Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Studi Menunjukkan Orang Yang Berwajah "standar" Punya Gaji Yang Lebih Besar Daripada Orang Tampan. (Foto: Shutterstock)
Dream – Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa orang berparas menarik lebih mudah dapat pekerjaan dan bergaji lebih tinggi daripada mereka yang wajahnya 'pas-pasan'.
Tapi, ada pula studi yang menunjukkan sebaliknya. Studi baru yang dipublikasikan oleh Journal of Business and Psychology justru menemukan hal yang bertentangan dengan teori beauty premium.
Dikutip dari Liputan6.com, Senin 23 April 2018, penelitian-penelitian selama ini menunjukkan orang yang tampan atau cantik lebih percaya diri dan bisa bersosialisasi dengan lebih baik. Belum lagi mereka cenderung memiliki gaji yang lebih besar daripada orang yang berparas biasa.
Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Satoshi Kanazawa dari London School dari Economics and Political dan Mary Still dari University of Massachusetts justru menunjukan fakta yang berbeda. Kedua memperlihatkan teori ugliness penalty tidak sesederhana itu.
Keduanya menganalisis data dari 20 ribu pemuda Amerika Serikat dari hasil waancara dan mengukur daya tarik. Pemuda yang menjadi responden Mary dan Satoshi, berusia 16 tahun-29 tahun.
Salah satu penemuannya adalah kelompok partisipan yang dilabeli very unattractive (sangat tidak menarik) justru mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada mereka yang hanya unattractive (tidak menarik).
Begitu pula yang terjadi saat penghasilan very unattractive dibandingkan dengan kategori average looking (berparas rata-rata) dan attractive (menarik).
Metode dalam berbagai studi sebelumnya tidak pernah sungguh-sungguh mengklasifikasi kelompok orang-orang jelek. Ini karena very unattractive dan unattractive selalu dimasukkan ke dalam suatu kelompok.
Sumber: Liputan6.com/ Siska Amelie F. Deli
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya