Cara Mengelola Pengeluaran Gaji yang Islami

Reporter : Ahmad Baiquni
Senin, 5 Maret 2018 18:00
Cara Mengelola Pengeluaran Gaji yang Islami
Islam mewanti-wanti agar manusia tidak terjerumus pada kefakiran.

Dream - Bekerja demi mendapatkan penghasilan adalah fitrah manusia. Islam menuntut agar umat giat bekerja, memiliki pendapatan demi mencukupi hajat hidupnya secara mandiri.

Sebenarnya, Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya, namun sering mengingatkan agar umat tidak menjadi fakir. Ini lantaran kefakiran dekat dengan kekufuran.

Nabi Muhammad SAD mewanti-wanti umatnya agar tidak memboroskan pendapatannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Karena, bisa jadi pengeluaran itu dapat menjerumuskan pada kefakiran.

Syeikh Abu Abdillah Muhammad Al Sakhawi dalam kitabnya Al Fatawy Al Haditsiyah, menukil hadis Rasulullah Muhammad SAW dari jalur sanaf Amru bin 'Ash.

" Bekerjalah seperti kerjanya orang yang menyangkan dia tidak akan mati selamanya, dan takutlah seakan takutnya orang yang akan mati besok."

Hadis di atas merupakan perintah dari Rasulullah agar umat Islam giat bekerja. Tentunya tidak sekedar untuk mendapatkan penghasilan, namun juga menegakkan perintah agama.

Lantas, bagaimana caranya agar terhindar dari kefakiran?

Dikutip dari rubrik ekonomi syariah NU Online, dalam syariat terdapat tiga hal yang patut diperhatikan dalam membelanjakan pendapatan. Tiga hal tersebut yaitu membelanjakan di jalan yang halal, berinfak dan memperhatikan keluar masuknya aset, serta mencatat setiap transaksi baik pemasukan maupun pengeluaran.

Pertama, membelanjakan di jalan halal, yang dibenarkan oleh Allah SWT. Ini bukan sekadar belanja, namun juga perwujudan dari rasa bersyukur yang tentu nikmatnya akan ditambah oleh Allah.

Berbelanja juga dianjurkan dilakukan secara selektif dan mempertimbangkan sisi manfaatnya. Banyak hal bagus, tapi tidak semua harus dibeli, kan. Kalau dipaksakan, malah jadi boros.

Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al Qurtubi dalam kitabnya Al Jami li Ahkami Alquran mengingatkan kita dengan pendapatnya sebagai berikut.

" Pemborosan adalah menginfakkan harta pada yang bukan haknya, dan bukanlah disebut pemborosan (bila infak dilakukan) dalam perbuatan baik."

Kemudian, berinfak. Ini tidak melulu dimaknai sedekah. Contohnya, memberikan hak harta kepada keluarga juga bagian dari infak. Juga mengantisipasi rusaknya alat produksi, bagi pelaku usaha termasuk infak.

Allah juga memberikan panduan dalam berinfak, seperti tertuang dalam firman-Nya di Surat Al Isra ayat 26.

" Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros."

Jangan lupa, sisakan uang untuk tabungan. Ingat firman Allah dalam Surat Al Isra ayat 29.

" Dan janganlah kamu jadikan kedua tanganmu terbelenggu ke lehermu dan jangan mengulurkannya seluas-luasnya kemudian kamu terduduk merasa tercela lagi menyesal."

Muhammad bin Jarir Al-Thabary dalam kitab Jami'u Al Bayan 'an Ta'wili Alquran menjelaskan ayat ini memberikan peringatan agar kita tidak pelit dalam membagi harta atau malah boros dalam membelanjakannya. Keduanya akan menjerumuskan pada penyesalan.

Al-Thabary menjelaskan berdasarkan ayat di atas, Allah mengingatkan bahwa pelit maupun boros merupakan akar utama terjadinya kerugian atau pailit dalam usaha. Sehingga, keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran patut untuk selalu diperhatikan.

Yang ketiga, kecermatan dalam mengelola keuangan merupakan sikap yang patut dipupuk. Mencatat segala transaksi bisa menyelamatkan kita dari kerugian.

Ini mengingat manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Selain itu, ada manusia pelik maupun jujur dalam bermuamalah, sehingga perlu adanya antisipasi.

Selengkapnya...

Beri Komentar