Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh
Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Anak-anak terutama balita sangat suka menunjukkan emosinya secara ekspresif. Saat berada di tempat umum yang belum pernah mereka datangi, seperti halte bus, supermarket atau bahkan rumah sakit, anak suka sekali berteriak.
Kadang teriakannya begitu kencang dan ia sambil berlarian ke sana ke mari. Hal ini tentu saja membuat orang-orang di sekitar tak nyaman. Anak pun cenderung sulit untuk dikendalikan.
Saat diminta untuk diam atau setidaknya lebih tenang, mereka lantas mengamuk. Wendela Whitcomb Marsh, seorang analis perilaku, mengungkap ada beberapa penyebab mengapa anak suka sekali berteriak.
Pertama, anak mengirimkan pesan bahwa ia tidak mampu menenangkan diri sendiri dan membutuhkan intervensi orang dewasa. Lalu bisa juga anak-anak meniru dan belajar dari mengamati perilaku orang lain atau orang dewasa di seita
" Ada empat langkah saat harus mengontrol sikap anak-anak yang tak terkendali di tempat umum yaitu empat S. Stop, Squat, Shhh, dan Sing," ujar Marsh.
Saat anak berteriak tak terkendali, orangtua harus " Stop" melakukan apapun dan fokus pada anak. Perhatikan, apakah anak lapar, mengantuk, kesal atau ada yang terasa sakit. Hal ini untuk mencari tahu penyebabnya.
Lalu lakukan " S" yang kedua yaitu squat yang berarti berjongkok dan mensejajarkan mata dengan mata anak. Cara ini membuat orangtua lebih fokus pada anak dan anak pun lebih bisa mendengarkan apa yang dikatakan orangtuanya.
" Setelah berjongkok lakukan 'SHH' dengan berbisik padanya. Katakan kalau hal yang dilakukannya tidak baik dan ia harus menurunkan level suaranya serta lebih tenang," kata Marsh.
Untuk " S" yang terakhir adalah singing, yaitu mengajak si kecil untuk bernyanyi bersama. Cari aktivitas yang juga menyibukkan dirinya agar ia sikapnya lebih terkendali.
Sumber: Fatherly
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Jarang Minum Air Putih Setelah Bangun Tidur? Ini 6 Dampaknya bagi Tubuh


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun