Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Bahu dan leher yang pegal sering dialami ketika kita harus fokus menyelesaikan pekerjaan selama berjam-jam. Untuk meredakan, biasanya kita melakukan peregangan dengan membunyikannya.
Seperti yang dilakukan Josh Hader, seorang pria asal Oklahoma, Amerika Serikat. Josh merasa sangat pegal kemudian meregangkan leher.
Menggunakan tangannya untuk memberikan sedikit tekanan, ia kemudian mendengar letupan keras dan langsung tahu ada yang tidak beres.
Setelah bunyi keras tersebut, Josh merasa ada yang tidak beres. Sisi kiri tubuhnya mati rasa. Josh langsung melihat kondisi wajahnya yang terkulai, ia kira ada masalah, ternyata tidak.
Beberapa saat kemudian ia ingin mengambil es, dan ternyata tidak bisa berjalan lurus. "Ketika saya berjalan ke dapur, saya berjalan hanya dengan sudut 45 derajat," kata pria 28 tahun ini, dikutip dari Oddity Central.
Pada saat ayah mertua Josh datang untuk mengantarnya ke rumah sakit, kondisinya telah memburuk. Ia tidak dapat berjalan sama sekali.
Pemeriksaan CT scan menunjukkan bahwa tidak ada perdarahan di otak, tetapi dokter mengkonfirmasi bahwa ia mengalami strok.

Josh dipindahkan ke Rumah Sakit Mercy untuk perawatan intensif selama beberapa hari. Ia lalu dipindahkan ke pusat rehabilitasi untuk belajar berjalan dan mengaktifkan bagian kiri tubuhnya.
Tak disangka insiden membunyikan leher tersebut berakibat fatal. Beruntung ia masih hidup, tetapi kesulitan mengendalikan lengan kirinya dan kurangnya sensasi di lengan dan kaki kanannya.
"Kondisi ini bisa saja membentuk lebih banyak gumpalan mengalami strok yang mematikan," kata dr. Vance McCollom, seorang dokter di Rumah Sakit Mercy, Oklahoma.
Robeknya arteri vertebrali pada tubuh Josh bisa mengakibatkan koma, keadaan vegetatif permanen atau bahkan kematian. Jadi, kondisinya yang lumpuh sementara dianggap tidak terlalu buruk.

Dokter mengatakan bahwa strok yang disebabkan oleh retak atau peregangan leher adalah sangat langka. Kasus ini juga pernah terjadi pada seorang perempuan inggris bernama Natalie Kuniciki.
Ia mengalami lumpuh sebagian setelah arteri nadi vertebra pecah ketika tanpa sadar meretakkan lehernya.
McCollom, yang merawat Hader, mengatakan bahwa ada cara yang benar dan cara yang salah untuk meregangkan leher. "Jika Anda ingin membunyikan leher, cukup lepaskan saja dari satu sisi ke sisi lain, jangan memuntirnya. Setiap kali memutarnya, ada risiko merobek pembuluh," katanya.
Advertisement

Gen Z, Milenial, Gen X, dan Baby Boomer Punya Standar Berbeda soal Keren, Mengapa Muncul Perbedaan?

Sama-Sama Kurang Tidur, tetapi Ada yang Tetap Segar dan Ada yang Lemas? Studi Ungkap Penyebabnya

Bagaimana Fosil Terbentuk? Proses Jutaan Tahun yang Mengawetkan Jejak Kehidupan Purba

Tidak Punya Saham, Mengapa Tetap Perlu Peduli Saat IHSG Anjlok?

Rajin Olahraga Sejak Kecil Bisa Bikin Tubuh Lebih Hemat Energi Saat Dewasa, Studi Ungkap Alasannya

Waspada! 4 Ciri Pesan Penipuan Online yang Sering Bikin Korban Panik dan Kehilangan Uang
