Orang Pintar Juga Bisa Luput Melihat dan Memahami Hal Sepele, Ini Penjelasan Ilmiahnya
JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha
Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Ilustrasi
Dream - Bank Syariah mengklaim memiliki risiko gagal bayar lebih kecil dibandingkan bank konvensional. Pasalnya, bank syariah tidak akan membebankan kewajiban di luar kemampuan nasabah.
" Risiko lebih rendah, jadi dengan sistem bagi hasil ini bisa meredam risiko karena orang tidak dipaksa membayar di luar kewajibannya, itu yang buat lebih baik," ujar Direktur Risiko dan Kepatuhan BNI Syariah Acep Jayaprawira saat ditemui Dream.co.id di sela acara Milad BNI Syariah, Jakarta, Kamis 19 Juni 2014.
Menurut Acep, adanya pelaporan berbasis risiko seperti yang diterapkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dapat meminimalisasikan gagal bayar tersebut. Hal ini terbukti pinjaman gagal bayar atau Non Performing Financing (NPF) bank syariah yang relatif kecil dibandingkan kredit macet (Non Performing Loan-NPL) bank konvensional.
" NPF di BNI Syariah ini hanya 1,81%, sementara bank konvensional rata-rata 2-3%, jadi risikonya dikelola dengan baik," ungkapnya.
Acep menambahkan cara mengelola pembiayaan ini di BNI Syariah melalui metode traffic light. Maksudnya, memilah pembiayaan sesuai dengan potensi risiko sebelum tutup buku.
" Jadi, sebelum tutup buku, kita lihat dulu mana yang berisiko, ada yang hijau, kuning, merah. Nah, yang masuk kriteria merah atau dengan risiko gagal bayar paling tinggi, kami ambil tindakan dulu, baik dengan memberitahu atau jemput bola, jadi dapat mengurangi realisasi risiko gagal bayar," jelasnya.
Selain itu, BNI Syariah, lanjut Acep, kebanyakan memberikan pembiayaan 60 persen untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan konsumtif untuk kartu kredit. Sementara, untuk produktif, kebanyakan peminjam hanya untuk usaha mikro dengan nilai pinjaman yang sangat kecil. Hal ini pula yang mengurangi risiko gagal bayar tersebut.
" Biasanya yang risiko gagal bayar besar itu kan pembiayaan produktif, tapi dengan pinjaman besar. Nah, di kita produktifnya itu mikro dengan pinjaman yang sangat kecil. Jadi, Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa dikelola dengan baik," tambahnya.
Menurut Acep, risiko terbesar dalam bisnis perbankan syariah justru risiko operasional yang terdiri dari Sumber Daya Manusia, sistem, dan standard operasional.
" Justru risiko kita itu di risiko operasional. Sekarang, kalau mau buka cabang, kita kesulitan mencari orang yang mengerti perbankan syariah. Ini yang justru menjadi risiko terbesar ke depannya dibanding gagal bayar tadi," pungkas Acep. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

JK di NIU: Transisi Energi Hijau Tak Mudah, Butuh Koloborasi Pemerintah dan Dunia Usaha

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
