasi dengan ketat pendatang yang masuk ke desa kami, termasuk warga kami yang baru datang dari luar kota," tambah Deden.

Selain itu, lanjut Deden, bersama Bhabinkamtibmas (polisi) Bhabinsa (TNI) dan perangkat desa, rutin melakukan patroli wilayah dan sosialisasi prokes terhadap warga.

" Kami sudah membuat jadwal untuk pengawasan dan penjagaan di Posko Desa, siang dan malam. Semua pihak terlibat. Selain oleh tiga pilar desa, juga dibantu bidan desa, para kader serta para ketua RW dan RT," ucapnya.

 

 

2 dari 4 halaman

Survei: Hampir Setengah Penduduk Jakarta Terdeteksi Memiliki Antibodi Covid-19

Dream - Sebanyak hampir setengah dari penduduk DKI Jakarta diklaim saat ini telah memiliki antibodi Covid-19. Ini didasarkan pada hasil survei serologi yang digelar Dinas Kesehatan DKI Jakarta berkolaborasi dengan Tim Pandemi FKM UI, Lembaga Eijkman, dan CDC Indonesia.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Widyastuti, menjelaskan serologi merupakan teknik berbasis imunologi. Teknik ini diterapkan dengan tujuan mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang.

Apabila seseorang pernah terpapar pada agen infeksius tertentu, tubuhnya akan terpicu menghasilkan antibodi spesifik yang dapat dideteksi. Sehingga, dapat diukur tingkat proporsi warga yang pernag terinfeksi Covid-19 yang terkonfirmasi oleh PCR atau tidak.

" Kita bisa melihat juga gambaran lebih utuh tentang situasi pandemi di Jakarta sehingga strategi penanganan dan pengendaliannya pun bisa disesuaikan," ujar Widyastuti melalui keterangan tertulis.

Pakar epidemiologi dari Tim FKM UI, Pandu Riono, menjelaskan dari hasil survei ini terlihat hampir separuh penduduk Jakarta pernah terinfeksi Covid-19. Kasus terbanyak ditemukan pada usia 30-49 tahun.

3 dari 4 halaman

4.717.000 Jiwa Warga DKI Jakarta Pernah Terpapar Covid-19

Infeksi pada kelompok perempuan lebih tinggi mencapai 49 persen. Sedangkan lelompok belum kawin memiliki risiko terinfeksi lebih rendah yaitu 39,8 persen.

Penduduk di wilayah padat, kata Pandu, lebih rentan terinfeksi Covid-19 dengan porsi 48,4 pers. Dia juga menjelaskan semakin meningkat indeks massa tubuh, semakin banyak juga yang terinfeksi.

" Dalam hal ini kelebihan berat badan (52,9 persen) dan obesitas (51,6 persen). Orang dengan kadar gula darah tinggi juga lebih berisiko," paparnya.

Selanjutnya, Pandu mengatakan prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi adalah sebesar 44,5 persen dengan stimasi warga 4.717.000 dari total populasi Jakarta sebanyak 10.600.000 orang. Dari jumlah estimasi warga yang pernah terinfeksi, hanya 8,1 persen yang terkonfirmasi.

Sebagian besar yang pernah terinfeksi tidak terdeteksi. Selain itu, sebagian besar yang pernah terinfeksi, baik terdeteksi maupun tidak terdeteksi, tidak pernah merasakan gejala.

" Kekebalan komunal di Jakarta akan lebih sulit tercapai karena Jakarta adalah kota terbuka dengan mobilitas intra dan antarwilayah yang tinggi. Konsekuensinya, semua penduduk yang beraktivitas di Jakarta, baik warga Jakarta maupun pendatang, harus memiliki kekebalan (telah tervaksinasi) yang dapat mengatasi semua varian virus," kata Pandu.

4 dari 4 halaman

Pandemi Berpotensi Berubah Jadi Endemi

Dia juga mengatakan tidak menutup kemungkinan pandemi ini berubah menjadi endemi dan diperlukan strategi penanganan secara cepat dan signifikan untuk jangka pendek. Juga diperlukan antisipasi jangka menengah dan panjang.

Vaksinasi, terang Pandu, memang dapat menekan risiko perawatan di rumah sakit dan risiko kematian. Meski demikian, vaksinasi tidak bisa sepenuhnya menghentikan penularan.

Atas hasil survei ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan memperkuat 3T (Testing, Tracing, Treatment) agar dapat mengendalikan pandemi ini. Selain terus melakukan percepatan vaksinasi untuk semua warga.

Namun demikian, masyarakat juga harus terbiasa mampu menilai risiko dan menjaga pola hidup sehat dengan kebiasaan 5M. Sehingga siap berkegiatan secara produktif di tengah ancaman jangka panjang endemi Covid-19 dan tentu segera vaksinasi.

Beri Komentar