Perjalanan Hijrah Noe Letto, dari Atheis hingga Benar-Benar Peluk Islam

Reporter : Nur Ulfa
Rabu, 21 April 2021 13:23
Perjalanan Hijrah Noe Letto, dari Atheis hingga Benar-Benar Peluk Islam
Belajar islam tak sengaja

Dream - Sabrang Mowo Damar Panuluh atau yang dikenal dengan Noe vokalis band Letto, mengaku tak mudah untuk menjadi seorang Muslim.

Memiliki pemikiran yang kritis, Noe yang lahir sebagai seorang Muslim tak begitu saja menerima kenyataan bahwa agamanya adalah Islam.

" Pada agama itu saya tidak bisa lari dari modal dasar yang diberikan Tuhan. Saya tuh inkuisitif, saya enggak akan makan kalau saya enggak bener-bener punya train of thoughts yang jelas di situ," kata Noe dalam channel YouTube Cahaya Untuk Indonesia.

Bahkan saking kritisnya terhadap agama, dia sempat menjadi seorang atheis. Karena dia belum menemukan ajaran agama yang pas untuknya.

" Saya pernah atheis dalam keadaan sadar," katanya.

noe© Instagram

1 dari 2 halaman

Mempelajari Islam Tanpa Sengaja

Walau terlahir sebagai Muslim, dia belum meyakini agamanya karena belum pernah mengucapkan syahadat.

" Saya belum beragama ini, saya cuma mengadopsi konsep beragama sehingga belum betul-betul bersaksi terhadap Tuhan. Kalau syahadat sendiri kalimatnya bukan suruh percaya sama Tuhan, bukan suruh percaya sama Kanjeng Nabi. Suruh bersaksi. Saksi itu tidak denger-denger, tidak mengakusisi," imbuhnya.

Hingga suatu hari saat dia berada di Kanada dan kehabisan uang, dia memilih untuk tinggal di masjid. Bukan sengaja untuk mencari tahu tentang Islam, namun pada saat itu semata-mata karena ingin tetap bisa hidup di negara orang.

" Saya sempat menggelandang beberapa bulan karena enggak ada duit untuk makan. Daripada mati saya mampir ke masjid, itu bukan islam tapi survivor," ucapnya.

2 dari 2 halaman

Meyakini Islam

Sampai akhirnya dia bertemu syekh yang ada di dalam masjid, dan bertanya mengenai Islam. Dari situ dia mempercayai bahwa Islam merupakan agama yang pas untuknya.

" Itu yang membuat saya masuk Islam itu jawaban Syeikh. Karena jawaban dia tidak menggunakan logika hitam putih, dogma. Jawaban dia menggunakan bias yang logic. Berarti ketidakmampuan saya memahami komprehensi agama itu bukanlah datang dari limitasi agama, tapi dari limitasi pemahaman saya dan data yang saya miliki," imbuhnya.

Beri Komentar