Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto : Shutterstock
Dream - Kehilangan kemampuan indera penciuman (anosmia) merupakan salah satu gejala seseorang terpapar virus Covid-19, Sars-CoV2. Sebagian besar pasien dapat memulihkan penciumannya seiring kesembuhan mereka dari penyakit tersebut, Namun ada juga sebagian yang lain masih mengalaminya meski sudah sembuh.
Bahkan dalam beberapa kasus, ada pasien yang sama kehilangan kemampuan indera penciuman secara permanen.
Seseorang yang mengalami anosmia tidak dapat sepenuhnya menghirup dan merasakan bau makanan. Masalah kesehatan ini terasa sepele namun cukup mengganggu.
Kabar buruknya, kehilangan penciuman bisa berdampak lebih dari sekadar ketidakmampuan mencium bau. Penderita anosmia praktis juga tidak peka rasa karena kedua indera saling berhubungan. Kondisi ini membuat nafsu makan penderita anosmia menurun dan secara psikologis bisa memicu frustasi.
Menurut ahli THT Raj Sindwani, MD, seseorang yang mengalami anosmia juga bisa kehilangan rasa aman. Misalnya, tidak mampu mencium bau-bau yang berkaitan dengan peristiwa kebakaran.
" Tanpa kemampuan untuk mencium, kita kehilangan kemampuan untuk mendeteksi bau berbahaya, seperti gas atau api dan asap," katanya, seperti dilansir Cleveland Clinic.
Meski begitu, kabar baiknya adalah angka kehilangan penciuman secara permanen sebetulnya sangat kecil. Sindwani menyebut salah satu penelitian soal pengujian kemampuan indera penciuman menemukan bahwa hanya 15 persen pasien Covid-19 yang mengalami masalah tersebut.
Para pasien atau penyintas ini kehilangan penciuman selama lebih dari 60 hari. Sementara kurang dari 5 persen yang mengalaminya selama lebih dari enam bulan. " Itu benar-benar (temuan yang) menghibur," ucapnya.
Mengetahui anosmia sejauh ini tidak permanen adalah hal yang menenangkan, kita diharapkan bisa mengetahui cara memulihkan indera penciuman agar berfungsi dengan normal. Dilansir dari Cleveland Clinic, berikut cara mengembalikan kemampuan indera penciuman yang hilang akibat covid-19.

Menurut Sindwani, hal pertama yang harus dilakukan adalah memeriksakannya ke penyedia layanan kesehatan. Jika anosmia juga disertai gejala lain, penting pula untuk melakukan pemeriksaan dan mengikuti protokol kesehatan yang berlaku.
Namun, jika kehilangan penciuman adalah satu-satunya gejala yang dirasakan, buatlah janji dengan dokter untuk mendapatkan saran pemulihan. Jika ada polip atau tumor, maka kamu memerlukan perawatan medis spesifik.
“ Jika (kehilangan penciuman) terkait Covid-19 atau terkait dengan infeksi virus lain, biasanya sembuh sendiri dalam beberapa minggu," katanya.

Kamu juga bisa melakukan latihan penciuman mandiri di rumah. Ini sangat aman dan tidak memiliki efek samping, tetapi cukup membantu mengatasi masalah kehilangan penciuman setelah mengalami infeksi virus.
" Ini memanfaatkan apa yang disebut prisma bau. Latihan ini menggunakan bau-bau utama untuk melatih kembali penciuman, mengandalkan ingatan dan pengalaman, untuk melatih saraf tersebut agar hidup kembali," ucapnya.
Beberapa bau primer yang bisa dimanfaatkan untuk melatih penciuman, seperti bunga (diwakili mawar), buah (diwakili lemon), aromatik (diwakili cengkeh atau lavender), dan resin (diwakili kayu putih). Cobalah mencium masing-masing bau dan hirup dalam-dalam aromanya selama 15-20 detik. Ketika menghirup aroma, cobalah mengingat seperti apa baunya dan seperti apa bentuk objeknya berdasarkan pengalamanmu.
" Secara mental Anda perlu membenamkan diri dalam pikiran, membayangkan mawar, misalnya bau dan bentuknya seperti apa," kata dia.
Ulangi langkah yang sama pada setiap objek sebanyak 2-3 kali dalam sehari. Dengan cara ini, diharapkan penciuman akan terus membaik dari waktu ke waktu dan dalam tiga atau enam bulan, bahkan satu tahun, penciuman diharapkan sudah kembali normal.
Menurutnya, masih diperlukan banyak penelitian untuk menjawab perawatan yang tepat untuk masalah anosmia, termasuk apakah benar konsumsi asam lemak omega-3 dan suplemen lain bisa membantu pemulihan.
(Sah, Sumber : clevelandclinic)
Selalu ingat #PesanIbu untuk selalu mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak untuk pencegahan virus COVID19. Jika tidak, kamu akan kehilangan orang-orang tersayang dalam waktu dekat.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya