Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Anak Sekolah Dasar (Foto: Shutterstock)
Dream - Ada kecenderungan orangtua, ingin anaknya mendapat pendidikan sedini mungkin. Mulai bermunculan sekolah khusus untuk bayi-bayi. Bahkan rasanya ingin secepat mungkin anak masuk di sekolah formal.
Tak jarang kita temui anak yang masih berusia 5,5 tahun sudah duduk di sekolah dasar (SD). Orangtua beranggapan anak sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, sehingga cukup layak untuk duduk di SD.
Padahal, pemerintah sudah menetapkan kalau usia yang direkomendasikan bagi anak yang masuk SD adalah 7 tahun. Hal ini bukan tanpa alasan. Dikutip dari Sahabat Keluarga Kemdikbud, pada usia 5-6 tahun, anak masih dalam tahap mengembangkan keterampilan sosial dan motorik atau gerak.
Untuk mulai belajar di kelas 1 SD anak harus sudah bisa serius mengikuti pelajaran dalam waktu yang cukup lama dan dalam ruang yang terbatas. Berikut ini beberapa alasan mengapa usia masuk SD ditetapkan 7 tahun minimal 6 tahun.
© shutterstock.com
Pada usia 7 tahun, anak dianggap paling siap secara fisik. Gerakan motorik anak sudah lebih bagus, otot dan sarafnya juga sudah terbentuk. Untuk memegang pensil misalnya, anak sudah lebih mampu jika harus menulis sendiri tanpa bantuan orang dewasa. Sementara usia kurang dari 6 tahun terkadang belum siap, karena anak-anak usia ini masih suka bermain dan tak bisa diam cukup lama untuk mengerjakan tugas dan belajar.
© shutterstock.com
Dalam teori perkembangan, anak mulai bisa berkonsentrasi dengan baik pada usia di atas 6 tahun. Semakin bertambah usianya, kemampuan konsentrasi meningkat, semakin mampu memilah materi mana yang harus diperhatikan dan yang harus diabaikan.
Rentang konsentrasi untuk usia sekolah biasanya sekitar 30-45 menit. Anak yang terlalu dini masuk SD umumnya masih bermasalah khususnya di kelas satu, akan sangat sulit untuk fokus dan berkonsentrasi.
Ia masih harus mengembangkan keterampilan geraknya. Kemampuan intelektualnya mungkin sudah cukup mampu menyelesaikan soal-soal yang disediakan tapi anak masih butuh banyak aktivitas fisik.
© shutterstock.com
Saat akan masuk ke SD anak diharapkan mampu membaca, menulis, berhitung sederhana. Selain itu anak juga diharapkan mampu mengikuti instruksi, paham dan bisa mengerjakan soal-soal yang diberikan.
Pada beberapa anak, di usia 6 tahun, kemampuan kognitif tersebut belum optimal. Saat diajarkan mereka akan sulit menyerap karena masih waktunya untuk bermain dan bereksplorasi dengan cara menyenangkan.
© shutterstock.com
Umumnya anak yang terlalu dini masuk SD memang cukup matang secara akademik. Sementara, kematangan emosi dan kemandiriannya belum maksimal. Padahal di jenjang SD anak tidak lagi akan mendapat perhatian seperti di TK.
Anak diharapkan lebih mandiri dan juga tidak lagi terlalu tergantung pada orangtuanya. Jadi, masalah yang akan terlihat adalah anak bisa mengikuti pelajaran di sekolah.
Lalu di sisi lain, misalnya anak masih minta ditunggui bunda atau tidak berani pipis sendiri di toilet umum sekolah atau mudah menyerah terhadap tugas yang diberikan atau tidak mau mengerjakan PR karena masih lebih suka bermain dan sebagainya.
Sumber: Kemdikbud
© shutterstock.com
Dream - Beberapa anak memiliki masalah emosi yang sering muncul setelah mereka pulang sekolah. Saat berada di sekolah, si kecil mengikuti semua aturan yang dan sangat menurut pada gurunya.
Sesampainya di rumah, berubah 180 derajat. Anak jadi sangat sulit diatur. Mengamuk, menangis, manja bahkan menangis tanpa henti. Apakah buah hati mengalaminya?
Tenang bunda, Anda tidak sendirian menghadapinya. Kondisi ini nyata dan bahkan memiliki nama ilmiah yaitu after school restraint collapse. Kondisi ini sering terjadi pada anak balita hingga anak yang sudah mulai bersekolah di sekolah dasar.
Hal tersebut bisa terjadi karena anak sudah sangat menahan emosi dan mengontrol sikapnya seharian, ketika berada di sekolah atau tempat penitipan anak. Saat mereka bertemu dengan orangtua atau pengasuhnya, maka emosi tersebut dikeluarkannya.
" Biasanya terjadi pada anak prasekolah hingga di bawah usia 12 tahun. Anak usia tersebut masih belajar mengontrol diri dan emosinya," ujar Dr. Jennifer Hartstein, seorang psikolog remaja dan keluarga.
Menurut Hartstein, kondisi tersebut juga sering terjadi pada awal tahun ajaran baru atau ketika mereka baru memulai jadwal baru. Anak belum terbiasa dengan rutinitas yang baru dan masih beradaptasi.
" Ketika anak-anak sudah mampu membangun ketahanan emosi dan mengelolanya dengan lebih efektif, perilaku ini cenderung menurun. Seiring berjalanannya waktu dan adaptasi rutinitas, sikap anak akan membaik," kata Hartstein seperti dikutip dari CafeMom.
Penting juga bagi orangtua memperhatikan sikap ini. Jika terjadi terus menerus dan semakin hari semakin parah, maka harus dicari penyebabnya. Bisa jadi anak mengalami masalah di sekolah dan melampiaskannya di rumah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?