Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Dua bagian penting dari sektor keuangan Islam adalah layanan perbankan dan pasar sukuk. Dua jenis produk perbankan syariah itu telah menyumbang sekitar 95 persen dari total nilai keuangan syariah yang mencapai US$ 1,8 triliun hingga akhir 2013.
Dari sekian banyak negara yang telah menerapkan sistem keuangan syariah, pemain utamanya masih negara-negara yang menjadi anggota Dewan Kerjasama untuk Negara Arab di Teluk (GCC). Negara-negara tersebut adalah pemain paling signifikan yang menguasai sebagian besar aset perbankan syariah di seluruh dunia.
Selain negara Teluk, beberapa negara seperti Malaysia, Indonesia, Turki dan Pakistan juga sudah mulai menunjukkan kemampuannya dalam mengolah sistem keuangan yang berbasis pada ekonomi Islam ini.
Secara global, Arab Saudi masih memimpin dalam penguasaan aset perbankan keuangan syariah, menurut laporan World Economic Forum 2015. Disusul oleh Malaysia, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, Turki, Indonesia, Bahrain, dan Pakistan.
Menurut Ernst & Young, seperti dikutip Dream dari laman agenda.weforum.org, Senin, 27 Juli 2015, total aset keuangan Islam naik 17 persen atau mencapai US$ 778 miliar antara 2009 dan 2013. Dari jumlah tersebut, negara-negara anggota GCC menyumbang sekitar US$ 517 miliar, negara-negara ASEAN sebesar US$ 160 miliar dan Asia Selatan sebesar US$ 23 milyar. Sementara sisa negara lainnya (terutama Turki) sebesar US$ 78 miliar.
Meskipun laju pertumbuhan terlihat mengesankan, pangsa aset keuangan syariah masih sangat kecil jika dibandingkan dengan aset keuangan global (kurang dari 1 persen). Namun, pertumbuhan dua digit-nya mampu melampaui perbankan konvensional dan jangkauannya juga meningkat yang ditandai dengan penerbitan sukuk di Afrika, Asia Selatan dan Eropa.
Sayangnya, meski industri syariah mulai mendapatkan pijakannya, profitabilitas sejauh ini masih tertinggal dari perbankan konvensional. Rata-rata return on equity bank keuangan Islam antara 2009 dan 2013 adalah 11,9%, tertinggal dari bank konvensional yang mencapai return 14,5 persen.
Namun jika masalah peraturan, pengelolaan risiko likuiditas serta kompleksitas transaksi dan struktur perusahaan bisa diperbaiki, bukan tidak mungkin keuangan Islam akan tumbuh dalam beberapa tahun dan kesenjangan keuntungan dengan perbankan konvensional bisa dipersempit.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya