Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (www.theguardian.com)
Dream - Untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan pengorbanan. Itulah pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nur, mahasiswi asal Sabah.
Ya, sarjana psikologi Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM) ini harus hidup prihatin selama menuntut ilmu. Dia melalui hari-harinya di kampus dengan kelaparan.
Nur bahkan mengaku ususnya pernah bocor karena kerap tak diisi. Sebab benar-benar tak punya uang untuk membeli makanan.
“ Akibat kurang makan, usus saya rusak, menyebabkan saya muntah darah,” tutur Nur, sebagaimana dikutip Dream dari laman The Malaymail Online, Selasa 12 Januari 2016.
Nur pernah berobat. Dan dokter memberinya peringatan untuk makan secara teratur. Jika tidak, maka penyakit kanker akan menyerang ususnya.
“ Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa karena saya tak punya uang,” ucap dia.
Jalan Nur menuju sukses memang sangat berat. Dia tak pernah berharap uang kiriman dari rumah. Sebab, Kehidupan orangtua Nur kembang-kempis.
Sang ibu hanyalah tukang jahit. Sementara, sang ayah yang seorang nelayan tak lagi bisa melaut. Kaki dan tangan sang ayah Nur lumpuh. (Ism)
© Dream
Tak ada pilihan. Selain ngirit. Menahan lapar, meski perut melilit. Pinjaman biaya pendidikan sebesar RM 3.000 atau sekitar Rp 9,5 juta persemester langsung ludes untuk membayar iuran dan biaya kuliah. Hanya tersisa RM 150 atau sekitar Rp 500 ribu.
Dalam keprihatinan itu, Nur mencoba menenangkan diri. Hanya kepada Allah dia lari. Bersandar. Pasrah.
Saban hari dia pergi ke masjid untuk membaca Alquran. “ Biarlah saya tidak makan asalkan saya bisa mendekatkan diri dengan Tuhan,” kata Nur.
Ya, apa yang dilakukannya itu semata untuk menguatkan diri. Menginat Tuhan dalam setiap kesempitan, untuk menuju jalan keberhasilan.
“ Saya pernah berniat berhenti belajar dan ingin cari kerja untuk menolong ayah dan ibu,” ujar Nur.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya