Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Rebecca Brown (tengah) Dan Orangtua Asuhnya (bbc.com)
Dream - Gadis Remaja Inggris, Rebecca Brown, 18 tahun, merasakan betul bagaimana hidup di tengah komunitas Muslim. Dia tidak pernah terkekang dengan ajaran Islam.
Sudah empat tahun Rebecca tinggal di tengah keluarga Muslim keturunan Pakistan. Dia sama sekali tidak menemukan karakter teroris dalam kehidupan sehari-hari Muhammad Arshad dan Shanaz, yang merupakan orangtua asuhnya.
"Saya bagian dari keluarga ini," ujar Rebecca kepada BBC.
Bahkan, Rebecca sudah memanggil Arshad dan Shanaz dengan panggilan 'ayah' dan 'ibu'. Kini, dia telah memilih untuk terus tinggal dengan keluarganya.
Rebecca, yang merupakan seorang Ateis, sangat ingin suaranya didengar setelah sepekan sebelumnya kasus gadis Kristen 5 tahun tertekan diasuh seorang Muslim ramai diberitakan di seluruh Inggris.
Penyebabnya, hanya karena pengasuh itu tidak bisa berbahasa Inggris. Pengadilan urusan keluarga pun menyatakan tidak ada masalah dengan kesejahteraan gadis kecil itu.
Berbicara kepada program siaran BBC, Victoria Derbyshire, Rebecca mengaku selain Arshad dan Shanaz, "tidak ada lagi yang bisa saya sebut keluarga." Panggilan 'ayah' dan 'ibu' sudah dia gunakan sejak tiga bulan tinggal bersama orangtua asuhnya.
Tinggal di tengah keluarga Muslim tentu membawa konsekuensi tersendiri bagi Rebecca. Teman-temannya sampai mengira keluarganya adalah teroris dan pembuat bom hanya karena agama mereka.
"Saya tinggal di keluarga ini seperti yang lain," ucap Rebecca.
"Di waktu luang, saya tidak pernah belajar bagaimana caranya membuat bom," kata dia melanjutkan.
Ibu asuh Rebecca, Shanaz, mengaku cukup tersiksa dengan pelbagai komentar miring seputar agamanya. Terutama seputar Rebecca yang tinggal di rumahnya.
"Orang-orang berpikir gadis ini akan kehilangan identitasnya, Orang-orang bertanya, 'Apakah dia akan menjadi salah satu dari kamu?'" ucap Shanaz.
"Kami hanya mencoba memberikan anak ini pengasuhan terbaik di dunia," ucap Shanaz.
Keluarga ini juga mengasuh seorang anak Afganistan dan gadis Kenya. Shanaz pun menegaskan Rebecca sangat bisa mempertahankan identitasnya sendiri.
"Rebecca akan menjadi Rebecca," kata Shanaz.
"Pembinaan bukan soal memaksakan agama. Pengasuh tidak untuk mengingatkan mereka," ucap dia.
Dia juga mengatakan kerap berbincang mengenai Islam dengan Rebecca, namun tidak pernah memaksa gadis itu untuk menjadi seorang Muslim.
"Kami merayakan setiap budaya dan agama di rumah tangga ini. Kami merayakan Natal karena ini adalah hari libur," tutur Shanaz. (ism)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Sambut Tren Warna 2027, JOTUN Hadirkan 24 Warna dalam Koleksi JOURNEYS

Sering Mengalami Suduken Saat Olahraga? Ini Penyebab dan Cara Cepat Meredakannya

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'