Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Video Games. (Foto: Shutterstock)
Dream – Sebuah studi belum lama ini mensurvei 1.000 pengemudi tentang dampak permainan komputer, film, dan acara TV terhadap perilaku mengemudi. Hasilnya, 40 persen responden menyebut video game memicu munculnya pemikiran cara mengemudi buruk terlihat keren.
Dikutip dari Carscoops, Rabu 27 Maret 2019, studi di Inggris ini menunjukkan 1 dari 3 pengemudi merasa film dan acara TV tak terlalu berdampak pada cara mengemudi yang berbahaya. Namun, 29 persen responden setuju jika sikap mengemudi yang negatif bisa saja dipengaruhi oleh tayangan film seperti The Fast and Furious.
Studi yang dilakukan oleh ahli mengemudi untuk anak-anak di bawah usia 17 tahun, Young Driver menunjukkan 1 dari 10 (9%) responden mengakui tontonan berupa aksi kebut-kebutan membuat mereka membayangkan akan terlihat lebih keren dan berusaha mencobanya.
Jumlah responden yang berpendapat sama bertambah menjadi 22 persen untuk mereka yang berusia 18-24 tahun.
Ketika responden yang merupakan orang tua ditanya tentang kemungkinan pemberian kesempatan anaknya untuk ugal-ugalan, hanya ada 11 persen yang setuju.
Riset ini juga menekankan bahwa separuh pengemudi muda yang kuliah, mengalami kecelakaan pada enam bulan pertama sejak lolos tes mengemudi.
Riset ini juga mengungkap fakta bahwa satu dari lima pengemudi di Inggris biasanya akan mengalami kecelakaan dalam beberapa bulan pertamanya mengemudi.
Pakar remaja, Nicola Morgan, mengatakan otak remaja masih berkembang dan terus berkembang sampai mereka berusia 20 tahun. Bagian otak yang paling akhir untuk berkembang adalah prefrontal cortex.
Bagian ini bertugas sebagai pusat pengendali dan penting untuk tugas seperti pengendalian diri, pembuat keputusan, analisis risiko, dan menolak.
“ Pada usia 17 tahun, remaja pada umumnya tak punya pusat kendali yang dikembangkan sepenuhnya,” kata dia.
Morgan mengatakan pusat kendali ini bisa membantu mereka untuk membuat keputusan dan mengendalikan emosi, termasuk emosi. Kalau berani ambil risiko, tak tertutup kemungkinan remaja akan mengesampingkan keselamatan.
“ Bahkan, jika tidak bermaksud demikian, mereka mungkin lebih didorong oleh kegembiraan,” kata dia. (Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya