Sampah Dibakar, Mikroplastik di Udara Mengintai
Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih
Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan
Terjaga Setelah Tengah Malam Bisa Mengubah Cara Otak Bekerja, Ini Penjelasan Ilmuwan
Apa Sebenarnya yang Memisahkan Satu Samudra dari Samudra Lain? Ternyata Tak Selalu Ada Garis Batas
Rontok 1,88%, IHSG Terkulai Lemas ke Level 6.031,28
Kenalan dengan 'Neon Moon II', Kapal Sampah dari Coldplay di Cisadane
Suara-Suara di DPR Soal Ijazah Gibran
CEO Dubai Tourism, Issam Kazim, Membeberkan Modal Uni Emirat Arab Dalam Membangun Dubai. (Foto: Dream.co.id/Mutia Nugraheni)
Dream - Saat tingkat toleransi di Tanah Air mulai menjadi pertanyaan, rasanya langsung kaget kala melihat sebuah tulisan " Year of Tolerance" yang begitu besar di tiap sudut kantor Dubai Tourism, di kawasan Dubai World Trade, Center.
Tulisan itulah yang dilihat Jurnalis Dream, Mutia Nugraheni kala bertandang ke Dubai, Uni Emirat Arab memenuhi undangan Dubai Tourism.
Ramainya ajakan hidup bertoleransi ini memang sedang digaungkan di seluruh Uni Emirat Arab (UAE) dalam tiap aspek.
Presiden Uni Emirat Arab, Sheikh Khalifa bin Zayed Al Nahyan, bahkan sempat mendeklarasikan 2019 ini sebagai tahun toleransi.
UAE rupanya menyadari perekonomian negaranya takkan lagi bisa mengandalkan minyak untuk bisa membangun negeri ini.
" Butuh industri lain dan sektor privat agar terjadi kesinambungan pembangunan. Kerja sama dengan masyarakat internasional membutuhkan toleransi yang begitu besar, ini juga jadi kunci utama kami membangun Dubai menjadi kota internasional seperti sekarang," kata CEO Dubai Tourism, Issam Kazim, ketika ditemui Dream dan beberapa media di kantornya, Senin 8 April 2019.
Bukti toleransi itu ditunjukan Kazim di kantor miliknya. Dia saat ini mempekerjakan para stafnya yang tak hanya berasal dari 1-2 negara, tetapi dari banyak negara. Keberagaman ini juga bisa dilihat dari sekolah.
“ Bahkan di sekolah anak saya di kelas tidak mungkin terdiri hanya anak Emirati (sebutan untuk masyarakat asli Emirat). Dalam kelas bisa terdiri dari 4 atau lebih warga negara. Semua bisa mendukung satu sama lain, berhubungan baik dan tak mungkin tanpa toleransi,” kata dia.
Toleransi juga jadi modal utama dalam membangun industri pariwisata Dubai yang saat ini sudah sangat mapan. Kedatangan turis mencapai 16 juta pada 2018.
Issam mengungkap pembangunan industri pariwisata didominasi modalnya berasal dari sektor privat. Pemerintah dan raja membuat kebijakan yang sangat ramah bagi pemodal sehingga semuanya berjalan dengan mudah.
" Untuk di Dubai sendiri hingga sekarang kami merasa ini bukan hanya usaha masyarakat Dubai, tapi juga dari banyak masyarakat negara lain yang menjadikan Dubai sebagai rumah mereka, tempat mereka mencari uang, lalu mengajak keluarga mereka dan hidup di sini, " kata dia.
Banyak yang penasaran mengapa Dubai bisa jadi kota modern seperti sekarang padahal sebelumnya hanya gurun pasir tandus. Toleransi ternyata jadi kuncinya.(Sah)
Advertisement

3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi

Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026

Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya


Rute Kereta Terpanjang yang Bisa Ditempuh dalam Sekali Jalan, Tembus 10.000 Kilometer Lebih

Punya Rumah atau Masih Menyewa, Ketahui Mana yang Lebih Memengaruhi Kebahagiaan