Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Selama ini gejala COVID-19 yang kita ketahui yakni demam, batuk dan sesak napas. Kini CDC (Centers for Disease Control and Prevention/ Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit) Amerika Serikat, telah menambahkan beberapa gejala baru Covid-19 yang harus diwaspadai.
Gejala tersebut yaitu menggigil, sakit otot, sakit kepala, sakit tenggorokan, gemetar berulan karena kedinginan dan tak bisa menghirup aroma dan merasakan makanan.
Enam gejala yang ditambahkan ini akan membantu tim medis mengidentifikasi lebih cepat, pasien-pasien yang dicurigai mengalami Covid-19. Dengan jumlah test kit yang terbatas, mereka yang ingin mengikuti tes biasanya harus menunjukkan gejala terlebih dahulu.
Beberapa pasien dengan COVID-19 mulai melaporkan kehilangan rasa atau penciuman pada bulan lalu, serta nyeri otot, kedinginan dan sakit kepala. CDC mengungkap bahwa gejala muncul dalam 2 hingga 14 hari setelah terpapar virus.
" Tanda-tanda peringatan darurat untuk COVID-19 termasuk kesulitan bernapas, rasa sakit yang terus-menerus atau tekanan di dada, bibir atau wajah kebiruan dan kebingungan atau ketidakmampuan untuk bangun. Orang dengan gejala ini harus segera mencari bantuan medis," tulis CDC.

Selain itu, CDC mengatakan mereka yang manula atau orang-orang dengan kondisi medis yang mendasari seperti penyakit jantung atau paru tampaknya berisiko lebih tinggi untuk mengembangkan komplikasi yang lebih serius dari COVID-19. Orang-orang ini harus mengambil tindakan pencegahan tambahan dan memantau gejalanya.
Gejala baru dapat ditambahkan ke daftar karena para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang COVID-19. Para pasien juga telah melaporkan kasus-kasus masalah pencernaan, seperti diare.

Ada juga laporan pasien yang dengan keluhan lesi (luka) ungu atau biru pada kaki mereka, paling sering pada anak-anak dan anak muda, yang disebut " COVID toes" . Ada juga laporan pasien yang mengalami mata merah atau pink eye.
Virus ini juga dapat memicu stroke pada orang dewasa sebagai akibat dari masalah pembekuan darah. Bahkan pada pasien tanpa riwayat medis sebelumnya dan hanya memiliki. Virus ini bisa tiba-tiba menjadi mematikan.
Laporan Cindy Azari/ Sumber: WebMD
Dream - Virus Corona Covid-19 kian lama semakin bermutasi, sehingga banyak gejala baru yang mungkin belum banyak disadari.
Jika pada awalnya virus ini menyebar di berbagai negara, umumnya hanya menunjukkan ciri-ciri berupa batuk, demam atau sesak napas saja, kini tidak lagi.

Penelitian dari Spanyol menyebutkan bahwa ciri-ciri orang terkena corona COVID-19 yang baru dapat mengalami masalah kulit seperti memar di kaki. Namun sayangnya belum semua tenaga medis dan masyarakat awam mengetahui gejala baru ini.
Untuk mengetahui lebih lanjut, Yuk simak paparan para ahli dari laman Metro yang akan membuat kita lebih mudah memahami gejala baru yang mungkin belum pernah kita kenali.

Menurut Dokter di Spanyol dan Italia, Lesi keunguan yang tampak seperti cacar air, campak pada jari kaki dan kaki bisa menjadi tanda virus corona. Lesi keunguan itu muncul dengan persisten atau terus menerus. Lesi muncul tanpa disertai gejala pernapasan yang umum dialami pasien positif Covid-19 lainnya.
Lesi merupakan jaringan yang telah rusak atau abnormal pada tubuh. Lesi umumnya muncul karena cedera atau sakit.
Pasien covid-19 di beberapa negara seperti, Spanyol, Italia, dan Perancis ditemukan gejala baru yang hampir sama yakni luka hitam di kulit. Kasus awal yang dilaporkan adalah seorang bocah lelaki berusia 13 tahun di Italia, yang sebelumnya dianggap gigitan laba-laba.
Dia pergi ke rumah sakit pada 8 Maret setelah luka di kulitnya bertambah parah. Dua hari kemudian ia mengalami gejala, demam, nyeri otot, sakit kepala dan gatal-gatal hebat serta rasa terbakar pada lesi kaki bocah itu.
Karena bencana global tengah menyelimuti Italia, ia tidak dites covid-19. Tetapi pada 29 Maret, lima minggu setelah kasus bocah itu,sekarang, satu dari lima pasien di rumah sakit Italia menunjukkan kondisi dermatologis yang sama.

Seorang ahli dermatologi anak di Bari, Mazzotta Troccoli, mengatakan, “ Jika diamati lebih lanjut, data laboratorium akan mengkonfirmasi bahwa kita telah menghadapi gejala COVID-19 yang terus berkembang. Biasanya Covid-19 memengaruhi paru-paru, menyebabkan batuk terus-menerus, masalah pernapasan, dan demam tinggi. Namun, ada juga laporan diare, nyeri testis dan hilangnya kemampuan penciuman sebagai gejala baru di samping temuan terbaru ini.”
Sementara, Dewan Umum Resmi Sekolah Tinggi Podiatris Spanyol yang turut menanggapi gejala baru ini mengatakan, “ Banyak kasus sedang diamati di berbagai negara: Italia, Prancis, Spanyol. Ini adalah temuan yang aneh,berita ini telah menyebar di kalangan dokter kulit dan ahli penyakit kaki" .
Dewan mengatakan bahwa gejala yang sama semakin terdeteksi pada pasien Covid-19, terutama anak-anak dan remaja, meskipun beberapa kasus juga telah terdeteksi di orang dewasa. Gejala baru itu adalah lesi berwarna ungu (sangat mirip dengan cacar air, campak atau chilblains) yang biasanya muncul di sekitar jari kaki dan biasanya sembuh tanpa meninggalkan bekas pada kulit.

Dewan Podiatris mengatakan bahwa gejala baru ini dapat menjadi modus penularan covid-19 terbaru tanpa mereka ketahui. Ia meminta masyakat untuk tidak meremehkan gejala klinis ini.
Dewan memperingatkan siapa pun yang ada memar di kakinya harus mengisolasi diri seperti yang di lakukan pada gejala covid-19 yang umum.
“ Ketika kasus ini terdeteksi pada orang tua atau kerabat, anda harus dikarantina di rumah, diisolasi, dan selalu mengontrol suhu badan setiap waktu,” ungkap Dewan.
Kebijakan ini untuk menghindarkan penularan oleh mereka yang terkena dampak kepada keluarga mereka. Namun, Ia tidak menganjurkan untuk periksa ke rumah sakit jika gejala yang muncul hanya penampakan lesi dermatologis ini. Hal tersebut karena belum adanya penelitian ilmiah untuk gejala baru itu. Dewan hanya meminta masyarakat untuk waspada karena ini mungkin merupakan tanda deteksi COVID-19 sehingga dapat membantu menghindari penularan.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli



Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya