Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Anak Mengamuk (Foto: Shutterstock)
Dream - Melempar barang, mainan, sambil menangis tanpa henti. Tak hanya itu, terdengar juga teriakan 'kakak sebal sama Bunda', 'Bunda jahat', 'Ayah pergi saja sana'. Keadaan ini mungkin pernah Anda dan pasangan hadapi saat harus berhadapan dengan si kecil yang sedang mengamuk.
Dalam kondisi ini kondisi emosi orangtua mudah terpancing. Ada kalanya anak mengamuk dan sangat sulit untuk dikontrol. Tapi membalasanya dengan teriakan, bentakan atau mungkin
cubitan malah hanya membuatnya trauma dan tak menyelesaikan masalah. Suasana pun jadi kian panas.
" Saat anak mengamuk, ternyata yang dibutuhkannya bukan respons yang juga keras. Tapi ia membutuhkan koneksi yang hangat, privat, berdua saja. Anak berarti butuh didengarkan,
dimengerti dan dibantu menurunkan level emosinya untuk kemudian diajak berdiskusi," kata Norah Corden, seorang psikolog anak, seperti dikutip dari Parents.
Kata-kata dan sikap kasar dari anak sebenarnya gambaran emosinya yang membuncah. Bisa karena sedih, frustasi, kesepian, gelisah, atau mungkin cemburu. Untuk itu, ia perlu diajarkan
mengelola emosi dengan baik, termasuk menyampaikan apa yang dirasakan dan diinginkannya.
" Kebanyakan orangtua memberi hukuman saat anak sedang mengamuk, menyuruhnya masuk ke kamar atau menaruh di kursi hukuman. Padahal justru di momen itulah orangtua harus
turun tangan mecontohkan pada anak menurunkan emosinya," ujar Corden.
Ketika anak mengamuk, coba merespons dengan tetap tenang. Jika ia ingin sendirian dan tak mau bersama Anda, biarkan selama beberapa menit, tapi katakan padanya kalau Anda selalu
ada untuknya dan akan menemaninya jika ia butuhkan. Apabila ia memukul, katakan Anda merasa sakit dan sedih, ungkapkan kalau Anda lebih suka dipeluk.
Saat sudah bisa berdua dengannya tak perlu terlalu banyak bicara. Cukup peluk erat dan usap punggungnya dengan hangat sampai emosinya mereda. Setelah itu, biarkan anak yang berbicara lebih dulu. Dengarkan dia baik-baik dan cobalah mengerti apa yang dirasakannya dan cari solusi bersama.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?