Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dr. Turro Wongkaren (Foto: YouTube BNBP)
Dream - Ada dua pendekatan yang dilakukan Satgas Covid-19 dalam mengubah perilaku masyarakat yang masih abai protokol corona. Hal terpenting yakni mengenali karakter masyarakat di suatu tempat.
" Kita harus membuat strategi yang bisa diterima. Diberikan pengertian dulu masyarakat di suatu tempat, karakteristiknya seperti apa. Kedua, Indonesia ini yang penting adalah role model, bisa pejabat daerah, tokoh agama, atau selebritas," kata Tim Pakar Satgas Covid-19 Dr. Turro Wongkaren dalam diskusi virtual di BNBP, Kamis 1 Oktober 2020.
Turro juga menyebut, perilaku pejabat daerah yang abai protokol Corona juga memengaruhi perilaku masyarakat.
" Kalau ada pejabat pemda kalau rapat enggak pakai masker, mereka (masyarakat) akan berpikir enggak terlalu perlu. Mereka bilang lihat aja tuh pejabat, ngomong deket-deketan enggak pakai masker. Atau mereka memakai masker tetapi di dagu itu berbahaya," tegasnya.
Lebih lanjut menurut Turro, yang pertama harus dilihat yakni komunitasnya. Observasi budaya, pekerjaan, pada komunitas tersebut.
" Komunitas masing-masing punya karakteristik dan leader yang mungkin bisa mempengaruhi," jelasnya lanjut.
dr. Turro menyebut para tokoh bepengaruh tersebut yakni seperti kyai, pemimpin gereja, tetua ada, pengusaha atau individu yang biasa didengan oleh masyarakat banyak.
" Jadi perlu identifikasi siapa influencernya. Kemudian kita ngomong ke influencernya untuk menyatukan cara berpikir dan cara menangani Covid-19 ini," tutupnya.
Dream - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 mengatakan setiap keluarga perlu mengidentifikasi potensi sumber penularan, sebagai cara awal untuk mencegah penyebaran Covid-19 di dalam keluarga.
" Jadi kita harus paham potensi sumber penularan dari siapa saja," kata anggota Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 Dr. Dewi Nur Aisyah dalam konferensi pers di Graha BNPB Jakarta, Rabu.
Menurut Dewi, masing-masing keluarga bisa mulai mengidentifikasi potensi sumber penularan Covid-19 di lingkup rumahnya.
Misalnya, saja dengan mencermati aktivitas sehari-hari anggota keluarga dan orang-orang yang berada dalam satu rumah.
Untuk itu, Dewi menyarankan agar anggota keluarga tersebut menerapkan protokol kesehatan secara ketat ketika beraktivitas di luar rumah.
Kemudian ketika kembali ke rumah, orang tersebut juga tetap perlu menerapkan protokol kesehatan lain yang dibutuhkan. Antara lain dengan membersihkan atau mendisinfeksi semua barang yang dibawa, tidak bersalaman dengan anggota keluarga lain sebelum mencuci tangan dengan sabun.
Kemudian menaruh pakaian yang dipakai ke dalam tempat cucian dan langsung mandi untuk membersihkan semua kotoran yang mungkin terbawa dari luar.
Sementara itu, selain anggota keluarga yang beraktivitas di luar rumah, potensi sumber penularan Covid-19 bisa juga dibawa oleh asisten rumah tangga yang tidak tinggal serumah atau juga tamu yang datang ke rumah.
Ketika ada tamu yang berkunjung ke rumah, setiap anggota keluarga di dalam rumah tersebut juga perlu memastikan agar tamu yang datang menggunakan masker. Tak cuma itu, anggota keluarga di rumah juga wajib menggunakan masker saat menyambut tamu tersebut.
" Jadi lagi-lagi kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan, jaga jaraknya dan gunakan masker. Kemudian, kalau bisa kurangi kegiatan sosial di tengah masyarakat," kata Dewi.
" Kemudian kalau misalnya sudah beraktivitas (di luar rumah), ini juga harus kita pahami bahwa ketika beraktivitas di luar ada risiko yang kita bawa pulang ke rumah sebenarnya untuk keluarga kita," demikian kata Dewi lebih lanjut.
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya