Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© 2021 Shutterstock
Ada banyak alasan untuk terjaga di malam hari dan berakibat dengan minimnya jam tidur berkualitas. Mulai dari kerja lembur, insomnia, hingga stres tingkat tinggi.
Padahal, kebiasaan seperti itu sangat berakibat fatal bagi tubuh. Parahnya lagi, banyak yang meremehkan hal ini dan tetap meneruskan kebiasaan tidur kurang dari 7 jam.
Biasakan untuk tidur minimal 7 jam sehari agar terhindar dari risiko kesehatan yang mengintai berikut ini.

Risiko yang umum terjadi ketika minimnya jam tidur berkualitas adalah gangguan sistem imunitas. Padahal kekebalan tubuh ini sangat penting untuk melakukan mobilitas harian terutama di amsa pandemi ini.
Minimnya jam tidur akan menyebabkan kondisi tubuh rentan terserang penyakit. Kondisi ini diperparah dengan recovery yang juga memerlukan waktu lebih lama.

Jika tidur adalah aktivitas yang membuat tubuh rileks dan meredakan stres, maka kurang tidur akan menyebabkan hal sebaliknya. Meningkatnya kadar stres dalam tubuh nggak bakal bisa ditolak ketika tubuh kurang mendapat jam tidur berkualitas yang ideal.
Dampak dari stres ini pun beragam. Mulai dari mudah panik, daya ingat yang menurun, hingga sulit berkonsentrasi.

Saat begadang atau kurang tidur, tubuh secara otomais mengurangi pelepasan hormon leptin. Hormon ini sendiri memiliki peranan untuk menekan nafsu makan dan mendorong penggunaan energi.
Di sisi lain, kurang tidur juga menyebabkan tubuh melepas hormon ghrelin yang meningkatkan nafsu makan. Hal ini menyebabkan tubuh menjadi rentan obesitas.

Bukan cuma pola makan dan kurangnya berolahraga, diabetes tipe 2 juga mengintai mereka yang memiliki jam tidur minim. Hal ini disebabkan lantaran tubuh memiliki pengaturan glukosa dan metabolisme saat tidur. Sementara itu ketika tubuh kurang istrahat, proses pengaturan tersebut terhambat.
Nggak cuma itu, kurang tidur juga membuat peningkatan kortisol yang bisa menstimulasi sel lebih resisten terhadap insulin. Hal inilah yang menjadi tubuh rentan terjangkit diabetes tipe 2.
Nggak boleh disepelekan, tidur 7 jam sehari sangat diperlukan tubuh. Ada banyak cara dalam menstimulasi tubuh agar bisa memiliki jam tidur berkualitas, seperti menjauhkan gadget, mengawali jam tidur, dan masih banyak lagi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya