Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Sajian Cokelat
Untuk menghindari stres berkelanjutan, mengonsumsi cokelat sering disebut-sebut bisa menjadi solusi.
Dream - Dalam kehidupan sehari-hari, banyak faktor yang menjadi pemicu stres. Stres sendiri merupakan gangguan mental yang dihadapi seseorang akibat adanya tekanan.
Tekanan ini muncul dari kegagalan individu dalam memenuhi kebutuhan atau keinginan. Untuk menghindari stres berkelanjutan, menyantap cokelat sering disebut-sebut bisa menjadi solusi.
Lantas, benarkah demikian?
"Kalau dalam kondisi stres, makan suatu makanan tertentu seperti cokelat, menimbulkan efek yang beda-beda pada tiap orang. Ada yang bersemangat melakukan sesuatu atau justru jadi
rileks," tutur Ajeng Raviando, seorang psikologi, saat ditemui di Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, 11 September 2017.
Meski begitu, menurut Ajeng, suasana hati yang ditimbulkan oleh cokelat tidak terbatas hanya satu mood seperti membuat rileks di saat stres, melainkan ada beragam mood lainnya yang bisa dihasilkan usai mengonsumsi cokelat.
"Tidak ada patokan waktu khususnya ya untuk berapa lama efek yang ditimbulkan setelah makan cokelat. Karena ada kandungan di dalam cokelat yang bisa memicu hormon manusia menjadi rileks dan nyaman," imbuhnya.
Meski mampu menetralisir stres, dalam psikologi tidak ada anjuran untuk besar takaran yang baik mengonsumsi cokelat. Sangat tergantung pada kondisi fisik dan psikologis tiap individu.
"Tidak ada berapa patokannya, ya. Itu balik ke perilaku disesuaikan dengan kebutuhan aja," katanya menambahkan. (ism)