Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Risiko Kredit Gagal Bayar Bank Syariah Lebih Terkendali

Reporter : Ramdania
Jumat, 20 Juni 2014 13:31
Risiko Kredit Gagal Bayar Bank Syariah Lebih Terkendali
Bank syariah memiliko risiko gagal bayar dibanding bank konvensional. Pasalnya, sistem bagi hasil yang dianut ban syariah tidak akan membebankan nasabah di luar kemampuan bayarnya.

Dream - Bank Syariah mengklaim memiliki risiko gagal bayar lebih kecil dibandingkan bank konvensional. Pasalnya, bank syariah tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan nasabah.

" Risiko lebih rendah, jadi dengan sistem bagi hasil ini bisa meredam risiko karena orang tidak dipaksa membayar di luar kewajibannya, itu yang buat lebih baik," ujar Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah Acep Jayaprawira saat ditemui Dream.co.id di sela acara Milad BNI Syariah, Jakarta, Kamis 19 Juni 2014.

Menurut Acep, adanya pelaporan berbasis risiko seperti yang diterapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat meminimalisasikan gagal bayar tersebut. Hal ini terbukti pinjaman gagal bayar atau Non Performing Financing (NPF) bank syariah yang relatif kecil dibandingkan kredit macet (Non Performing Loan-NPL) bank konvensional.

" NPF di BNI Syariah ini hanya 1,81%, sementara bank konvensional rata-rata 2-3%, jadi risikonya dikelola dengan baik," ungkapnya.

Acep menambahkan cara mengelola pembiayaan ini di BNI Syariah melalui metode traffic light. Maksudnya, memilah pembiayaan sesuai dengan potensi risiko sebelum tutup buku.

" Jadi, sebelum tutup buku, kita lihat dulu mana yang berisiko, ada yang hijau, kuning, merah. Nah, yang masuk kriteria merah atau dengan risiko gagal bayar paling tinggi, kami ambil tindakan dulu, baik dengan memberitahu atau jemput bola, jadi dapat mengurangi realisasi risiko gagal bayar," jelasnya.

Selain itu, BNI Syariah, lanjut Acep, kebanyakan memberikan pembiayaan 60 persen untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan konsumtif untuk kartu kredit. Sementara, untuk produktif, kebanyakan peminjam hanya untuk usaha mikro dengan nilai pinjaman yang sangat kecil. Hal ini pula yang mengurangi risiko gagal bayar tersebut.

" Biasanya yang risiko gagal bayar besar itu kan pembiayaan produktif, tapi dengan pinjaman besar. Nah, di kita produktifnya itu mikro dengan pinjaman yang sangat kecil. Jadi, Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa dikelola dengan baik," tambahnya.

Menurut Acep, risiko terbesar dalam bisnis perbankan syariah justru risiko operasional yang terdiri dari Sumber Daya Manusia, sistem, dan standard operasional.

" Justru risiko kita itu di risiko operasional. Sekarang, kalau mau buka cabang, kita kesulitan mencari orang yang mengerti perbankan syariah. Ini yang justru menjadi risiko terbesar ke depannya dibanding gagal bayar tadi," pungkas Acep. (Ism)

Beri Komentar